Semburat Merah Jambu
Deratan buku itu terbaris rapi di rak kecoklatan didalam ruang kerjaku. Merah, Merah Jambu, Merah Muda, Abu-Abu dan Agenda yang kini ku punya, Hitam. Setiap warna disitu memiliki arti sendiri dan memberi warna dalam setiap perjalanan hidupku. Meskipun bukan penulis ulung tapi dari dulu aku gemar menulis. Menulis segala kejadian yang pernah kualami semasa hidupku. Hingga memori indah maupun pahit itu akan terus menjadi pelajaran bagi hidupku kelak.
Buku merah jambu yang kertasnya sudah kekuningan itu kuambil. Lembar demi lembar kubuka. Rasanya baru saja kemarin semuanya terjadi. Masa putih biru. Masa dimana seorang anak tumbuh menjadi seorang gadis. Masa dimana ada perasaan malu berbicara pada lawan jenis. Masa dimana jantung mulai berdebar ketika melihat sosoknya. Masa yang sama sekali tidak akan pernah bisa diulang. ***
Hujan masih mendera kota yang dulu disebut paris van java. Aku tidak peduli dengan hujan selama masih berada di taman bacaan. Taman bacaan adalah tempat yang membuatku lupa waktu, membawa imaginasiku mengawang bersama komik yang terpajang.
Seorang anak laki-laki masuk bersama dua orang lainnya. Dua orang itu kembar. Aku mengenal wajah anak kembar itu. Ya, orang yang masuk got kemarin. Hanya saja aku tidak bisa membedakan yang mana dia. Salah satu diantara keduanya kini tersenyum padaku. Ia menghampiriku. Kututup wajahku dengan komik. "hmm, yang kemaren itu, maaf ya. Ga sengaja." "oke, santailah." pandanganku masih fokus pada komik yang kupegang. Ia tersenyum lagi lalu sembari pergi ia menggumamkan sesuatu.
"mukanya fokus tapi komiknya kebalik"
Dari pipiku timbulah semburat merah jambu untuk yang pertama kalinya.
***
Fakta mungkin bisa dibolak balik oleh manusia, namun takdir untuk menyatukanku kembali dengannya hanya Tuhan yang mampu.















