Sail to Natuna (Part 2): Relawan Seminggu, Menginspirasi Sewindu
You can study government and politics in school, but the best way to really understand the process is to volunteer your time (Rob McKenna).
Volunteering merupakan kegiatan kesukarelawanan di mana kamu bisa menjadi seorang relawan; mengerahkan abdi, bakti, energi, dan sepenuh hati untuk terlibat langsung dalam sebuah program yang biasanya memiliki misi pengembangan dan pemberdayaan pada sebuah kelompok di masyarakat. Demikian pandangan kereta aksara soal volunteering.
Kamu bisa saja mengenyam pendidikan setinggi-tingginya di jurusan politik, hukum, agama, pendidikan, kedokteran, susastra, dan sebagainya, tetapi tanpa pernah terlibat menjadi seorang relawan, studimu yang begitu dibanggakan itu belum berarti apa-apa lho ternyata. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Rob McKenna, seorang mantan Jaksa Agung di Washington, yang intinya adalah apapun studimu, cara terbaik memaknai proses adalah dengan ber-volunteer dan meluangkan waktu untuk itu. Logikanya, setinggi ilmu tanpa diamalkan, dipraktikkan atau dibagikan tentu tidak akan pernah menyadarkanmu betapa ilmu-ilmu dari puluhan buku dan kelas yang telah kamu sesap menjadi bermanfaat pun penting bagi orang lain. Lalu, ditantang menjadi seorang relawan? Mengapa tidak.
Youth Center to Act for Nation (Youcan Indonesia) merupakan sebuah non-governmental organization (NGO) kepemudaan sebagai salah satu dari sekian banyak komunitas dan NGO yang akhir-akhir ini perkembangannya begitu pesat di Indonesia. Salah satu program Youcan Indonesia adalah Youcan Social Expedition yang dilakukan di Natuna pada 20 Juli – 2 Agustus 2017 lalu. Sekira 26 orang pemuda hasil seleksi berangkat ke Natuna, Kepulauan Riau menerobos laut menuju tapal batas perairan Indonesia. Laut China Selatan yang bertransformasi nama menjadi Laut Natuna Utara turut dijelajahi oleh 26 pemuda ini. Bersama menuju Natuna dengan misi mulia, mengaplikasikan ilmu serapan dari kelas perkuliahan, dan kerendahan hati untuk mau belajar dari masyarakat Natuna, khususnya di Desa Sepempang, Bunguran Timur, Natuna.
Satu minggu berarti, satu minggu refleksi diri. Mendapatkan sambutan hangat dari seorang Wakil Bupati Natuna, Ibu Ngesti Yuni Suprapti dan Kepala Desa Sepempang, Bapak Junaidi, juga perwakilan dari Tentara Nasional Indonesia wilayah kerja Desa Sepempang serta beberapa jajaran orang penting memberikan arti penting bagi relawan sebagai motivasi memberikan yang terbaik bagi wilayah rawan konflik dengan potensi segudang itu. Harapannya, meski hanya dalam waktu sekira 1 minggu, 26 pemuda ini bisa membawa setitik yang terang bagi Natuna.
Satu Minggu Berarti
Mengemban misi sosial, 26 pemuda dari berbagai perguruan tinggi dan profesi berharap baktinya dapat berarti. Kalau kamu tidak asing dengan istilah design thinking process, maka benar, 26 pemuda ini mencoba mengidentifikasi karakteristik permasalahan dan mengklasifikasikan pemecahan masalah di Desa Sepempang yang berujung pada adanya aksi dan inovasi yang dihasilkan dari diskusi panjang serta kolaborasi berbagai disiplin ilmu oleh 26 pemuda terpilih. Menggunakan pendekatan yang berfokus pada manusianya sendiri, pemuda ini juga melakukan proses pendekatan terhadap masyarakat sebagai salah satu bagian dari pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat yang kemudian disebut dengan Participatory Rural Appraisal (PRA). Terjun ke masyarakat sebelum memberikan tawaran solusi dan inovasi menjadi penting bagi relawan dengan misi pengembangan masyarakat. Sebab, relawan tidak bisa serta merta turun ke masyarakat dan langsung memberikan berbagai tawaran solusi tanpa tau masalah apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dibutuhkan masyarakat. Relawan juga diharapkan dapat menciptakan inovasi yang aplikabel serta menjadi bagian dari solusi tanpa terkesan mengajari warga desa.
