ZERO LUCK
Malam itu hujan mengguyur Pulau Serigala. Suasana hening mencekam kembali menyelubungi balaikota dan sekitarnya. Siang tadi manusia memang berhasil membunuh seekor werewolf yang beringas dan besar. Sebuah kemenangan yang cukup besar. Tapi semua orang tahu bahwa kemenangan itu akan dibalas dengan keji dan berlipat ganda.
Werewolf yang tersisa tidak merelakan begitu saja kematian serigala besar pemimpin mereka. Mereka memang tidak bertubuh besar dan seagung Big Bad Wolf, tapi mereka bisa sesadis dan sepintar Pemimpin mereka itu. Taring dan cakar mereka siapkan untuk perburuan. Saat malam datang, merekapun keluar bersamaan dengan lolongan panjang yang mengalahkan suara hujan.
Kawanan itu sudah tahu siapa buruan malam ini. Dia adalah orang yang berbahaya dan cukup tajam instingnya. Apabila dibiarkan hidup, dia akan membahayakan pertaruhan ini. Dia jugalah yang mengarahkan suara untuk membunuh Big Bad Wolf. Kawanan serigala itu menyelinap masuk bersama kegelapan, ke dalam kamar tidur WillyPermana.
Namun disana berdirilah WillyPermana. Tersenyum kecil, menghadap mereka semua, seakan sudah tahu takdir yang akan dilaluinya. “Halo semuanya, aku sudah menunggu kalian malam ini.”
“Hmph!” Werewolf yang tinggi kurus mendengus. “Sudah tidak sabar ingin mati rupanya.”
“Seperti perkiraanku.” Kata WillyPermana santai. “Keberuntungan yang begitu besar biasanya akan mendapat pembalasan yang setimpal. Mungkin sampai disini saja keberuntunganku dalam pertaruhan ini.”
Werewolf yang lebih pendek maju dan mendorong WillyPermana sangat keras hingga membentur dinding. Dia mencakar dan menggigit hingga tubuh WillyPermana penuh luka. Namun dengan semua serangan itu, lelaki itu tetap berdiri tegak dan tersenyum.
Kawanan Serigala itu kaget. Tapi tidak untuk waktu lama, karena akhirnya mereka pun tahu siapa WillyPermana.
“Vampire.” Desis Werewolf jangkung. “Kaum kalian yang sombong selalu saja ingin ikut campur dalam urusan orang lain! Sekarang kalian ingin mengacaukan pertaruhan kami!”
WillyPermana tersenyum. Semua lukanya tadi telah hilang dan dia berdiri seakan tidak terjadi apa-apa. Kawanan Werewolf itu tidak tahu bagaimana cara membunuh Vampire. Hanya Big Bad Wolf yang tahu dan mereka belum mempelajari hal itu darinya. Lagipula makhluk di depannya ini bukanlah Vampire rendahan hasil gigitan. Terasa dari aura dan baunya, dia adalah pureblood, seorang Alpha Vampire.
“Ada apa? Sudahan mainnya?” Ejek WillyPermana. Dia melambaikan tangannya dan kawanan serigala itupun terhempas ke berbagai arah. “AHAHAHAHA Kalian tahu bahwa kalian tidak sehebat pimpinan kalian! Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku!”
Tapi Werewolf jangkung tidak bodoh, dia berdiri dan memberikan kode pada kawanannya untuk menyerang WillyPermana bersamaan. WillyPermana yang masih dikuasai kesombongannya lupa dengan kata-katanya sendiri, keberuntungan yang begitu besar akan mendapat pembalasan yang setimpal. Dan malam ini keberuntungannya telah habis. Kawanan werewolf menyerbu tubuh WillyPermana besamaan dan menggigit-mencakar semua senti tubuhnya tanpa sisa. Mereka terus menyerang tanpa memberikan kesempatan tubuh itu untuk sembuh. WillyPermana yang kewalahan pun tercabik, termasuk jantungnya yang berwarna biru. Untuk melakukan serangan akhir, Werewolf Jangkung memakan habis jantung birunya, kejadian itu dia saksikan di tengah kesakitannya. “TIDAK! JANGAN MAKAN JANTUNG ITU, KALIAN MAKHLUK RENDAHAN....AAAARGH UAAAARGH!” dan sisa-sisa tubuh WillyPermana pun hilang menjadi debu.
