Sebab Saya Ingin Menulis dan Melukis
Saya adalah seorang mahasiswa Desain Komunikasi Visual di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Ya, saya adalah seorang mahasiswa seni. Keputusam yang dianggap tolol oleh sebagian orang. Karena bagi mereka seseorang yang berkutat di ranah seni tidak akan sukses. Tidak punya pekerjaan. Atau alasan apa saja yang membuat saya dan mahasiswa lain yang kuliah di ranah seni dianggap remeh.
Bagi mereka seorang siswa yang baru lulus dari SMA harus masuk kejurusan yang bekerja kantoran. Dengan gaji yang besar dan stabil. Harus berpakaian rapih dan memiliki banyak perusahaan. Saya akan bilang tidak. Tidak ada yang salah banyak orang yang menyarankan untuk masuk ke jurusan yang sudah pasti gajinya. Sudah pasti kerjanya. Sudah pasti masuk kantor. Masuk jurusan ekonomi, kedokteran, psikologi, teknik, atau apa saja itu tidak salah. Tapi kadang saya berpikir. Kenapa semua orang masuk ke jurusan yang sama. Yang artinya suatu saat nanti akan keluar jutaan orang dengan profesi yang sama. Lalu bagaimana dengan ranah kerja lainnya? Seperti seni dan desain.
Bagi saya, sebagai manusia, saya harus terus berpikir dan berkarya. Bukan hanya sekedar bekerja. Bekerja itu penting memang. Dengan gaji yang besar dan pasti itu memang menyenangkan. Tapi apa membahagiakan? Tidak. Seseorang bilang kalau pekerjaan yang enak adalah hobi yang digaji. Menjadi diri sendiri dan tidak menjadi robotlah yang membahagiakan.
               Masalah pekerjaan di Indonesia bukan sekedar masalah berkurangnya lapangan kerja. Tapi tidak diciptakannya lapangan kerja. Tidak adanya orang yang inovatif. Yang ada hanya sarjana-sarjana yang lulus dengan ratusan bahkan ribuan orang yang memiliki gelar yang sama dengan dia. Sehingga dia tidak mendapatkan tempatnya. Masalah sesungguhnya adalah matinya kreatifitas.
               Kreatifitas tidak tercipta dari menghitung dan menghafal. Kreatifitas muncul dari proses-proses. Pengalaman, keinginan, dan sebagainya. Kreatifitas ada sejak manusia diciptakan. sehingga muncul karya-karya baru, ilmu-ilmu baru, dan hal yang lainnya. Yang tidak bukan adalah buah dari kreatifitas para pendahulu kita. Masalah kita sekarang adalah tidak dikembangkannya kreatifitas-kreatifitas para siswa atau mahasiswa. Sekolah lebih banyak menuntut seorang siswa menjadi robot. Mendidik dengan cara memaksakan kehendak. Sehingga banyak dari siswa menjadi kaku dan tidak kreatif.
               Henry Ford adalah seorang pemilik dari perusahaan otomotif, Ford. Seseorang yang mengindustrikan mobil. Ia bukanlah orang yang pertama kali membuat mobil. Ialah yang mengindustrikan mobil. Pada masanya mobil hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang beruang lebih. Para bangsawan. Sementara para rakyat biasanya menggunakan kuda. Pada saat itu dia berpikir untuk mengindustrikan mobil. Sehingga bisa dinikmati oleh siapa saja. Dan lihat, kita kini bisa menikmati mobil. Karena kreatifitas, inovasi dari seorang Henry Ford.
               Lalu apa kreatifitas dibentuk di sekolah? Jawabannya adalah tidak. Sekolah kebanyakan membentuk persepsi seorang siswa menjadi sama. Seperti mesin percetakan. Cetakannya selalu sama. Disalin dengan baik. Sehingga siswa menjadi tidak kreatif.
               Bagi saya ada dua hal yang bisa membangkitkan kreatifitas. Yaitu menulis dan melukis.
               Dalam menulis kita harus terus bisa berpikir kreatif agar ide kita terlihat lebih berbeda dari yang lain. Menulis melatih ketajaman otak kita dalam merasakan sesuatu. Lebih kritis dalam menanggapi sesuatu. Menulis bisa membentuk manusia. Karena dalam menulis, kita harus bisa berpikir lebih liar daripada para sekretaris-sekretaris kantor yang hanya menulis surat atau memuaskan bosnya. Otak kita dibentuk. Maka dari itu saya menulis. Lagi pula tidak ada penulis yang tidak terkenal. Kecuali memang karyanya tidak bisa membuatnya terkenal.
