bintang jatuh ke tempat sampah
hijau, oranye, biru, dan warna yang sudah
terserak di antara sisa-sisa makanan,
tisu orang-orang semalam,
atau bangkai yang bergeletakan
dimakan ulat-ulat perlahan
harapan yang berantakan
art blog(derogatory)
I'd rather be in outer space 🛸
🩵 avery cochrane 🩵
h
todays bird

Andulka
RMH
tumblr dot com
Xuebing Du
KIROKAZE
Fai_Ryy

untitled
NASA
🪼
official daine visual archive

titsay

tannertan36

seen from United States
seen from TĂĽrkiye

seen from China
seen from Ecuador
seen from Mexico

seen from Philippines
seen from Brazil
seen from Malaysia
seen from Philippines
seen from Morocco
seen from Philippines

seen from United States

seen from Bangladesh

seen from TĂĽrkiye
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States
@10bulanmatahari
bintang jatuh ke tempat sampah
hijau, oranye, biru, dan warna yang sudah
terserak di antara sisa-sisa makanan,
tisu orang-orang semalam,
atau bangkai yang bergeletakan
dimakan ulat-ulat perlahan
harapan yang berantakan

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
mendengarkan lagu-lagu kikuk yang terulang,
di antara jemari yang mencengkram jemari yang lain menggenggam,
di antara yang di antara berjarak di antara,
canggung dan bingung, dari mana kata bermula,
sebuah hai atau hal-hal lain yang tidak lagi seru,
dan di sana letak hal-hal bingung yang hinggap,
apa yang kau anggap retak bergelimang dimana.
seseorang yang belum pulang.
jam terhenti di jalanan kayutangan
jalanan yang bisu, diam, dan belum banyak bicara
jalanan yang seolah kehabisan baterai jam.
lalu lalang, riuh, penuh sekali
mobil, angkutan umum, orang-orang,
dan hal-hal yang diam di sekitarnya.
aku belum pulang.
diam mematung aku, menundukÂ
sesekali kutengok kanan,Â
jalan tempatmu datang.
jam berapa sekarang?
sudah, pulangkah, kau?
26 tahun, mungkin lebih,
aku belum pulang.
kota ini malang nian,
terputus harapan yang kuharapkan,
satu pelukan atas penantian
yang entah sampai kapan,
aku harap kau pulang.
ketelusuri lagi waktu yang terhenti
saat kita terjatuh berdua
dalam satu ruang-waktu yang ini.
kutemui kau di sini, di persimpangan
di depan rumah yang kita bangun
di atas semua harap yang jatuh
di atas semua janji yang utuh
akan pulang kah kau?
aku belum pulang.
kutemui kau di sini setiap hari,
di waktu-waktu yang kuingat hanya
kutemui kau setiap hari.
sebab pantang hati berburu liang,
ruang hati lain yang lapang.
10 Bulan Matahari
10 bulan matahari
9 jalan menuju mati
8 tahun menjelma waktu
7 hari kematiannya
6 jam sebelum waktu beranjak
5 lalu menuju
4 ke arah yang itu
3 detik sedikit lagi
2 habis sekian kali
1 kau sendiri
mungkin sedikit lebih lama, tapi tidak apa-apa.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
aku adalah bahasa asing yang tidak kau pahami.
bicara dengan bahasa basi yang baku.
bicara dengan bahasa sederhana yang rumit.
bicara dengan "kkaiiiirhhs" yang mudah kau terjemahkan.
bicara dengan araus gnay usib.
-... .. -.-. .- .-. .-
01100010 01101001 01100011 01100001 01110010 01100001 00100000 01100100 01100101 01101110 01100111 01100001 01101110 00100000 01101011 01101111 01100100 01100101 00101101 01101011 01101111 01100100 01100101 00100000 01110010 01110101 01101101 01101001 01110100 00100000 01111001Â 01100001 01101110 01100111 00100000 01101101 01100101 01101101 01100010 01101001 01101110 01100111 01110101 01101110 01100111 01101011 01100001 01101110
bcr dngn bhs tnp hrf vkl.
aku adalah bahasa sederhana yang rumit bagimu.
her.
she was the oneÂ
who can make meÂ
feel and fall,Â
drink and drunk,Â
to think and thank.
