#mythology #jupiter #thomaspaine #myth #theageofreason #thefaithlesspath #agnostic (at Cahuilla Mountain) https://www.instagram.com/p/CUAqjOtpjY0/?utm_medium=tumblr

seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from Türkiye

seen from Netherlands

seen from United States
seen from Estonia
seen from India

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from Singapore
seen from China
seen from Sweden
seen from Tunisia
seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
#mythology #jupiter #thomaspaine #myth #theageofreason #thefaithlesspath #agnostic (at Cahuilla Mountain) https://www.instagram.com/p/CUAqjOtpjY0/?utm_medium=tumblr

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Resurrections and things…👣 #thomaspaine #agnostic #thefaithlesspath #theageofreason #nonduality #nottwo #atheist (at Cahuilla Mountain) https://www.instagram.com/p/CT-Djarp-fM/?utm_medium=tumblr
#thomaspaine #theageofreason #thefaithlesspath (at Cahuilla Mountain) https://www.instagram.com/p/CT4rHuaF1vj/?utm_medium=tumblr
#netineti #thomaspaine #theageofreason #nondual #thefaithlesspath #notbeliefs https://www.instagram.com/p/CT2vFFqhFhH/?utm_medium=tumblr
If all you have is faith you’re screwed. #stoicphilosophy #thefaithlesspath #theageofreason? https://www.instagram.com/p/CLKq9CFnNyY/?igshid=sif9xb9rsq4t

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kita ini hidup, sudah sadar?
Entah mungkin ini kebetulan atau tidak, yang jelas film, buku, atau lagu bertema seperti ini selalu datang saja di hari-hariku. Bingung kan ak ngomong apa. Pokoknya With Love .... From the Age of Reason salah satu yang paling keren!
Sebelumnya, aku sangat terenyuh membaca dn menonton One Piece episode persahabatan Sabo, Ace, dan Luffy masa kanak-kanak. Sabo keluar dari lingkungan bangsawan karena mencium kebusukan dan kemunafikan dari kemapanan. Sistem sosial yang mengacu pada pangkat dan kesuksesan adalah kekayaan adalah tema yang sangat sentimentil buatku pribadi. AKu tidak ingin menyalahkan keluargaku, memang sistemnya yang dari dulu seperti itu. Yasudah, tetap saja film ini mencolok mataku dengan jarum kecil yang karata. Tidak pedih, tapi menyiksa.
Film ini disutradarai oleh Yann Samuell, dirilis tahun 2010 di Perancis. Berkisah tentang seorang wanita karir yang mendapatkan kado aneh ketika ulang tahunnya yang ke 40. Mungkin kita harus meluruskan dulu, apa yang terjadi dengan pekerja sukses di usia 40? Itu adalah usia paling stabil dalam fase hidup seorang manusia kalau boleh dibilang. Fase di mana perjalanan hidup sudah mapan atau sudah mahir dalam mengemudikan setir. Jadi, kado apa yang cocok untuk tema ini?
Tak lain, kado itu adalah suratnya sendiri yang dibuat ketika masih berumur tujuh tahun. Tujuh tahun itu the age of reason untuk umat Katholik. Surat ini berisi tentang bantuan atau pedoman akan cita-citanya waktu kecil. Di usia 40 yang sudah matang dan terbilang sukses, apakah patut bila mendengarkan ocehan cita-cita seorang anak tujuh tahun?
Surat ini sengaja baru dikirim ketika Margaret (Sophie Marceau) berusia 40 tahun secara periodik. Setelah sempat dibuang, surat ini menarik perhatiannya dengan berbagai pernak-pernik berwarna-warni, foto, atau juga puzzle lucu. Dari sini, Margaret mulai mendapatkan bayangan masa kecilnya yang sama sekali hilang akibat kesibukannya yang sangat padat. Margaret adalah wanita cerdas yang sangat perfeksionis-membuang kopi yang tidak enak dengan sekali seruput.
Hal-hal lucu seperti cita-citanya menjadi seorang putri--legenda putri yang harus sensitif seperti harus merasakan sebiji kacang dibawah tumbukan beberapa kasur-- membuatnya tak bisa berhenti memikirkan surat-suratnya. Bahkan, dia sampai pergi ke desa asalnya dan mencari tempat bermainnya dengan suami masa kecilnya, Philibert ( Jonathan Zaccaï). Di sana, mereka biasa menggali sumur yang diharapkan akan sampai Africa. Mereka biasa memasukan roti atau baguette ke dalam sumur dan berharap akan dimakan oleh orang-orang di Afrika. Hmmm, ngekek.
Pernikahan monyet masa kecilnya harus berakhir karena alasan keuangan yang memaksa keluarganya pindah kota. Alasan inilah yang membentuk karakter Margaret dewasa menjadi workaholic. Pada usia yang cukup remaja dia meninggalkan ibu dan adiknya ke kota besar dan tidak pernah kembali.
Dalam beberapa hal, surat ini membuatnya tersadar bahwa cita-cita dan harapannya banyak yang melenceng dari harapan sewaktu kecil. Ini semakin membuatnya gusar dengan apa yang telah kini ia jalani. Perasaannya kacau karena melupakan keluarga dan juga Phillbert. Dengan kembali menelusuri jejak-jejak masa kecilnya, Margaret berupaya menyusun kembali hubungan dengan orang di masa lalunya dan juga meluruskan cita-citanya.
Yann Samuell termasuk orang yang baru kukenal sebenarnya. Entah aku yang tidak tahu atau apa, tapi namanya memang tak sebesar Almodovar, Scorsese, Oliver, atau bahkan Inarritu. Paling tidak, lewat film ini sudah cukup membuatku kepincut dan ingni menonton film-filmnya.
Screenplay dia kerjakan sendiri. Ini menambah pujianku karena imajinasinya benar-benar sangar. Mungkin ini bisa dibayangkan seperti The Fall karya Almodovar dengan menampilkan imajinasi anak kecil. Seperti itulah visualisasi surat-surat Margaret kecil.
Mungkin sudah menjadi trah film Perancis atau Eropa, ya, film ini memang ringan tapi cukup mengernyitkan dahi. Kalau biasanya laurnya lambat, di sini dibuat sangat cepat tanpa membuat penonton mencerna adegan dulu. Tiap layar langsung dihujani dengan dialog-dialog yang otak harus menyesuaikan diri dulu tapi sudah berpindah pada scene lain yang juga berefek sama. Ngehek.
Tentu saja bukan itu maksdku menulis ini. Aku tertampar sadar ya karena film ini mempertanyakan kembali kesuksesan. Seperti apakah cita-cita, pentingkah? Film ini menjawabnya dengan cukup adil.
Aku tiba-tiba menjadi marah, sedih, tapi juga senang menghayati film ini. Perasaan yang campur aduk akibat film sudah cukup membuatnya laak untuk diresensi. Selain memang unsur-unsur film sangat layak untuk ditulis.
Ayolah, jika kita berusia 40 tahun, sudah mapan, sukses secara finansial, apakah kita rela meninggalkan itu semua demi cita-cita waktu kecil? Apa jadinya hidup mapan tanpa cita-cita yang terlaksana? Margaret merasa itu semua kosong. Hari-hari yang berlalu akan terasa hampa seperti robot saja.
Film ini adil, bukan memaksa Margaret kembali memainkan klarinetnya atau juga akrab dengan hal-hal kreatif lainnya tapi membarkannya tetap pada pekerjaan lama. Bedanya, pemaknaan hidup yang dia dapat dengan keluarga dan orang terdekat membuatnya menjadi manusia. Begitulah surat terakhir Margaret kecil.
Return of Newsguy