DOBRAK
Sudah sangat umum di katakan bahwa buku adalah jendela dunia. Mungkin disebut jendela karena dialah media untuk melihat keluar, melihat segala sesuatu yang ada. Layaknya buku yang membawa kita pada pengetahuan, pada segala hal yang ada di dunia.
Setiap orang tentunya memiliki kriteria-kriteria tertentu dalam memilih jendelanya sendiri. Jendela yang bisa membawa kita pada dunia yang kita inginkan, dunia yang kita harapkan membawa kita pada suatu hal yang nyaman. Namun, setelah jauh berjalan kian kemari, saya merasa telah salah memilih jendela, bukan salah juga sih, hanya saja saya masih salah memandang buku sebagai suatu hal yang vital. Saya sangat tidak suka membaca buku, dulunya.
Konteks dulu dalam hal ini adalah kisaran tahun 2016 ke belakang, dimana masa itu adalah masa-masa saya sekolah dan buku-buku bacaan yang ada saat itu sebatas buku-buku pelajaran. Tapi entah mengapa memang sulit untuk menumbuhkan minat baca yang sedemikian. Tidak ada pilihan lain saat itu, dan tidak adanya pengaruh juga menjadi faktor penyebabnya. Saya hanya terjebak pada sebuah pilihan yang kurang tepat jika disebut sebuah pilihan. Sebuah keharusan.
Namun, pada kenyataaannya sekarang, saya menyadari bahwa saya jauh tertinggal dibandingkan anak-anak seusia saya. Wawasan saya sangat sempit, kaku dan tertinggal. Seringkali merasa malu dan enggan berargumen karena tidak memiliki point of view yang baik dan wawasan yang baik sehingga diam menjadi pilihan terbaik. Sedikit menyesali hari-hari saya yang terdahulu hanya terpaku pada pelajaran sekolah dan terpenjara pada tuntutan serta padangan orang sehingga rasanya waktu itu terbuang tanpa kenyamanan.
Namun sekarang, jendela fantasi ternyata telah berhasil dibuka. Berkat dorongan pintu yang mendobrak ruang gelap dan menciptakan seberkas cahaya.
Thank u!
4 Februari 2017
Jemoshu