she was the oneÂ
the place where iÂ
fall and feelÂ
in love
she was the one,Â
someone who iÂ
believe and leaving meÂ
and she was the one,Â
i've dreamt for
bandung, 2017
Sajak Sebelum Kau Tidur
Puisi ini ditulis beberapa hari di akhir 2017, waktu itu sadar kalau dia sudah punya kekasih lagi, semacam pelampiasan terakhir sebelum akhirnya mencoba meyakinkan diri kalau semua tidak apa. Kadang apa yang dipendam harus dilampiaskan. Bukan untuk mencari perhatian, hanya untuk membuang apa yang tidak sebaiknya disimpan. Puisi ini ditulis sebelum tidur selama beberapa hari. Baru ditemukan kembali waktu membuka file cadangan di handphone lama. Semoga bisa dinikmati.
semua hal menyebalkan,
anjing!
semua hal menyebalkan,
semua hal keterlaluan,
semua hal ketidak yakinan,
semua anjing-anjing gelandangan,
semua anjing yang kelaparan,
anjing! semua anjing.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
ceritakan saja apa yang menjadi aroma kesukaanmu. coklat, strawberry, teh, kopi, atau aroma senyumku di pagi saat kau betul-betul merindukanku. sebelum sampai situ. barangkali boleh kau mampir sejenak ke hatiku. main lompat tali lalu tertawa bersenda gurau bersama. sebelum akhirnya kita memutuskan pulang ke hati masing-masing. lalu besok kita bertemu lagi dalam kerinduan yang purna.
Kalimat-Kalimat Di Jendela
Hendak bicara apalagi Sari pada dunia yang aduhai sudah kepalang kurang ajar ini. Pertumbuhan kota yang semakin pesat. Penggusuran lahan desa yang tergolong cepat. Kampus-kampus yang memakan lahap lahan warga tanpa mempertimbangkan apa-apa. Atau mal-mal besar yang doyan makan ruas jalanan. Ah, Sari bingung dan lelah betul menghadapi hal-hal semacam itu.
Ketidakpastian Adalah Kepastian
Ada yang datang dan juga pergi, barangkali pertemuan dan perpisahan telah menjadi hal klise dan biasa saja. ia jadi tidak penting-penting amat buat saya. Karena adalah keniscayaan kita bakal bertemu dan berpisah. Mau mulai peduli atau tidak, sejujurnya, hidup Cuma kumpulan perpisahan dan pertemuan. Yang barangkali menyisakan dendam dan air mata yang berlinang. (Agak ragu sebetulnya mau nulis kalimat barusan, apalagi, tentu bakal banyak yang tentang. Tapi ya, sudahlah, ya, hidup itu kompleks, kamu bisa begini, sebelahmu bisa begitu.)
Bagi saya sendiri, entah mulai dari kapan, mempercayai hal-hal semacam itu. Karena kini dalam pikiran saya sendiri, ada satu hal yang berputar dan terus berbiak. Meskipun ungkapan ini terdengar klise dan biasa saja, tapi bagi saya itu sangat tepat. Ungkapan yang entah diucap dari lisan pepatah mana, yang jelas, semua orang bisa jadi orang tersebut.
Katanya, “Hidup itu cuma soal mengikhlaskan.” Sedikit banyak percaya pada kalimat ini. Ya, tentu selain karena itu perintah agama, secara logika juga masuk di akal. Kalau kamu Cuma hidup buat satu hal, mungkin kamu tidak bakal ketemu sama hal-hal lain. Karena sepertinya memang begitu cara kerjanya. Untuk mendapatkan yang baru, kamu mesti ikhlas melepas yang lama. Ya, minimal ikhlas kalau dia agak sedikit jauh. Sedekat apapun kalian dulu.
Sayapun begitu, dan sepertinya, mungkin saya sudah lebih siap untuk menghadapi hal-hal semacam ini. Sedih itu pasti, tapi terlarut adalah mustahil. Perpisahan dan pertemuan, kata Arman Dhani, Cuma hal klise, picisan, macam jatuh cinta. (Ya, saya balik saja ungkapannya, kalimat aslinya, seperti ini, “Jatuh cinta itu picisan, klise, seperti ucapan bahwa setiap pertemuan melahirkan perpisahannya sendiri. Tapi, demi meluruskan apa yang saya pikirkan, lebih baik di balik, karena tentu artinya akan sama saja.)