1. Bidang Ekonomi
Digawangi oleh Iqbal Mujahid Akbar sebagai alumnus Universitas Padjajaran, masyarakat Desa Sepempang yang terdiri dari 3 rukun warga diajak mengeksplorasi potensi perekonomian yang dimiliki desa ini dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah. Sebagai gambaran, warga di desa tersebut mayoritas adalah nelayan dengan hasil produksi olahan ikan. Di samping itu, terdapat usaha-usaha kecil seperti pembuat salai pisang, Kernas (makanan khas olahan ikan dan tepung sagu), usaha mebel, kelapa, dan usaha-usaha lain milik warga yang pengelolaannya dapat dikatakan masih belum maksimal. Tim ekonomi dari Youcan Social Expedition Natuna sedikit banyak berbagi dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam hal memasarkan hasil produksi warga sehingga memiliki nilai jual tinggi. Ilmu tentang pengelolaan merek (branding) dan pengemasan hasil produksi (packaging) turut dibagikan kepada warga, sehingga warga diharapkan memiliki motivasi tinggi untuk terus mengembangkan usahanya serta rasa optimis dalam hal daya saing dengan produk-produk lainnya. Tim ekonomi masih dengan program kerennya nih. Dengan goal pengembangan produk lokal dan pariwisata sektor kuliner, tim ini mengajak serta ibu-ibu warga desa Sepempang menyajikan olahan ikan dalam sebuah kegiatan lomba olah ikan. Begitu kreatif, ibu-ibu berlomba menyajikan hidangan paling ciamik andalan wilayahnya masing-masing. Ada yang membuat kernas, kaki naga, sambal ikan, nugget ikan, dan menu lainnya yang bahkan baru saya temukan di Natuna. Benar, warga begitu kreatif mengolah hasil alam Natuna yang tidak asing lagi yakni ikan tongkol, tentunya menyimpan nilai jual yang tinggi nih.
2. Bidang Pendidikan
Hanya terdapat 1 sekolah dasar di Desa Sepempang, 1 fasilitas sekolah PAUD, dan 1 fasilitas sekolah TK. Sisanya untuk fasilitas sekolah tingkat SMP dan SMA baru bisa dijumpai di wilayah Ranai atau yang kerap disebut sebagai wilayah kota. Tingkat sadar pendidikan dapat dikatakan tinggi di desa ini. Hanya saja, fasilitas belajar luar sekolah seperti perpustakaan baca masih belum dapat dijumpai. Kalaupun ada, masih minim aktivitasnya. Maka, dikoordinatori oleh Khuswatun Hasanah seorang mahasiswi dari Universitas Indonesia, tim pendidikan mencoba memulai menawarkan solusi kegiatan literasi bagi anak usia sekolah di desa tersebut. Kegiatan literasi yang dilakukan yakni pembuatan rumah baca, pelatihan menulis kreatif, dan kelas dongeng. Lalu, mengapa harus tentang literasi? Sebab, jangan sampai generasi muda Indonesia lahir dengan banyak bicara tapi sedikit membaca; banyak berbicara tanpa menyertakan fakta-fakta, beropini dan penuh omong-kosong akibat minim membaca. Menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia hanya baru mencapai 0.001% atau setara dengan satu dari seribu orang yang memiliki minat baca. Di Desa Sepempang, tim pendidikan menemukan masih minimnya aktivitas rumah baca, bahkan dalam hal tulis-menulis atau menciptakan sebuah tulisan, siswa SD di desa ini masih terbilang tidak begitu tertarik. Tidak disangkal pula, terdapat siswa SD kelas 3 yang masih kesulitan untuk sekadar menulis nama panjang dan cita-citanya (penemuan lapangan). Demikianlah akhirnya tim pendidikan tergerak untuk melakukan beberapa kegiatan literasi untuk Natuna. Kabar bahagianya, Kepala Desa Sepempang berencana merekrut 2 orang pemuda daerah untuk mengelola rumah baca secara profesional. Begitupun terkait kelas menulis, maka besar harapan anak-anak dapat mengembangkan kemampuan menulisnya.