               Saya memulai menulis sejak saya memasuki kelas 1 SMA, waktu itu saya diangkat menjadi seorang penata letak dari sebuah majalah. Dari situ saya bergaul dengan orang-orang dalam ranah jurnalistik. Mereka-mereka yang pandai menulis. Mereka-mereka yang berpikir kritis. Dari situ selain menata letak, saya juga mulai membaca tulisan mereka dan mencoba mulai menulis. Sedikit demi sedikit. Kebiasaan itu berlanjut sampai saya memasuki kelas 2 SMA. Di kelas 2 SMA ini saya mulai mengenal M Aan Mansyur dari seorang kakak kelas bernama Anwar Ismail. Tulisannya membuat saya jatuh cinta pada menulis. Saat itu saya mulai membaca cara dia menulis. Tulisannya benar-benar melibatkan seluruh perasaannya. Tulisannya saya baca di jurnal yang dia ketik di komputer kantor. Saya mengikutinya dengan membuat jurnal saya sendiri di komputer atau di laptop teman. Di mana saja yang penting tulisan itu berlanjut.
               M Aan Mansyur adalah seorang penulis yang memotivasi saya terus menulis. Tulisannya bagi saya begitu jujur. Kebenciannya, amarah, dan imajinasinya yang membuat saya semakin menyukai menulis. Saya juga mencoba menulis puisi. Awalnya puisi-puisi itu masih susunan kata tanpa makna. Dan terkesan memaksa. Namun saya mencoba untuk menyelipkan makna-makna dalam puisi yang saya tulis. Dalam hal ini beberapa penyair saya jadikan rujukan. Seperti M Aan Mansyur, Sapardi Djoko Damono, dan Joko Pinurbo. Saya juga mulai mencari buku-buku lain yang membantu saya untuk berpikir lebih kritis dalam berkarya. Buku-buku karya Eka Kurniawan, Fahd Pahdepie, dan Bernard Barubara kadang saya jadikan rujukan dalam tulisan saya. Januari lalu saya juga mencoba menulis dengan konsep yang hampir sama dengan buku Perjalanan Rasa milik Fahd Pahdepie.
               Selain menulis saya juga menyukai seni. Seni juga yang membentuk kreatifitas. Hampir sama seperti menulis. Melukis menuntut kepekaan kita terhadap unsur estetis di sekitar kita. Kita harus mampu mencari hal-hal yang kadang orangpun tidak sempat memikirkannya karena kesibukannya dengan kehidupan hitam-putihnya. Dosen saya pernah berkata kalau ranah seni adalah ranah abu-abu. Boleh jadi hitam, boleh jadi juga akan jadi putih. Namun seni adalah ketidakpastian. Karena kadang suatu karya seni di nilai berbeda oleh tiap orang. Dalam dunia seni, para seniman selalu berpikir untuk berbeda dengan yang lainnya. Sehingga banyak muncul berbagai macam aliran seni di dunia seiring perkembangannya.
               Saya sendiri menyukai karya-karya surealis. Seperti karya Roby Dwi Antono, Wickana Kanya Dewi, dan beberapa seniman lainnya.
               Berkutat di ranah seni sudah saya lakukan jauh sebelum saya menulis. Awalnya saya menyukai menggambar. Menggambar apa saja. Kemudian mulai mengenal graffiti. Saya aktif membuat graffiti. Meski hanya di kertas, namun saya tetap menyukainya. Saya juga mulai membuat kolase, kadang menggambar surealis. Ya, apa saja.
               Sekarang saya mencoba mengembangkan dua hal ini. Menulis dan melukis. Saya ingin dapat melukiskan karya-karya saya. Keinginan saya saat ini adalah mengvisualkan puisi atau cerita-cerita yang saya buat dan disebar ke semua orang. Saya ingin lebih banyak berbagi pengalaman saya lewat tulisan dan lukisan. Lewat dunia tulisan dan kesenian.
               jadi mulai sekarang, cobalah untuk mengembangkan kreatifitas yang kalian miliki. Lupakan soal persepsi yang mesti sama. Sedikit lebih beda jauh lebih baik dari pada sedikit lebih baik. Tapi menjadi lebih baik dan lebih beda adalah suatu hal yang baik.









