Kita pernah berikhtiar semaksimal yang kita bisa, pernah begitu benar-benar mengharapkan apa yang selama ini kita pinta untuk jadi nyata, pernah begitu membayangkan bila nanti begini, hingga telah begitu mematangkan dan menjalani rencana yang kita buat sendiri. Sudah konsisten. Kita terlalu percaya bahwa usaha tak pernah mengkhianati hasil. Sesekali jumawa memastikan diri pasti berhasil. Namun nyatanya? Ada taqdir yang berkata lain, kita kalah, kita gagal. Sekelebat angan terbang ke awan, hilang. Disitu keikhlasan diuji, niat lurus yang justru harus sedari awal disadari agar tak muncul rasa kecewa dihati bak hilang ditelan bumi.
Kita pernah sangat amat menjadi baik, menolong seseorang sepenuh hati, meluangkan waktu disela-sela kesibukan yang sebenarnya terasa sangat menghimpit, mengorbankan tenaga yang habis diperjalanan menuju bertemu, mengorbankan pikiran yang sebenarnya masih rusuh karena urusan ini itu, bahkan terkadang sampai lupa makan untuk berupaya tepat waktu hanya untuk mendengar celotehnya saat ia butuh didengarkan, manjadi pundaknya saat ia butuh bersandar, jadi pembelanya kala ia merasa disalahkan, menenangkannya saat ia merasa gelisah, atau berusaha memberi bantuan untuk apapun yang ia butuhkan. Namun nyatanya, ternyata kita bukan menjadi prioritasnya, sangat bukan apa-apa baginya, dikala kita sudah mengorbankan hampir semua hal untuknya yang barangkali tak pernah ia sadari. Saat kita selalu berusaha bersedia kapan pun dan dimana pun ia butuh. Bahkan sewaktu-waktu dengan ringannya, ia selalu menolak ketika kita perlu sedikit bantuan darinya, diwaktu luangnya, disaat sebenarnya dia bisa saja melakukannya, kemudian tiba-tiba kita sakit hati. Disitu keikhlasan diuji, apakah pengorbanan berusaha memudahkan urusan orang lain kita selama ini benar-benar hanya untuk-Nya? Atau jangan-jangan hanya cari muka saja? Adakah kecewa dalam dada?
Kita pernah punya impian dan pilihan dari apa-apa yang sudah matang kita pertimbangkan. Kita berjuang semampu kemampuan. Kita belajar fokus mencapai-capai tangga-tangga kesuksesan yang kita bayangkan. Diperjalanan yang tenang, tiba-tiba muncul pandangan berlawanan, pandangan sinis, prasangka yang tidak manis. Kritik yang sesekali membuat kita jadi berpikir untuk tidak meneruskan jalan menuju impian. Kita berhenti, bahkan tiba-tiba tak sengaja jatuh dan tersungkur. Orang-orang hanya melihat sebelah mata, dibumbui dengan segala asumsi yang jauh dari nyata atau bahkan memilih untuk tidak melihatnya sama sekali, abai pada sebagian pencapaian orang lain yang sebenarnya perlu sesekali dihargai. Disitu keikhlasan diuji, untuk apa dan siapa sebenarnya impian kita selama ini? Siapakah yang benar-benar tahu proses yang sedang kita jalani selain diri dan Allah yang Maha Mengerti dan Mengetahui? Masih adakah ikhlas didalam hati? Pandangan siapa yang kamu cari?
Salah tiga contoh yang menggambarkan kala keikhlasan diuji, dengan sakit yang diterima bila tak ada ikhlas dalam hati. Menjadi duka saat niat baik tak terbalas dengan yang baik. Menjadi benci kala ingin tak sejalan dengan taqdir. Sudahkan kita memilih ikhlas dalam memaknai hidup? Agar tak lagi ada kecewa yang serupa.
Tulisan terakhir buat @xyouthgen yang alhamdulillah akhirnya tepaaat waktu u,u syenang alhamdulillah bersyukuuuur~ semoga berfaedah yaa. Terima dikasih coklat :P