3. Bidang Kesehatan
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Begitu konon sabda pepatah. Temuan hasil lapangan ketika kegiatan PRA di desa tersebut mengatakan bahwa warga desa masih sulit untuk disarankan pergi ke rumah sakit ketika kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Selain keberadaan rumah sakit yang tidak dekat, warga juga lebih memilih mengonsumsi obat-obatan warung atau apotek terdekat untuk meredakan gejala-gejala sakit di tubuhnya. Kecuali sudah tidak sanggup lagi bangun dari tempat tidur dan berjalan, warga baru mau memutuskan untuk pergi ke rumah sakit guna mendapatkan pemeriksaan lanjut terkait kondisi kesehatannya. Tenaga medis yang masih minim juga dialami oleh desa ini. Dipimpin oleh seorang dokter lulusan Universitas Gadjah Mada, dr. Afif Avicenna Ghufron, tim kesehatan yang juga tergabung dalam 26 pemuda terpilih mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis. Antusiasme warga terdeteksi di kegiatan ini, warga dengan usia 20 tahun ke atas berhak mendapatkan pemeriksaan gratis dari mulai pemeriksaan kadar kolestrol tubuh, gula, asam urat, dan hemoglobin. Warga juga berhak mengikuti diskusi terkait ilmu dasar pencegahan penyakit, serta konsultasi empat mata terkait kesehatan tubuh warga dengan dokter ini. Tidak sedikit warga terkesima pada sang dokter sebab keterampilannya menyampaikan ilmu ditunjukkan dengan pujian warga tentang performa sang dokter. Tim kesehatan juga melakukan kolaborasi apik dengan tim pendidikan dalam sebuah kelas impian, di mana tim kesehatan membagikan pengetahuan tentang kesehatan dasar, cara menggosok gigi dan mencuci tangan pada anak-anak kelas IV SDN 005 Sepempang – yang kegiatan akhirnya adalah memberikan apresiasi berupa penghargaan dokter kecil kepada beberapa siswa terpilih.
4. Bidang Lingkungan
Desa Sepempang di Natuna merupakan salah satu desa dengan wisata pantainya yang dapat diandalkan karena keindahannya yang tidak biasa. Hanya saja, penemuan lapangan yang juga dikeluhkan warga adalah persoalan kebersihan pantai dan lingkungan desa yang masih minim. Permasalahan utamanya adalah tidak adanya truk-truk pengangkut sampah warga atau pos sampah warga yang bisa mengurangi terjadinya pencemaran sampah di wilayah desa. Warga biasa membakar sampah hasil kegiatan sehari-hari. Dikomandoi oleh seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Bagus Rahmansyah Priyoadi, tim lingkungan menggelar operasi semut atau kegiatan bersih-bersih di sekitar pesisir pantai Alif Stone oleh anak-anak usia sekolah. Tidak hanya kegiatan bersih-bersih, anak-anak juga secara semangat menyanyikan lagu-lagu nasional. Kapan lagi, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dapat bersihnya, subur nasionalismenya. Oh ya, Alif Stone ini merupakan salah satu objek wisata yang sangat memukau namun belum banyak diketahui orang. Sayangnya, pantai ini tidak dikelola oleh masyarakat asli Desa Sepempang. Bagaimanapun, sebagai aset berharga bagi Desa Sepempang, pada akhirnya kebersihan dan keindahan Alif Stone park ini menjadi semacam panggilan hati bagi warga setempat.
Menjadi relawan hanya satu minggu di desa orang yang begitu jauh dipandang mata dan melalui perjalanan yang tidak mudah lagi singkat menuju ke sana, tidak menjadi halangan bagi 26 pemuda terpilih untuk terus menebarkan semangat dan inspirasi. Pemuda-pemuda ini memang belum memberi ribuan kontribusi bagi negeri, hanya saja semoga hal-hal kecil yang diperuntukkan kepada Natuna sebagai garda terdepan perjuangan Indonesia menjadi awal dari kontribusi-kontribusi bermanfaat lain di wilayah-wilayah lainnya, garda-garda terdepan lainnya di Indonesia, suatu hari nanti. Tidak perlu seabad, sewindu menginspirasi saja begitu berarti. Tidak perlu setahun kalau seminggu saja keikhlasan memenuhi hati dalam mengabdi, berbakti.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sail to Natuna (Part 1): Tujuh Hal Ini Cuma Kamu Temuin Kalau Traveling dengan Kapal PELNI.