Perpisahan adalah satu kemestian, jadi ya biasa sajalah berhadapan dengan perpisahan. Karena selain sudah berlalu, kamu juga harusnya maju.
Selanjutnya, ditemani alunan lagu Fly Me to The Moon, dan keriuhan orang-orang yang bermain Mobile Lagend. Saya terpikir hal lain soal perpisahan. Sebuah ketakutan juga sebetulnya. Saya yang tidak terlalu ambil peduli soal pertemuan dan perpisahan ini. Dengan sedikit teman yang saya punya. Dengan tidak adanya sahabat yang saya punya. Juga pasangan yang saya sedang ta punya.
Muncul satu pertanyaan dalam diri saya: apabila esok saya undur diri dari dunia, apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekitar saya, apakah mereka akan ambil peduli atau bahkan malah pura-pura peduli.
Sebetulnya, terdengar dramatis, dan seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Barangkali itulah yang saya dapatkan ketika bertanya pada kawan-kawan saya. Salah satunya menjawab seperti itu. Yang lainnya menenangkan. Satu lagi menjawab biasa saja.
Di antara semua pertanyaan, ada satu pertanyaan yang sejujurnya menyita perhatian saya. Ya mungkin hidup saya penuh drama. Tapi seperti kata Plato kalau tidak salah, bahwa yang nyata yang di atas sana, kita tidaklah nyata. Dan, ya, drama tidak melulu soal semacam itu. Ia lebih luas lagi tentunya. Saya lebih percaya kalau semua manusia adalah pemain drama paling baik. Ya, seberapa banyak orang yang tidak kamu ketahui aslinya ketimbang wajah lainnya.
Terlebih saya yakin, kalau yang kita lakukan, atau kamu lakukan adalah agar kamu bisa terlihat dan diterima di masyarakat. Jadi saya pikir, kalau kamu bilang hidup saya penuh drama. Saya pikir, betul juga salah. Hidup memang drama. Kita bermain di sini, melakoni lakon yang di perintah tuhan pada kita. Jadi penyairkah, tukang gambar, tukang ketik pemerintah, babu pemerintah, penjejal ilmu, penjual otak, atau apa sajalah. Semua bermain sesuai lakonnya. Lagi pula bertanya hal-hal semacam ini bukanlah drama. Dan ya, kalau kamu pelajari juga, drama biasa digunakan juga oleh publik figur. Artinya sudah lumrah kita berdrama.
Dan soal kehilangan harapan hidup, ya saya ngga begitu-begitu amat.
Oh, iya, kalau kamu jawab orang yang putus asa dengan, “harusnya kalau ngga punya semangat hidup, ya cari cara dong biar bisa semangat lagi.” Alamak! Kamu kurang peduli orang lain rupanya. Haha.
Satu hal yang mesti kamu tahu, kalau semua manusia punya banyak masalahnya masing-masing. Bilang hal semacam itu menurut saya, ngga ada pengaruh apa-apa. Kamu sama saja menjejalkan dan menyalahkan kehidupannya. Kenapa? Begini, sebetulnya saya pikir ini lebih ke efek secara psikologis. Seolah ia salah karena kehilangan semangat hidup, dan mesti mencari kebenarannya. Begitulah.
Tapi ya sudah, jangan terlalu ambil pusing, hidup ini kompleks. Hidup ini seimbang pula, ada perbandingan untuk satu hal lainnya. Kalau kamu hidup, pasti ada yang mati. Kalau kamu makan pasti ada yang ngga. Kalau kamu benar, tentu ada juga yang menganggapmu salah. Ya persepsi sajalah.
Kembali ke obrolan awalnya. Saya sebetulnya berpikir begitu (karena mungkin memang saya terlalu banyak mikir.) Lalu, saya menemukan satu hal yang tiba-tiba saya inginkan, hehe. Ada dua buah lagu yang terpikir waktu itu, dan karena kebetulan sedang dengar lagu itu juga. Lagu-lagu itu adalah bawaan Banda Neira di album terakhirnya. Judulnya Sampai Jadi Debu dan Di Beranda. Lagu-lagu itu saya teramat suka. Selain karena liriknya yang sadis, alunan nadanya yang aduhai, saya menyukai lagu ini karena, lagu ini adalah kejujuran bagi saya.
