Jeda.
seen from China

seen from Malaysia
seen from Pakistan

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Poland
seen from Colombia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Belgium
seen from Maldives

seen from Austria

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from China

seen from United States
seen from United States
Jeda.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
3 months #lingkar
agen sticker
Daun Juang
Ingatan itu kembali lagi. Ia takkan lupa perayaan ulang tahunnya kali itu. Saat itu akhir Maret. Beberapa anak-anak kecil dari sekitar rumahnya sedang berkumpul di ruang tamu, mengelilingi meja yang di atasnya diletakkan kue tart sederhana dengan lilin yang sudah dinyalakan. Meski tidak seramai tahun-tahun sebelumnya namun mereka tetap menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” dengan lirih. Lagu itu belum selesai dinyanyikan namun tiba-tiba dihentikan karena terdengar suara derap langkah barisan tentara bersenjata lengkap diluar sana. Setiap dari mereka menenteng senjata laras panjang dan berdandan seolah ingin berkamuflase menjadi semak belukar. Suasana mencekam, anak-anak merunduk rendah ke lantai dan beberapa ada yang mengintip lewat jendela, ada pula yang langsung menghamburkan diri ke pelukan ibunya. Lagu “Selamat Ulang Tahun” itu memang tidak pernah terselesaikan, setelah barisan tantara itu lewat dan suaranya tak lagi terdengar lilin ditiup dan kue langsung di potong tanpa iringan lagu seperti biasanya. Tak ada permainan seru untuk memperebutkan balon, tak ada pula anak-anak yang bergantian menyanyi di hadapan teman-temannya yang lain. Perayaan itu diakhiri setelah cinderamata dibagikan dan anak-anak kembali kerumahnya masing-masing. Bagaimana bisa Ia melupakan hari itu. Saat itu si Gadis Kecil duduk di kelas 2 SD, usianya baru 7 tahun karena dia mulai bersekolah lebih awal. Tahun 1999 merupakan tahun terkelam sepanjang hidupnya. Saat perayaan ulang tahunnya itu suasana sudah mulai tenang, keadaan sudah kacau sejak 3 bulan sebelumnya. Kakak perempuannya terjebak di kota dan tidak bisa pulang karena konflik antar-suku itu terjadi saat ia tengah berlibur disana dan dengan cepat menyebar ke daerah-daerah lainnya, pantai barat dan daerah sekitar kaki gunung tak luput dari kekacauan itu. Hampir di setiap rumah ada tulisan “Orang Jawa” yang di coretkan begitu saja di dindingnya atau dituliskan di selebar triplek. Tak lupa seikat daun juang yang diikatkan di tiang depan setiap rumah. Sekolah diliburkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Perempuan dan anak-anak diungsikan ke rumah ibadah dan sekolah. Sementara para pria tinggal di rumah untuk menjaga harta benda. Ia, ibu dan kakaknya yang paling tua diungsikan ke rumah wakaf di komplek masjid desa. Disana sudah disesaki oleh perempuan dan anak-anak lain yang berasal dari daerah sekitar. Ibu-ibu bergerombol saling berbagi cerita tenang berbagai isu yang berkembang. Anak-anak membunuh rasa bosan (karena tidak bisa bermain diluar) dengan bermain ampar-ampar pisang di dalam tempat pengungsian. Sejenak mereka terlupa akan kengerian yang tengah terjadi diluar sana. Pernah pada suatu malam, saat suasana sudah sedikit mereda. Masing-masing sudah kembali ke rumah. Ia dan keluarganya sedang menonton tv (saat itu keadaan di Kota masih belum kondusif dan kakaknya yang kedua belum juga bisa pulang). Lalu diluar ada suara pria dewasa memanggil-manggil nama Bapaknya dengan logat yang dikenalnya betul. Belum sempat Bapaknya beranjak, si Gadis Kecil yang rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya itu telah terlebih dahulu berlari ke jendela di sisi pintu samping dan mengintip dari kacanya. Kemudian saat Bapak keluar dan berbicara dengan orang asing itu ia terfokus pada kantong yang dibawanya. Kantong berwarna merah yang menampakkan isinya secara samar. “Ini pesananmu kemarin, bang”, katanya pada Bapak. Bapak tampak kebingungan dan berusaha menelaah apa maksud orang asing itu. Pria itu kembali menyodorkan kantongnya, “Ini kan yang kemarin kau pesan, bang”, ujarnya dengan bahasa daerah setempat. Bapak mulai mengerti, “Abang salah orang sepertinya”, karena ia merasa memang tak pernah mengenal orang asing tersebut. “Ini betul rumah pak Bambang, kan?” “Iya, betul dan saya sendiri bernama Bambang.” “Kalau begitu ini pesanan anda” “Maaf bang, sepertinya yang abang maksud bukan Bambang saya, mungkin Bambang yang rumahnya di sebelah sana.” Kata bapak sambal menunjuk ke arah timur. “Disini memang ada tiga orang yang bernama Bambang, saya sendiri seorang muslim jadi tidak mungkin memesan ‘ini’. Jadi mungkin yang Abang maksud Bambang yang satu lagi yang rumahnya di sebelah sana, kalua memang dugaan saya salah mungkin Bambang itu juga akan mengarahkan Anda ke rumah Bambang yang lainnya. Sekali lagi saya mohon maaf.” Lanjutnya. Orang asing itu tampak mengerti, dan setelah pamit dan meminta maaf ia pun pergi ke arah yang Bapak tunjuk. Tepat sebelum ia beranjak, si Gadis kecil menyadari apa yang ada di dalam kantong plastik itu. Guratan bentuknya menunjukkan bahwa benda tersebut berwarna putih. Itu adalah sebongkah otak. Dan sontak Ia pun berteriak. Orang asing tersebut menoleh ke rumah dan Bapak kembali berbicara dengannya lalu Ia pergi begitu saja. Ibu dan kakak tertuanya datang menghampiri si Gadis Kecil dan menanyakan apa penyebab si Gadis Kecil menjadi tiba-tiba histeris seperti itu. Ia hanya menangis. Tak mampu berkata-kata. Saat Bapak masuk ke rumah, sambil tersedu-sedu ia memastikan dugaannya. “Pak, itu tadi otak kan ya…?” Bapak terdiam “Otak manusia kan, Pak…” Ibu dan kakaknya hanya terdiam Ia kembali menangis. “Iya, itu otak manusia. Mereka kira itu pesanan bapak makanya mereka antar kesini.” Jawab Bapak singkat. Si Gadis Kecil lanjut menangis ngeri dipelukan ibunya. Selang beberapa saat suasana kembali memanas, dan mereka kembali diungsikan. Si Gadis Kecil tidak seceria sebelumnya. Ia membayangkan diluar sana orang-orang saling membunuh satu sama lain. Seringkali ia menangis pelan saat membanyangkan kengerian itu. Tak ada kengerian lain yang dibayangkannya. Hanya bagaimana otak manusia bisa keluar dari tempurung kepala itu dan hal itu sudah cukup untuk membuatnya teringat hingga hari ini. Beberapa minggu kemudian suasana berangsur mereda, kakak keduanya sudah kembali menandakan situasi yang kondusif sudah merata. Si Gadis Kecil kembali ke sekolah dan mendengar banyak cerita-cerita dari teman-temannya yang lain, tak kalah mengerikan. Sering waktu berjalan, Ia mendengar lebih banyak cerita mengerikan tentang konflik itu dari berbagai saksi hidup dan itu semakin meyakinkanya bahwa itulah masa terkelam di bagian barat Kalimantan. Dan ia berharap hal tersebut tidak akan pernah sekalipun terulang lagi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Matahari (3)
Matahari yang sepanjang hidupnya tak kau hiraukan,
Setiap harinya menyaksikan
kelak-kelok anak sungai,
layang-layang berekor,
anak-anak berkejaran,
rumpun ilalang di pematang,
muda-mudi berpelukan,
rekah tanah kemarau panjang,
serta berbagai kebijaksanaan,
Matahari yang sepanjang hidupnya tak kau hiraukan,
kini mulai kelelahan,
dan mendambakan pelukan.