Senang dengan hasil pembalasan malam ini, kawanan werewolf yang kelelahan itupun memutuskan untuk beristirahat. Cukup sudah perburuan untuk malam ini. Malam berikutnya mereka akan kembali berjaya. Pasti.
Sementara itu di sebuah rumah tidak jauh dari sana, Ichawashere sedang duduk termenung diatas tempat tidurnya. Dia melirik laci berisi satu kotak peluru perak dan mulai mengisi pistolnya dengan peluru-peluru tersebut. Sebuah diary terbuka di dekat bantal tidurnya.
Saat dia memilih rumah ini sebagai tempat berlindungnya, dia menemukan diary itu. Disana dia membaca bahwa ini adalah rumah Sybil, satu-satunya manusia yang selamat dari pertaruhan seribu tahun yang lalu. Disitu tertulis bahwa Sybil menyimpan pistol dan peluru perak untuk membunuh para werewolf. Ichawashere merasa sangat beruntung karena kini dialah satu-satunya orang yang memegang senjata yang mampu membunuh werewolf. Hasil pertaruhan ini belum jelas, tapi setidaknya dia memiliki senjatanya.
Ichawashere mungkin sudah siap dengan musuh yang berniat mengancamnya. Tapi tidak dengan Alfimutiara. Gadis pendiam dan penuh kecurigaan itu tidak seberuntung Ichawashere. Dia berlindung di sebuah bekas gudang. Mengapa dia memilih tempat itu karena dia merasa aman di dalam gedung yang dibentengi oleh pagar dan grendel besi. Dia berpikir bahwa werewolf akan kesulitan memasuki tempat perlindungannya. Namun dia tidak memperhitungkan lawan lainnya, seorang psikopat yang senang mengoleksi mayat dengan pisau kesayangannya.
Seperti saat dia membunuh semua korbannya, dia tidak kesulitan melewati pagar dan grendel karena dia punya cara tertentu untuk masuk ke dalam wilayah buruannya.
“Halo cantik.” Katanya lembut di telinga gadis itu. Alfimutiara yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya terjengkang kaget. Wajahnya begitu pucat dan panik.
“Bagaimana kamu bisa masuk?!” Serunya ketakutan.
“Sebenarnya, aku bosan mendengar pertanyaan itu. Semua korbanku selalu menanyakan hal itu. Hm...sayang sekali malam ini aku malas menjawabnya. Hujan selalu membuat aku sedikit malas, tahu...”
Lelaki itu melambaikan pisaunya, namun karena dia sedikit ogah-ogahan, Alfimutiara sempat melarikan diri keluar. Dia berusaha mencari bantuan, namun pagar dan grendel yang telah dia kunci ternyata masih tetap terkunci. Dan ditengah kepanikan, dia tidak mampu mencari kunci yang benar. “TOLONG!!! TOLONG AKUUUU!!!” Jeritnya. Namun suaranya lenyap tertelan derasnya air hujan dan kencangnya suara petir.
Serial Killer berjalan cepat di belakangnya. Dia tidak suka apabila buruannya melarikan diri. Hampir saja dia membiarkan hal itu terjadi. Karena itulah tanpa mengobrol lagi, dia langsung menggorok leher gadis itu. Menggoroknya terus sedikit demi sedikit, menyiksa gadis itu hingga kepalanya lepas dari badannya.
Orang itu lalu meninggalkannya begitu saja, dia malas melakukan aksinya lebih jauh karena hujan membuatnya sedikit mellow dan mengantuk. Akhirnya diapun membersihkan pisau kesayangannya dan melangkah pergi sambil menendang kepala Alfimutiara yang menggelinding ke dalam kubangan air hujan.