Selamanya…
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
Kurang lebih begitu petikan lirik dari Sampai Jadi Debu. Sedikit cerita, Ananda Badudu bilang dalam konser Gardika Gigih, kalau lagu ini terinspirasi oleh kisah cinta Oma dan Opanya. Di mana sang Oma tetap setia menjaga Opa Ananda. Dan bagi Ananda dan saya, itu hal paling romantis. Bukan macam anak sekarang, mungkin pegangan tangan, unggah foto berdua di Instagram, atau hal-hal basi dan klise lainnya. Bagi saya, hal paling romantis adalah ketika kamu tulus melakukan sesuatu buat orang lain.
Dan itulah pelajaran yang saya dapatkan, kita harus tulus mencintai orang lain. Dengan ketulusan yang tanpa kita sadari ia tumbuh. Karena ketika kamu sadar kamu sudah tulus, mungkin cintamu ada yang perlu diperbaiki. Ketulusan lahir dari cinta yang penuh yang tidak kamu sadari.
Saya, punya satu keinginan sebelum kematian saya. Lagu itu, mesti dinyanyikan oleh orang yang tulus mencintai saya. Bukan sekadar kata, tapi seperti makna tulus menurut saya. Lagu ini sungguh saya sangat ingin dinyanyikan atau nyanyi bersama dengan orang itu. Karena lirik dalam lagu ini, jujur, adalah sebuah ketulusan yang sungguh. Saya menyukai tiap petikan bait-baitnya. (Ah, tiba-tiba saya ingat betul, Ananda menangis membawakan lagu ini.) lagu ini betul sangat tulus, saya yakin itu.
Selain bait di atas, ada bait lain favorit saya, begini, Tiap taufan menyerang, kau di sampingku, ku aman ada bersamamu. Kalimat itu purna. Keinginan dan ketulusan yang amat sangat. Saya, sungguh ingin menyanyikan bait tersebut. Jangan tanyakan alasannya, karena bagi saya, ia sempurna.
Lain kisah dengan lagu Di Beranda, lagu ini mungkin berkisah dan lebih cocok dinyanyikan oleh orangtua untuk anaknya. Tentang kemestian kedua orangtua untuk tetap tenang meski anak mereka ada jauh di sana. Isinya juga tentang kerinduan yang teramat. Tapi meski rindu itu menggebu, sabar adalah hal yang mesti tetap dilakukan. Rindu dan kesabaran yang digabungkan selalu menciptakan hal-hal besar. Semacam ledakan yang teramat ketika nantinya bertemu.
Rumus itu kamu mesti gunakan juga kalau kamu menjalani LDR. Selain saling percaya, sabar dan merindu adalah keharusan yang mesti kamu tunaikan selalu.
Lagu ini, saya ingin nyanyikan pada istri saya nanti—siapapun itu, ketika ia rindu pada anak kami. Saya ingin ia tetap tenang dalam naungan kesabaran dan kepercayaan pada anaknya. Dan untuk para anak, sebaiknya kamu sadar, di rumah, ada yang sabar menunggu kepulanganmu. Ia yang setia mengecek kamarmu yang rapi. Mencari ribut suaramu yang enggan disuruh beli kecap ke warung depan komplek. Ia yang menunggu telponmu setiap hari, setiap waktu.
Ia yang menanyakan kabarmu pada ibu. Ia yang menenangkan ayah ketika rindu.
Terakhir, ini semacam kesimpulan atas semua hal yang saya bicarakan di atas. Saya hanya ingin bicara. Kalau kita tidak mesti takut kehilangan dan perpisahan, hal itu pasti terjadi. Sebelum ia pergi, cobalah untuk lebih peduli. Meski tidak perlu kamu tampakkan, minimal jangan mencampakkan. Dan ketika perpisahan belum juga terjadi, mungkin adalah saatnya kamu mesti lebih tulus lagi. Sabar menghadapi kenyataan-kenyataan yang terjadi. Dan sadarlah, banyak hal yang akan terjadi.
