Trip 5 Hari #Day2
Kembaran
Semua berjalan normal. Walaupun semalam pemanas ruangan sempat mati dan ada sedikit gempa. Tapi pertanyaan salah seorang teman kami di pagi hari membuat kami semua merinding. "Semalem gempa ya?" tanyanya. Karena aku sama sekali tidak merasa ya kujawab saja tidak tahu. Dengan muka keheranan dia kembali bertanya "Kamu bukannya semalam bangun?" Memang pukul 05.00 pagi aku terbangun karena kedinginan dan menyalakan pemanas, tapi aku segera tidur lagi dan tidak merasa ada gempa. Kawan kami yang lain menimpali "Gempanya memang bukan jam 5, sedikit lebih siang, mungkin 5.30". Apakah aku tidur pulas secepat itu? bisa jadi. "mimpi kali?" Kataku. Aku memang bangun lagi sesaat sebelum jam 6 untuk shalat dan membangunkan yang lain. Tapi teman kami bersikeras yakin kalau itu bukan mimpi, orang itu seperti aku bahkan memakai baju yang sama denganku, rok oranye dan kerudung oranye serta baju biru yang kupakai seharian kemarin. Sedikit terkejut kembali melihatku dengan setelan baju yang lain. Bagaimana mungkin, aku kan sudah berganti baju, bajuku ada di lemari, kenapa pula aku bangun dan berganti baju kemudian berganti lagi di waktu sepagi itu. Jam-jam itu sama sekali tidak ada yang bangun. Kami pun menelan ludah. Segera beganti topik. Obrolan ini masih menggantung sampai kami berada di kereta menuju Nagoya.
Memang temanku ini bukan yang pertama kali mengalami kejadian serupa. Dulu ketika liburan di tanah air, temanku yang lain yang juga ikut bersama kami saat ini juga pernah melihat seseorang berbaring di sebelahku. Karena matanya minus dan mungkin setengah sadar, tidak jelas juga itu siapa. Juga ketika aku masih sering berpergian untuk pelatihan waktu SMA, salah seorang temanku yang katanya memang sensitif pernah sekali melihat seseorang berdiri di atasku ketika aku tidur. Hal ini sempat membuatku tidak berani tidur sendiri berminggu-minggu. Tapi itu sudah lama sekali, dan bukan hal yang sering terjadi. Aku sendiri tidak pernah merasa terganggu atau semacamnya. Semoga Allah selalu melindungi kami dan pandangan kami dari hal-hal gaib seperti demikian. Kami bergegas bersiap menaiki shutle gratis yang disediakan oleh pemilik penginapan, menyambut hari petualangan kami selanjutnya dengan hati berdebar.
Wajah putih
Meski tidak sempat pakai kaus kaki, dan muka masih amburadul kami berhasil menghangatkan makanan sembari mengejar shuttle. Nasi instan, abon, ikan, furikake dan keripik MSG pun kami lahap dengan penuh rasa syukur. Kami tidak mau lemas seharian karena lapar sampa-sampai tertawa saja tak kuat. Stasiun masih sepi sepagi ini, ruang tunggu yang kemarin padat pengunjung pun lengang. Hanya bunyi pemanas ruangan yang menderu di sudut ruangan. Beberapa petugas kebersihan mondar mandir dengan pel-nya, juga satu dua orang yang mungkin akan naik kereta pagi. Ketika berleha-leha menurunkan makanan di perut, seorang ibu ramah menyapa kami. "Taiwan kara kimashita ka?" beliau mengira kami berasal dari Taiwan. Bagaimana mungkin? lihatlah kulit kami yang sawo matang, gelap-gelap eksotis dan mata kami yang melotot ini. Segera saja kusanggah, dengan penjelasan. Ibu ini terkejut ketika tahu kami dari Indonesia. "Kao ga shiroi ne..." wajahnya putih-putih ya, katanya. Seketika dada membusung, merasa bangga dan agak sombong. Terbayang sayap muncul di punggung bersiap terbang. Merasa bahagia bahkan setelah ibu itu berlalu. Langkah kakipun menjadi ringan. Terngiang-ngiang ucapan si Ibu yang baik ini. Entah benar atau tidak, setidaknya ucapan si Ibu berkontribusi terhadap kadar kepercayaan diri kami. Bahagia lagi.