Traveling memang penawar ampuh dalam manajemen stres saat kamu begitu disibukkan berbagai rutinitas dan kegiatan yang itu-itu saja serta nyaris melampaui batas. Salah satu traveling yang menyenangkan yakni mengunjungi pulau-pulau di luar pulau tempat tinggalmu. Iya, pasti menyenangkan. Tapi jangan salah, traveling juga bisa menjadi sangat menyebalkan ketika budget minim namun tekad melakukan perjalanan terlanjur maksimal. Salah satu hal yang bisa menjadi solusi adalah menekan budget dengan memilih alternatif kendaraan untuk melakukan traveling.
Kali ini, kereta aksara punya alternatif yang sangat bisa dipertimbangkan yakni ke luar pulau naik kapal laut; membersamai badai dan bermesraan dengan ombak; disuguhi sunset dan sunrise. Beberapa waktu lalu, kereta aksara melakukan perjalanan selama 3 hari 4 malam menuju Natuna, Kepulauan Riau menggunakan jalur laut bersama kapal PELNI. PELNI merupakan singkatan dari Pelayaran Nasional Indonesia, yang merupakan maskapai pelayaran milik pemerintah Indonesia sebagai salah satu alternatif alat transportasi. KM Bukit Raya dioperasikan menuju Natuna, Kepulauan Riau dengan biaya Rp 427.000 saja. Ya, tentu saja seperti kata ibu-ibu, ada uang abang disayang ada barang. Menghabiskan waktu hingga 4 malam di kapal bukan hal mudah tentu, hanya saja tidak salah jika sesekali mencobanya. Sebab kereta api belum memadai bagi masyarakat pulau jawa menuju Kepulauan Riau, dan angkutan buspun sepertinya begitu, sedangkan harga tiket pesawat yang tidak tanggung-tanggung (silahkan buka aplikasi pemesanan tiket pesawat andalanmu sekarang!), maka memilih kapal PELNI sebagai sarana perjalanan bisa membantumu membuat pertimbangan untuk berlayar menuju Natuna tanpa takut tidak punya dana.
Menuju Natuna dengan membelah badai dan ombak lautan kadang menjemukan namun tentu memiiliki kesempatan untuk juga bisa merasakan kebahagiaan di atas kapal. Tentu saja, jenis-jenis kebahagiaan seperti ini tidak kamu jumpai kalau kamu memilih naik pesawat yang mungkin hanya menghabiskan waktu 1-2 jam saja di udara. Eh, emang beneran perjalanan laut dengan kapal PELNI lebih “mengesankan”? Beneran. Kamu seolah akan lupa daratan, coba deh simak tujuh hal ini yang cuma kamu dapat kalau traveling via laut dengan Kapal PELNI.
1. Rebutan Kasur di Deck
Tiket kapal sudah di tangan. Lalu apa selanjutnya? Sama seperti ketika akan berpergian dengan pesawat, check in dan pemeriksaan tiket sesuai identitas juga harus dilewati oleh penumpang kapal. Enggak hanya itu, salah satu kelebihan dari pelayanan PELNI adalah mempersilahkan penumpang perempuan masuk ruang tunggu kapal lebih dulu daripada laki-laki. Tapi, jangan salah. Kalau selama ini kamu pikir kapal laut enggak akan ada delay saat akan mengangkut penumpang, itu salah. Sebab, bahkan kereta aksara menunggu mencapai 8 jam hingga akhirnya kapal bisa berlayar. Ya, meskipun kapal enggak bisa terjebak nostalgia macet, kapal juga memperhatikan cuaca-cuaca tertentu demi keselamatan penumpangnya ke tempat tujuan sehingga keputusan untuk mendelay pelayaran adalah sebuah keputusan beralasan.