Curhat
seusai mengalami banyak peristiwa yang hadir silih berganti. juga beban pikiran yang kian lama kian mendaki. selayaknya dan sewajarnya saya menulis kegelisahan saya, sekadar untuk setidaknya lebih menenangkan pikiran saya. dari hiruk-pikuk kesibukan pikiran saya yang aduhai rumit. ada banyak hal yang mesti diselesaikan dalam tempo yang singkat dan betul-betul padat. akibatnya sempat rehat sehari penuh rabu kemarin. tidak melakukan apapun rabu kemarin. mengistirahatkan pikiran dari kemelut pertanggungjawaban yang belum bisa penuh saya selesaikan.
menjadi banyak orang di banyak organisasi dan kegiatan setidaknya membuat saya mengerti kalau sebetulnya ini yang akan saya hadapi. pembagian waktu yang benar dan ketaatan pada perkataan menjadi salah satu faktor paling mendukung dalam usaha saya. dalam kehidupan, selayaknya kita memperhatikan dua faktor tersebut. saya menarik kesimpulan tersebut dari hal-hal yang sebetulnya sepele dan terjadi dalam beberapa bulan ke belakang. seusai saya berkonflik dengan mantan kekasih saya. dan usai saya banyak kehilangan pertemanan karena kesalahan saya. saya sadar betul apa arti dari pertanggungjawaban. dan salah satu atau dua hal itu adalah ketaatan pada perkataan yang kita ucapkan.
hal yang tentu sangat mempengaruhi saya dalam pikiran tersebut adalah tentu konflik saya dengan mantan kekasih saya. karena perkataan yang sama-sama tidak kita tunaikan, berakibat pada banyak hal. meski ya pada akhirnya saya muak berurusan dengan hal tersebut. hehe. tapi setidaknya saya banyak belajar dari hal-hal tersebut. begitu singkatnya. sekian.
#daripadadilemari : Curriculum Vitae - Benny Arnas.
Novel ini mendapatkan penghargaan Pemenang Unggulan pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun lalu. Tapi memang bukan itu yang menarik saya untuk menyelami karya ini. Ini adala buku Benny Arnas yang kedua yang saya baca. Yang pertama adalah “Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu”, yang kemarin sempat diulas oleh kawan saya @hanamaulida. Impresi saya terhadap karya Benny Arnas yang pertama membawa saya untuk menjajal buku ini. Ternyata ia agak berbeda dengan buku sebelumnya, meskipun ada beberapa cerita yang serupa, dengan gaya penceritaan yang berbeda. Agak lebih sulit bagi saya (pada awalnya) untuk menyenangi buku ini seperti saya menyenangi buku Benny Arnas yang saya sebutkan sebelumnya. Mungkin memang kemampuan sastra saya yang masih jauh dari mapan untuk memahaminya. Tapi begitu saya memasuki lembar-lembar akhir dan sampai di halaman penghujung, saya bisa lebih memaknai dan menghargai karya yang baik ini.Â
Secara bebas, penulis hanya mencantumkan 4 bagian di daftar ini. Yaitu Identitas, Lingkungan, Ujian, dan Surga. Padahal di dalamnya ada puluhan cerita-cerita yang saling terkait (atau malah tidak?). Menelusuri ceritanya sedikit demi sedikit seperti menyelami diri kita sendiri dan apa yang kita alami sehari-hari dengan pembawaan cerita yang agak tidak biasa. Setiap tulisan terkadang hanya seperti lintasan-lintasan pikiran, yang tidak menceritakan apa-apa, tanpa ada subyek yang jelas dan ditujukan kepada siapa, tapi secara misterius saya sepakati.Â
Seperti tulisan “Berpisah” dalam bagian Identitas.
Kita rupanya harus memercayai kalau keakraban yang instan takkan langgeng dan oleh karena itu kita pun sepakat untuk berpisah entah untuk beberapa lama. Kita berharap Tuhan akan mempertemukan kita dalam keadaan yang lebih baik dan kedekatan yang tak buru-buru. Akan lebih baik kalau Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan sama-sama kosong. Aku pikir kau juga akan mengaminkan doaku. Seperti Ramadan yang kita tunggu-tunggu dan ketika tiba kita tak sabar ingin mengakhirinya dan ketika hari raya tiba kita menganggap kalau semuanya kembali seperti semula padahal masa lalu telah menumpuk peristiwa tanpa kira-kira.