Jembatan Merah
Sepertinya kota ini memang sudah dirancang untuk turis asing. Bahkan disediakan bus yang melewati setiap objek wisata, serta penjelasan dengan bahasa Inggris. Kami juga bertemu banyak bule dan lagi-lagi teman senegara. tujuan kami pagi ini adalah Shinkyo Bridge.
Shinkyo Bridge yang berarti jembatan suci ini terletak di Nikko, Tochigi Perfecture. Termasuk kedalam 3 jembatan paling cantik di jepang bersama dengan Iwakuni's Kintaikyo dan Saruhashi di Yamanashi Prefecture. Dibangun di depan Nikko shrine, jembatan cantik ini kini bisa diseberangi hanya dengan membayar 300 yen.
Belum terlalu ramai, beruntung kami berangkat pagi-pagi. Seperti biasa kami berfoto sana sini berusaha mengabadikan keindahan jembatan merah yang melengkung menghubungkan kedua bibir sungai. Makin siang kami makin sibuk berfoto, mencoba segala gaya, mematut-matut. Sementara, orang mulai berdatangan untuk berdo'a. Kami sama sekali tidak punya ide kalau itu dalah tempat suci atau tempat berdo'a. Merasa kurang riset. Beberapa orang menggantung harapannya di bingkai-bingkai kayu mirip jemuran berwarna merah, yang lain membentuknya jadi pesawat dan menerbangkannya. Kami semagat untuk memfoto kegiatan ini. Hampir 2 jam kami berkutat dengan foto-foto. Tak terasa kami sudah harus melanjutkan perjalanan.
Perjalanan panjang
Lapangan memang dinamis, sehabis Shinkyo Bridge berniat naik kereta ke Takayama untuk mengejar tour bus pagi ke Shirakawago, tapi lagi-lagi rencana berubah. Kami gagal berpindah line di Oomiya. Selain kami memang hanya punya waktu 2 menit untuk berpindah, kami juga tidak punya ide dimana line berikutnya berada. Praktis jadwal mundur. Kali ini kami tidak punya Plan B. Akhirnya setelah akabane station kami memutuskan untuk turun dan memperbaiki rute. Kami berencana ke Odawara kemudian Atami dan bermalam di Minoota. Perjalanan ke Odawara sukses. Tapi kereta dari Odawara ke Atami mengalami keterlambatan karena ada kecelakaan. Kami terpaksa harus menunggu dan memutar otak untuk kembali menyesuaikan jadwal. Kami harus bisa mengejar bus tour dari Takayama ke Shirakawago yang sudah kami pesan. Ini adalah tujuan utama kami. Untuk ini kami telah 8 kali berubah itinerary. Kami harus berhasil.
Atami. Ternyata kereta yang tadi berangkat terlambat, justru sampai tepat waktu. Kami setidaknya bisa bernafas lega sampai disini. Selanjutnya Hamamatsu, kami hendak menaiki kereta paling cepat, tapi sayang kereta sudah sangat penuh, sama sekali tidak bisa mendesak, terlebih lagi bawaan kami tidak sedikit. Akhirnya memutuskan ikut kereta sesuai jadwal. 17.09 kami berangkat dari Atami masih dengan hati berdebar.