Masuk ke kapal, kamu tidak bisa begitu saja melenggang dengan nyaman. Pasalnya, nomor kasur atau tempat dudukmu bisa saja bukanlah milik kamu, begitupun dengan nomor kasur orang lain. Loh kok kasur? Iya, kapal PELNI memiliki beberapa kelas yang bisa dinikmati penumpang dengan menyesuaikan harga tiket, di mana salah satu fasilitas dari masing-masing kelas adalah kasur. Pada kelas ekonomi, penumpang kapal bisa menggunakan tenaga dan usahanya lebih banyak lagi untuk berebut kasur saat baru naik kapal. Perhatikan selalu barang bawaanmu. Masuk kapal dan mendapatkan kasur di deck merupakan segelintir dan hanya awal dari perjuangan kamu ketika matang memilih kapal sebagai maskapaimu menuju Natuna. Kamu akan menjumpai berbondong-bondong orang berlarian menaikki tangga kapal yang berbeda dari tangga lainnya. Tidak hanya itu, setelah masuk kapal, sangat penting bagi kamu menguatkan tekad untuk menghabiskan hari-harimu menuju Natuna, kalau perlu bawalah buku atau peralatan hiburan yang mencukupi. Serius, ini penting banget. Selebihnya, percayalah bahwa kamu bakal mendapatkan waktu tidur lebih banyak dari hari-hari biasa. Kalau biasanya sehari kamu cuma tidur 8 jam, di kapal laut kamu bisa tidur mencapai 12 jam. Just try.
2. Makan Ikan ala PELNI, 3 Kali Sehari
Sama halnya dengan pesawat, kapal PELNI menyediakan makan bagi penumpang kapal. Bedanya, di kapal laut terdapat juru masak dan anak buah kapal yang turut menjadi bagian dari pembasmian rasa lapar para penumpang kapal sebanyak 3 kali sehari. Kamu yang biasanya hanya makan sebanyak 2x (apalagi anak kost), atau di pesawat hanya mendapat makanan 2x, di kapal, kamu akan dimanjakan dengan jadwal makan yang teratur. Menunya jangan ditanya. Seolah tidak mau kelewatan nuansa perairan, menu makan PELNI memiliki variasi menu yang “canggih” dengan olahan ikan andalan. Kadang digoreng, dikuningi, kadang ikan tongkol, kadang ikan bandeng, yang tidak mungkin ada di menu makanmu ketika di kapal yaitu ikan Indosiar. Nasi yang tidak terlalu banyak, tidak lupa sedikit sayur atau kadang tambahan bihun sebagai variasi menu. Makan ikan 3x sehari memang memberikan gizi lebih, hanya saja rasa rindu pada makanan yang mudah dijumpai di daratan pasti ada. Jangan lupa bawa sambal! Oh, atau kalau tidak bersahabat dengan pedasnya cabai, jangan lupa membawa lauk lain yang mampu membuatmu lebih sabar bertahan bersama perjuangan sang kapal hingga Natuna. Meskipun begitu, juru masak kapal PELNI juga menambahkan jus atau susu kemasan kotak sebagai pelengkap menu makan. Harapannya, gizi tetap seimbang dan sesuai dengan prinsip 4 sehat 5 sempurna. Apa daya, 4 malam di kapal bahkan tidak satu buahpun bertengger di kotak makan penumpang, sehingga perlu juga dirasa membawa lebih vitamin sebagai pengganti nutrisi dari buah.
3. Sensasi Goyangan Kapal di Toilet
Satu hal lain yang pastinya tidak akan ditemukan di pesawat, kereta api, bis, atau angkutan darat lain yakni serbuan angin laut ke badan kapal. Angin laut tidak pernah luput menjadi pemanis dalam pelayaran menuju Natuna. Kadang angin kencang hingga mengakibatkan badai, tapi juga kadang aman-aman saja. Ya, siapa yang tidak tau kalau sensasi naik kapal laut adalah intens-nya goyangan kapal yang diakibatkan oleh cuaca atau angin yang terjadi. Saat angin begitu kencang, badai tidak terelakkan. Lucunya, ketika kamu harus pergi ke kamar mandi atau toilet, goyangan kapal turut menghebohkan kegiatanmu. Kalau kamu punya keseimbangan yang baik, selamat! Atau kamu punya keahlian tetap tegar di atas badai hidup, juga selamat! Untuk mandi cuci kakus di toilet kapal memang harus banyak menaruh prihatin, sebab persediaan air terbatas dan harus ingat kalau yang butuh air di kapal tidak hanya kita. Meskipun begitu, setiap penumpang akan nyaman menggunakan toilet loh asal pandai-pandai menjaga kondisi kebersihan toilet. Siapa yang betah, hidup 4 malam di kapal dengan kondisi toilet yang tidak manusiawi.
