




#sam reid#interview with the vampire#the vampire lestat#iwtv

seen from United States
seen from China
seen from South Korea
seen from Russia
seen from Switzerland
seen from South Korea
seen from Belgium
seen from United States
seen from China
seen from Thailand
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from China
seen from Egypt

seen from Sweden

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kunjungan Perdana ke Klub Sesama Jenis
Hari itu saya masih bekerja di sekitaran Kuningan. Jika tidak salah, itu adalah hari terakhir saya mengabdi kepada ahensi kedua saya. Konon katanya, melompat-lompat adalah hobi anak ahensi jaman sekarang. Maklum, tidak banyak kursi yang cocok memanjakan pantat muda-mudi kelahiran 90-an ini. Tidak loyal katanya, yasudah, kami yang muda memilih menjalaninnya seperti ini, kalian yang tua dan Maha Benar cukup riuh dari jauh saja.
Akhirnya saya mengusulkan ide cemerlang kepada dua malaikat saya di kantor yang bernama Enjeli dan Jalal. Ide cemerlang saya untuk berkunjung ke sebuah klub sesama jenis disambut gembira oleh dua malaikat hetero yang begitu saya sayangi itu. Sembari menunggu waktu yang tepat untuk mengunjungi klub tersebut, kami bertiga memutuskan untuk melakukan pemanasan dengan menenggak beberapa gelas anggur merah dan herbal Intisari hingga akhirnya saya merasa cukup panas.
Kami bertigapun menuju ke TKP yang ternyata lokasinya berada pas di sebelah kantor. Sesampainya di gerbang pemeriksaan, saya langsung dibuat takjub oleh penampilan salah seorang Drag Queen yang menjaga loket masuk. Kekaguman saya bukan semata soal fisik, ia, mengenakan riasan dan kepercayaan diri yang terus membuat hati saya iri. Setelah memilih minuman apa yang akan kami bawa (akhirnya sepakat dengan campuran alkohol dan limun), kami menuju ke sebuah meja di dekat panggung yang masih tertutup. Klub tersebut nyatanya masih terlalu sepi untuk diamini sebagai tempat maksiat, kalau saja tidak ada lampu berpendar 7 cahaya pelangi dan musik jedub-jedub mungkin orang bisa saja sholat Jumat di sana. Saya dan Enjeli mencoba untuk menikmati suasana dengan berdansa, sementara Jalal duduk di atas stool sembari merokok dan memperhatikan dan sesekali tersenyum dan seterusnya sepatutnya lelaki hetero yang tidak ingin terlalu memancing perhatian. Saya sempat berbisik kepada Jalal.
“Mas, Lo ga takut kan masuk tempat gay-gay gini? Lo kan straight”.
“Yaelah, lo tau gue kan”.
Saya merasa bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang cukup terbuka seperti Jalal dan Enjeli. Memang cara kerja semesta itu ajaib.
Kemudian Enjeli menarik tubuh saya tuk berdansa, lagi. Kita yang kebetulan lahir di era yang sama masih bisa berdansa mengikuti beberapa lagu yang diputar yang kebetulan adalah lagu-lagu “anak jaman sekarang”, sementara Jalal, masih diam dan memperhatikan kami dengan seksama sambil tersenyum.
Tak terasa puluhan masa sudah memenuhi ruangan berpendar 7 cahaya pelangi tersebut. Hampir 90% semuanya lelaki. Pria-pria berotot dengan muka hasil perawatan mahal dan potongan rambut di salon-yang-harus-booking-dulu-untuk-mengambil-antrian banyak sekali tersebar. Mereka berkumpul dan mengelompok entah dengan teman gym mereka, atau teman bercinta yang mereka temui di salah satu situs-situs dating. Untuk sekejap, saya merasa nyaman di tempat itu sampai akhirnya saya sadar bahwa mereka semua tak jauh berbeda dengan para hetero di luaran sana. Tak banyak dari mereka yang mau menjadi apa adanya. Ibaratnya seperti memenjarakan diri sendiri di tengah padang rumput yang luas. Bukankah mereka harusnya bebas di habitat yang mereka buat ini. Mereka nampak sibuk menjaga image mereka satu sama lain. Ironis.
Ada satu hal yang membuat saya tidak menyesali untuk berkunjung ke klub ini, yakni melihat para Drag Queen berlenggang di atas pentas. Sepertinya hanya mereka yang tidak terjebak dengan kepalsuan dan tampil dengan sangat percaya diri di atas panggung. Yang saya syukuri adalah, akhirnya mereka menemukan pentas yang mampu menyanjung mereka ketika dunia selalu memandang remeh mereka. Saya masih ingat, bagaimana imaji banci dibentuk oleh masyarakat seperti makhluk yang rendah dan menyalahi kodrat. Anak-anak didoktrin untuk membenci banci dan menjadikan kata banci sebagai julukan untuk mereka yang sedang mencoba untuk menjadi diri mereka sendiri dengan melawan kelelakiannya.
Akhirnya hari itu kami tutup dengan tepuk tangan meriah dan mengucap selamat tinggal.
Jakarta, 25 Januari 2019
#tadeuszwanski #wanski #piktorializm #muzeummiastagdyni #sopot (w: Muzeum Miasta Gdyni)