Toyohashi. Keanehan terjadi. Beberapa kereta tidak sesuai jadwal. Ini bisa jadi berita buruk buat seorang teman kami yang sedaritadi menahan lapar dan kencing. Kami berpindah kereta tiada henti selama 12 jam, tidak makan, tidak pula ke toilet. Terus meluncur mengejar waktu. Tapi hal ini juga bisa jadi berita baik, kejadian ini justru memberikan harapan baru bagi kami untuk kembali ke Plan A dan menginap di Takayama. 20.34 jalan menuju Gifu. Kami masih berharap semoga kami bisa kembali ke plan A.
Gifu. Sepertinya kami memang tidak bisa kembali ke plan A. Kereta ke Takayama sudah habis. Stasiun terdekat ke Takayama adalah Minoota sekitar 2 jam perjalanan. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Minoota berharap bisa menaiki kereta paling pagi.
Kereta 2 gerbong
Kereta yang kami tumpangi ini bisa dibilang unik. Kereta ini hanya memiliki 2 gerbong dengan seorang masinis. Berbeda dengan kereta pada umumnya, kereta ini memiliki tempat pengambilan tiket di dalam gerbong, juga loket pembayaran. lebih mirip bus kota malah. Malam semakin larut, kereta berhenti di stasiun-stasiun kecil sebelum minoota. Hati semakin berdebar, apakah kami bisa bermalam di minoota? dimanakah kami harus meninap? Beberapa orang turun di stasiun ketiga. Orang-orang dari gerbong 2 menuju ke gebong 1 kemudian membayar ke masinis. Tunggu dulu, sepertinya ada yang mengganjal, jangan-jangan 18 kippu kami tidak berlaku? Apakah harus membayar lagi? Di Pemberhentian berikutnya beberapa orang pun turun, teman kami yang pemberani sang ketua perjalanan menunjukkan kippu kami kepada masinis. Yokatta! Tak ada masalah. Kami kembali menghembuskan nafas lega. Kereta semakin sepi, menyisakan kami berempat dan seorang warga lokal. Terkantuk-kantuk hingga akhirnya sampailah di minoota.
Kantor polisi
Dengan perasaan campur aduk sampailah kami di minoota. Lelah, mengantuk, lapar, mau ke kamar mandi, dan belum shalat pula. Terlebih kami belum tahu akan menginap dimana. Ruang tunggu dengan pemanas dan mesin koin yang kami harapkan tidak samasekali nampak. Udara musim dingin kembali menusuk tulang. Setelah setidaknya mencuci muka dan shalat, perburuan berlanjut mencari makan malam. Langkah kaki mulai gontai, perut pun mulai kembung. 23.30, kami yang sedari pagi makan ala kadarnya dan belum makan malam pun bergegas mengisi perut. Berbekal peta berbahasa jepang dan arah mata angin yang tidak jelas dari information center, kami pun menerjang dinginnya malam musim dingin demi sesuap nasi.
Demi melihat lingkaran warna merah dengan huruf k di tengahnya kami pun sangat gembira. Wajah pucat tetap pucat, tapi dengan sedikit binar pengharapan. Soba tempura, sup krim, panas-panad kami santap bersama furikake, chips, dan kerupuk udang jadi-jadian. Sangat sedehana, tapi berhasil membuat kami kembali bertenaga.
Lalu setelah nyawa dan akal sehat kembali ke badan kemudian mulai berfikir dimanakah kami harus menginap? Teman kami sang ketua perjalanan yang dangat bertanggungjawab mencetuskan sebuah ide. Dalam perburuan mencari makan tadi kami melewati sebuah pos polisi (Koban). Dengan harapan terdapat pemanas ruangan, colokan utuk hp kami yang mati kedinginan, dan toilet. Kami pun bergegas menuju ke tempat tersebut. Benar saja, diantara kegelapan, tempat tersebut masih menyala dan hangat. Tapi kemana semua orang? Tak satupun terlihat. Padahal ketika kami berangkat tadi, ada sekumpulan orang bakar-bakar kayu di depannya. Harap-harap cemas, kami pun menunggu. Tidak berani menyentuh apapun, mau menggunakan stop kontak pun takut dikira kriminal. Beberapa saat kemudian teman kami memberikan saran jenius ditengah kekalutan. Coba terjemahkan tulisan ini, mungkin adanya telepon disini punya maksud. Benar saja, kami bisa menelpon nomor yang tertera di sana kalau petugas sedang tidak ada. Jenius! Tapi masih ada satu masalah, bagaimana caranya menelpon? Oy kami kan tidak bisa Bahasa Jepang. Tapi kalau kami tidak menelpon, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya teman kami yang pemberani mencoba menelpon nomor tersebut. Dengan kemampuan seadanya kami berhasil menghubungi kantor tersebut. Kami tidak boleh singgah disana katanya, terlalu berbahaya karena tidak ada orang, semuanya libur awal tahun. Kami disuruh ke Kantor Polisi saja.
