Kenapa Harus Cashless? (Bagian 1)
Tulisan ini dirangkai semata bukan untuk promosi produk bank, apalagi kebijakan pemerintah. Hanya sebatas pengalaman penulis.*
āSok banget sih. Enakan juga pakai tunai kali, dari dompet, nggak pakai ribet,ā begitulah seringnya terlontar dari mulut mereka, yang lebih pro uang tunai.
Sedangkan, mereka yang kontra, jelas-jelas langsung membalas,Ā āTinggal kasih kartu, beres, ribet mana sama ngitung dan pilah uang?ā, katanya.
Orang bijak kemudian, menjawab, apapun itu yang penting bayar. Hmm, baiklah.
Anyway, tanpa uang tunai aliasĀ cashless menurut saya bukanlah hal yang baru, seperti yang dianggap kebanyakan orang sekarang ini. Padahal, kalau ditilik, semenjak mengenal industri perbankan, dan pihak tersebut menyediakan kartu yang kemudian didukung mesin EDC. Itulah prakarsa, (menurut saya) asal muasal suatu kebiasaan cashless, yang katanya gaya hidup masa kini, bermula. Setuju?
Masih begitu jelas dalam ingatan, sekitar tahun 2007. Artinya saya duduk di kelas dua sekolah menengah pertama, salah satu teman saya selalu memegang satu kartu berwarna kuning kebiruan dalam dompetnya. Selalu dia gunakan, ketika kami makan di salah satu kawasan mall di Cihampelas. Alhasil, untuk bayar parkir, dia nyaris nggak punya uang tunai. Bisa dihitung deh,Ā kapan dia stok uang tunai di dompetnya. Jarang sekali.Ā
Berbeda, saya kala itu. Yang sama juga, menganggap kalau menyimpan uang dalam kartu, adalah sesuatuĀ āwahā. Dulu, nggak logis aja deh pokoknya. Toh bayar apa-apa kan pakai tunai. Malah, saya kira dulu, ngegesek itu adalah kredit. Apa itu debit, nggak kenal, haha.
Time goes on, di awal bangku SMA saya yang nggak punya kartu perlajar, terpaksa memiliki rekening sendiri bukan atas nama diri sendiri. Saat itu, gunanya apa? Buat jualan dan... belanja. Hahaha, terbalik deng. Belanja, kemudian insyaf dan jualan.
Disitu juga, saya mulai merasakan betapa cashless memudahkan segala aspek kehidupan. Menepis semua kekhawatiran. Rasanya nggak pernah dulu, kebingungan di luar rumah, ketika harus mendadak kebutuhan main mendadak. Bukan contoh yang baik sih, tapi ya begitulah.
Apalagi, rekening pertama sama itu si raksasa swasta. Tahu kaaan, B*A? Yang dimana-mana, toko, resto, pasti menyediakan mesin EDC. Menyenangkan jelas saja. Di sisi lain, sifat konsumtif dalam diri saya juga rasanya makin terasah garang. Hahahaha.Ā
Seringnya, cashless ini saya gunakan untuk transaksi pembayaran makan, belanja (fesyen, ritel, buku), sampai juga nyalon.
Sampai akhirnya saya nyerah di tingkat pertama duduk di bangku kuliah. Untuk meninggalkan bank yang bersangkutan. Karena ya, yang satu itu, terlalu familiar alias di semua tempat yang saya tuju pasti ada mesin EDC-nya. Mau nggak mau, boros lah awak. Apalagi, masa-masa labil... Nggak kuat >.<
Ada satu pengalaman, yang super memorable. Saya yang kali itu beralih ke bank pelat merah, mandi sendiri. Ternyata pin enam digit begitu melekat.
Sampai ketika di depan kasir The Kiosk, bolak balik pin saya salah, sampai keblokir. Tahu apa? Iya, salah digit. Huhuhu. Sebagai penganut cashless, terang saja saya nggak punya uang cash. Apalagi saat itu saya sedang makan bersama sepupu dan tiga orang temannya. Sebagai penerima tamu, kali itu saya berniat menraktir yang harus berujung malahan berutang. HUHUHU. Ya, habisan kartu andalan saya itu terpaksa koma.
Notes. Sebagaimanapun uang dalam kartu lebih mudah, nyaman, dan aman. Usahakan selalu siapkan uang tunai, untuk jaga-jaga. Terlebih, ingat nomor pin sesuai bank yang kini digunakan, ini penting!
Bagi saya, intinya, cashless hanya perkara memindahkan uang tunai ke dalam akun virtual yang nyata.Ā
Lalu, lebih boros dong? Nggak juga. Sekarang saya sadari betul artian proses. Ada saatnya kita begitu bersemangat menemukan sesuatu yang baru. Sama seperti saya saat itu. Kelamaan, kita semakin memiliki batasan kok, pemakaiannya. Apalagi, kalau saldo didalamnya kini terbatas :)). (*)