Tapi tetap, kita berharap Tuhan mengabulkan doa kita dan satu-satunya jalan agar perpisahan kita melegakan adalah kita harus percaya kalau keajaiban itu ada dan akan menimpa kita.
Atau tulisan “Doa” di bagian Lingkungan. Yang saya rasa sangat jujur dan menampar iman. Juga tulisan “Tuhan”, yang singkat, padat dan kurang beriman.Â
Beberapa tulisan terasa sangat puitis dengan bahasa-bahasa yang arkais. Tapi beberapa sangat apa adanya dan sekenanya, tapi malah yang paling mengena. Begitulah mungkin gambaran kehidupan kita dengan topeng-topengnya. Curriculum Vitae ini seperti menelenjangi diri kita sendiri dari berbagai aspek, seperti CV yang menunjukkan diri kita dengan berbagai caranya agar nampak selalu baik-baik saja.
Saya tidak jamin buku ini dapat menyenangkan pada awalnya, mungkin malah membingungkan dan membawa perenungan panjang. Tapi pendalaman itu yang menarik untuk kita temukan hal-hal yang terkandung di sana. Selamat menikmati CV jika ingin. Â
Salam #persekutuanbuku!Â
meski belum selesai baca buku ini secara penuh. sesampai saya di bagian kesekian dari buku ini. saya sudah bisa menyimpulkan kalau buku ini layak untuk dibaca. dan saya sarankan untuk dibaca. didalamnya banyak sekali pesan tersirat dan tersurat yang siap menyapa para pembacanya. benny arnas, punya gaya pembawaan cerita yang aduhai. sebagai pencerita, ia sukses membuat penasaran dan mengajak untuk membaca buku itu berkali-kali lagi.
saya rasa buku CV ini layak untuk orang yang sedang mencari jati dirinya. karena menurut saya, banyak pelajaran soal jati diri yang bisa kita ambil dari buku ini.
terima kasih.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kerajaan Mo, Kepak Burung, dan Cerita Soal Kamu
APA yang kamu pikirkan saat memutuskan untuk mengakhiri suatu hubungan yang –bagimu- itu terbaik. Tanpa tahu kalau itu adalah akhir dari semua kenangan yang sudah kita buat dan kembangkan bersama-sama. Menjadi bunga atau pohon raksasa yang dari dahannya tumbuh buah-buahan yang lebat. Yang jika nanti kita tumbuh menua dan anak-anak kita dewasa. Kita bisa ceritakan satu persatu perihal kisah kasih yang telah kita ukir, dan kini malah berakhir?
#daripadadilemari :Â Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu - Benny Arnas.
Begitu tahu ada buku dengan judul se-panjang dan se-menarik ini, tanpa ragu saya langsung menodong men-DM @ammarjasir minta dipinjamkan. Ternyata boleh. Hehe. Dan benar saja, persis judulnya –buku ini istimewa! Recommended buat saya yang suka mikirin hal-hal (atau hikmah-hikmah) kecil. Isinya adalah kumpulan cerpen yang lahir dari cerita-cerita sederhana dan apa adanya. Beberapa cerita juga membahas tentang ketuhanan yang sepertinya punya makna yang dalaaam (sampai saya sendiri pun belum begitu paham meski udah baca ceritanya 2-3 kali).
Bagian yang paling saya suka sebenarnya ada di cerpen berjudul sama dengan judul buku. Yang dalam cerpen ini ada beberapa sub-bab.
Sub-bab favorit pertama saya itu yang judulnya “Jangan Pulang Hanya Karena Rindu”. Panjangnya ceritanya sih nggak sampai dua halaman. Tapi pesannya mahal! Disini penulis menceritakan kisah sederhana antara seorang anak kecil dan ibu yang (mungkin) profesinya adalah petani. Karena di cerita itu Ibu sedang menganyam pandan kering untuk dijadikan topi caping.
Tidak seperti biasanya si anak pulang cepat dari sekolah. Ibu pun heran. Dan sedikit marah; kenapa kau pulang cepat? Anak pun kaget, dan tidak sengaja berbohong di jawaban pertama. Ada rapat guru, katanya sambil takut-takut. Ibu makin curiga dan meninggikan pertanyaannya. “Kenapa?!” Anakpun menjawab dengan terbata; di hari ini. Aku-aku-aku. Sangat merindukanmu Ibu. Bagaimana kalau Ibu tidak ada lagi?