Benar, ini malam pergantian tahun, orang yang tadi kami lihat bakar-bakar tadi mungkin sedang berdoa dan pesta, yang kemudian sudah bubar ketika kami kembali. Memang biasanya kami juga tidak merayakan pesta tahun baru atau semacamnya. Tapi keadaan ini tetap menyedihkan. Singkat cerita kami akhirnya pergi ke kantor polisi dengan taxi. Tak jauh, supir taxi sepertinya kurang paham dengan penjelasan kami, perasaan lelah membuat kami ingin segera sampai, untungngya kami diantarkan ke tempat yang benar. Dari depan kantor tampak 2 orang personil kepolisian yang seram, sempat membuat kami ciut. Tapi semua kesan seram berubah menjadi kelegaan setelah mendapat sambutan yang sangat ramah dari kedua polisi tersebut. Kami ditanya darimana dan mau kemana, kemudian dipersilakan untuk menunggu di kantor hingga pukul 5 pagi sesuai jadwal kereta. Kami juga diperbolehkan mengisi baterai hp dan kamera kami, juga memakai toilet. Sekarang sudah bisa bercanda lagi. Bahagia lagi.
02.07 kami berusaha menjaga nyawa tetap berada pada tempatnya. Personil-personil lain mulai datang dan pergi silih berganti, bahkan ada pula anak tersesat atau entah kenapa mungkin juga habis berkelahi yang pada akhirnya dijemput orangtuanya. 04.10 shift jaga sudah berganti. Kami memutuskan untuk pamit. Tapi betapa baiknya polisi ini, beliau menyuruh kami tetap menunggu karena kereta masih lama dan terlalu dingin serta berbahaya untuk menunggu di stasiun. Setidaknya itu yang kami tangkap dari sederetan kalimat panjang beliau. Beliau kemudian menelpon taxi untuk mengantar kami ke stasiun. 04.20 belum ada tanda-tanda taxi yang akan datang, kami mulai was-was. 04.36 pak polisi kembali menelpon. Ternyata taxi yang dimaksud baru bisa datang setelah jam 5 dan otomatis kami akan ketinggalan kereta! Lagi-lagi dengan bahasa batin kami mencoba menjelaskan situasi kami yang sudah harus berangkat dari jam 5 untuk mengejar bis di Takayama. Bapak polisi menelpon perusahaan taxi lain. 04.40 berhasil! kali ini armada segera meluncur. Tidak lama taxi akan datang, kami disuruh bersiap dan menyediakan uang pas. 04.45 taxi datang, dengan tergesa kami menaiki taxi tersebut. Belum sempat kami mengucapkan terimakasih dengan benar ke bapak polisi. Tapi apa daya waktu pun tak ada. 04.50 kami sampai di stasiun, ternyata lebih cepat dan lebih murah dari semalam. Belum sempat berfikir panjang, kami segera berloncatan menuju gerbang dengan sigap menunjukkan 18 kippu kami. 1 lagi stempel menyisakan 2 tempat untuk dua hari berikutnya. Ini adalah puncak perjalanan kami. Hari ke 3 dimulai!