4. Tiket Bioskop Rp 10.000
Berapa sih biasanya kamu menghabiskan uangmu untuk bisa nonton film ala XXI atau bioskop? Ya, paling murah Rp 30.000 lah ya. Tapi, cuma kapal PELNI nih yang punya! Nonton film Rp 10.000. Eits, sayangnya nih, film-film yang diputar hanya diperuntukkan bagi penumpang berusia 21 tahun ke atas. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau ini, kamu bisa menghabiskan satu buah film di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan memang tidak begitu mirip bioskop. Ya, bagi yang sangat membutuhkan hiburan akibat dirundung bosan di kapal yang sudah tak teratasi, bioskop mungil ini mungkin bisa menjadi salah satu alternatif solusi ya. Pastinya, di pesawat dan kereta api tidak kamu jumpai kan bioskop serupa?
5. Menangkap Senja dan Fajar Langsung
Romantis. Bagi kamu penikmat senja dan fajar atau bahasa kerennya nih sunset dan sunrise, cocok banget loh traveling dengan menggunakan kapal laut selama berhari-hari. Pemandangan terbit dan tenggelamnya matahari bisa menjadi alternatif solusi lain ketika kebosanan yang terlampau parah kamu rasakan. Khususnya yang berjiwa puitis, dua waktu ini tidak boleh kamu lewatkan, sebab senja dan fajar yang bisa kamu nikmati langsung dengan mata telanjang di sudut-sudut terbaik kapal akan menjadi ladang ide untukmu menuangkan kata demi kata. Begitupun kamu para pecinta fotografi, menangkap sunset dan sunrise dengan lensa kameramu pasti akan menjadi kegiatan yang dinanti-nanti di kapal ketika pagi dan sore menuju malam hari. Kamu disarankan turun dari kasur dan mencari sudut-sudut terbaik kapal dari deck ke deck yang bisa memanjakan matamu dengan keindahan matahari terbit dan tenggelamnya. Masih kekeuh mau naik pesawat dengan biaya selangit? Untukmu pecinta terbit dan tenggelam matahari, kenapa harus pikir 2 kali?
6. Singgah di Berbagai Pulau
Nah ini dia yang tidak akan kamu dapatkan saat traveling dengan moda transportasi publik apapun. Menuju Natuna, kamu akan berhenti di beberapa pelabuhan seperti Pelabuhan Belinyu, Pelabuhan Kijang, dan Pelabuhan Tarempa di Anambas. Biasanya, akan terdapat jadwal kapal berhenti berlayar sekitar 4 jam di Pelabuhan Kijang, Bintan, Kep. Riau dan sekitar 2 jam di Pelabuhan Tarempa, Anambas. Sangat disarankan untuk keluar dari zona nyamanmu di kapal, menjelajahi tempat sekitar pelabuhan atau bisa juga sekadar mencicipi makanan khas daerah setempat. Dijamin, kali ini enggak akan membuatmu menyesal memilih kapal laut untuk mengantarmu ke Natuna deh. Oh ya, ketika mampir singgah di Pelabuhan Tarempa di Anambas, kereta aksara mencoba secangkir kopi hitam yang disebut Kopi O di sebuah kedai kopi di pasar tidak jauh dari Pelabuhan Tarempa. Dengan uang Rp 5.000 kamu akan merasakan orgasme lidah yang dihasilkan dari kopi itu. Kental, gurih, dan tidak berampas. Konon ditambah dengan mentega sehingga menciptakan cita rasa yang berbeda. Nah, di Pelabuhan Kijang, sekitar 2 km dari pelabuhan terdapat pasar dengan aneka jajanan khas Bintan, Kep. Riau. Terdapat Mie Lender (baca: mie lendir) yang juga akan memanjakan lidahmu serta memberikan rasa kenyang dan pembaruan gizi bagi tubuh setelah berhari-hari bergelut dengan menu makanan kapal yang sederhana. Kapan lagi bayar tiket murah tapi dapat banyak?