Saat membaca bagian ini, saya sendiri jujur tak kuat dan memilih memindahkan pandangan mata dari buku itu sejenak. Terasa menangis tapi tak keluar air dari mata.
Skip. Lanjut ya..
Sementara si ibu diam. Kemudian pergi. Fokus menganyam lagi. Sambil menangis. Tanpa suara.
Kisah ini membuat saya tersadar tentang hubungan ibu-anak yang tidak terlihat akrab. Tidak akrab maksudnya bukan berarti saling bertentangan ya. Tapi seperti ya… biasa-biasa saja begitu. Tidak ada pelukan hangat tiap bertemu. Tidak ada kata-kata cinta atau bait doa yang diucapkan tiap akan berpisah. Tapi dari yang tak terlihat itu, bisa jadi tersimpan sesuatu yang luar biasa. Yang tak bisa terwakilkan oleh kata seagung cinta, bahkan.
Kisah kedua yang saya pilih ini bukan favorit. Tapi sangat membekas. Judulnya tampak ceria : Tamasya. Tapi siapa sangka, di akhir cerita akan membuatmu berpikir lama tentang nasibmu sendiri.
Seorang mahasiswa KKN tengah beristirahat di atas batu besar pinggir danau sambil menikmati makanan beliannya. Selain melihat danau, dari kejauhan ia melihat ada seorang nenek dan cucunya sedang berdiri. Keduanya diam menghadap danau. Diam-diam ia penasaran pada sepasang nenek-cucu itu. Sampai akhirnya Tuhan menjawab penasarannya dengan mendatangkan nenek dan cucu ke dekatnya. Ya, entah kenapa nenek dan cucu itu memilih duduk di batu besar itu juga. Si mahasiswa pun berbasa-basi sedikit. Lalu disambut dengan cerita nenek yang tidak sedikit. Nenek memperkenalkan cucunya yang bernama Minsa. Yang hari ini usianya genap 7 tahun (eh 7 itu ganjil ya?). Spontan si mahasiswa mengucapkan selamat ulangtahun yang disambut dengan tatapan kosong dari Minsa. Mendengar ucapan itu, nenek bercerita bahwa ia baru saja mengajak Minsa bertamasya. Ke kuburan.
“Orang-orang sibuk mengucap selamat kepada mereka yang tengah memeringati hari lahir. Untuk apa ucapan selamat itu? untuk kematiannya yang kian dekat? tidakkah itu sebuah ejekan?” Kata nenek. Sepertinya memang hanya ingin beropini, bukan bermaksud menyinggung ucapan selamat si mahasiswa.
Tapi mahasiswa itu skak mat. Tercenung lama sampai-sampai Minsa dan Neneknya sudah tidak lagi di dekatnya!
Gimana? tertohok juga kah? Hehe. Betapa sang nenek (yang juga ibu dari ibunya si cucu) ini sangat jujur. Tidak menutup-nutupi kenyataan yang PASTI akan menemui sang cucu. Kenyataan yang entah berapa tahun, atau mungkin beberapa hari lagi PASTI terjadi. Di usia cucu yang baru 7 tahun, sudah dibiasakannya mengingat mati.
Sebenarnya masih banyak yang ingin dituliskan tentang cerpen-cerpen dalam buku ini. Tapi kalau reviewnya kepanjangan, khawatir jadi nggak seru. Karena membuka semua “aib” buku ini yang enaknya dinikmati dengan membacanya sendiri. Sejujurnya saya sendiri bingung memilih cerpen favorit yang mana. Karena hampir semuanya menyentuh dan membekas. Banyak quote yang saya catat dari sini yang mungkin akan saya post secara berkala nanti.
Sekian dari saya. Semoga bisa terus berbagi cerita, #daripadadilemari. Soalnya buku nggak bisa membaca dirinya sendiri. Apalagi menuliskannya kembali seperti ini. Hehe.
Salam #persekutuanbuku!
Oke, baru beli barusan. Baru (mau) mulai baca. Kebetulan.