7. Sujud di Atas Lautan Luas
Melewatkan setiap waktu sholat dengan arah sholat yang berbeda akan kamu rasakan lho di kapal laut menuju Natuna. Kadang menghadap kanan kapal, kiri kapal, dengan derajat kemiringan posisi sholat yang berbeda-beda setiap waktunya. Jangan khawatir, kapal PELNI menyediakan musholah yang begitu nyaman untuk kaum muslim menjalankan ibadahnya. Tidak hanya itu, pemberitahuan sholat setiap waktupun diumumkan, sehingga tidak perlu khawatir terlewat waktu sholat. Satu hal yang bisa kamu syukuri adalah merasakan sujud tepat di atas lautan Allah yang begitu luas dan sempurna. Kalau biasanya kamu merasakan sujud dan di bawahmu adalah tanah atau lantai, maka kali ini, bersama hembusan angin yang menyelimuti perjalanan kapal, doamu akan digiring kepada langit menuju Allah. Bagi yang senang merenung, pasti akan merasa sangat kecil ketika bisa sholat di atas kapal di tengah birunya lautan yang membentang. Ini loh, satu hal paling keren yang juga bisa menguatkan tekadmu ketika matang menjalani hari-hari di kapal selama beberapa waktu menuju Natuna.
Bagaimana? Sudah ada bayangan bagaimana melakukan traveling ala anak kapal laut? Kalau kamu penasaran banget sama cara kerja Nahkoda dan Anak Buah Kapal, kamu juga bisa loh mampir ke ruang kerja para kapten untuk menyimak langsung apa saja yang mereka lakukan untuk membuat kapal tetap on the track. Bagaimana mengarahkan jalur kapal dengan tidak gegabah dan seenaknya meskipun laut begitu luas dan sebenarnya bisa melintasi sudut laut mana saja. Belajar juga dari para ABK tentang arti ikhlas ketika mereka harus meninggalkan keluarga untuk sebuah tugas yang mulia. Jadi, keuntungan apa lagi sih yang masih kamu ragukan saat traveling dengan kapal laut?
CANTIK dalam arti yang sebenarnya #natunaisland #natuna #ranainatuna #wonderfulindonesia #beach #eyegasm #mainkesini #indonesiabagus #visitnatuna (at Ranai / Natuna Island)
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
. [Mendidik adalah Kewajiban Mereka yang Terdidik] . Sebagai seorang lulusan Sarjana Pendidikan yang sangat tertarik dengan sistem pendidikan dan kebijakannya di Indonesia, memulai terjun ke lapangan menguak fakta adalah hal penting bagi saya. Saya mungkin hanya satu dari banyak perempuan yang terinspirasi oleh seorang politisi perempuan di Komisi X DPR RI, yang juga dulunya merupakan seorang guru dan namanya tidak asing di telinga, Ceu Popong. . . Saya tidak terobsesi menjadi salah satu perempuan yang duduk di legislatif, hanya saja jika kesempatan itu datang, adalah menjadi kode alam untuk saya berani ambil bagian untuk perubahan sistem pendidikan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun, pendidikan adalah benih yang bisa dipilih dengan tanah dan pupuk seperti apa ia akan ditanam. Pendidikan adalah jalan utama bagi sebuah negara, tidak hanya untuk mencerdaskan tapi juga memanusiakan manusia. Juga, bagaimanapun, mendidik adalah kewajiban bagi orang-orang terdidik-yang bernalar tentang arti pendidikan yang mereka dapat bagi masa mendatang. . . #BukanKampanye #BelomMasukParpol #BaruMauMagangKomisiX #HidupPendidikanIndonesia #VisitNatuna (at Natuna Kepulauan Riau)