Masa Depan Anak Bangsa Tanggung Jawab Siapa?
Saya tak sengaja melihat sebuah pentas seni kenaikan kelas di salah satu sekolah dasar dekat tempat tinggal saya. Canda tawa datang dari mereka yang merasa senang sambil menonton pentas seni itu. Ketaksengajaan saya melihat pentas seni di sekolah dasar tersebut tepat saat seorang anak sedang bernyanyi, seorang anak perempuan kira-kira kelas 4 sekolah dasar. Sedih, itu yang saya rasakan melihat sang anak bernyanyi. Bukan sedih karena suaranya yang tidak bagus tapi karena anak tersebut menyanyikan lagu dangdut dewasa sambil berjoget-joget seperti penyanyi dangdut dewasa, bergeol-geol atau 'ngebor' itu deh istilahnya.
Saat itu yang kuharapkan munculnya sherina, joshua, chikita meidy, meisi, trio kwek-kwek versi 2012. Penyanyi cilik yang sesuai dengan umur mereka dan memberikan warna baru dalam dunia musik anak-anak.
Saya bertambah heran dan sedih ketika orang-orang yang menonton itu tertawa melihat tingkahnya, ya mungkin saja lucu. Tetapi apakah benar seorang anak sd bernyanyi dan menari seperti itu?! Mungkin orang yang bertanggung jawab akan si anak menganggap 'gak apa lah sekali-kali' , tapi sekali-kali itu akan menjadi dua kali, sering, kebiasaan, dan lama-lama kita menganggap hal itu biasa dan bukan sesuatu hal yang salah lagi. Sangat kontras sekali dengan pentas seni yang dilakukan di sekolah adik saya. Pentas seni itu menyajikan pertunjukan drama bahasa inggris, pidato bahasa inggris, menari kreasi, dan menari daerah. Semua pertunjukan itu diatur dan dilatih dengan sangat baik agar semua sesuai dengan umurnya.
Spontan saja aku berpikir, ya Allah aku harus memilih sekolah yang baik untuk anak ku kelak dan aku harus belajar untuk mendidik anak ku dengan baik kelak.
Saya pun membicarakan hal ini dengan teman saya. Kemudian dia menceritakan di daerahnya dulu melakukan pengabdian masyarakat banyak sekali anak-anak yang bernyanyi lagu-lagu dangdut dewasa seperti itu. Saat mereka diminta untuk mendengarkan lagu-lagu masa kecil kita mereka bilang 'ngapain mending lagu hamil 3 bulan'. Saya mengerti mereka tidak mau mendengar lagu tersebut karena mereka tentu saja tidak terbiasa dan bahkan tidak pernah tahu lagu itu. Saat mereka diminta untuk mendengar lagu-lagu masa kecil kita, mereka bilang lagu apa tuh gak kenal mending hamil 3 bulan. Saat ditanya kamu ngerti apa itu hamil 3 bulan? mreka menjawab ya gitu pacaran-pacaran terus hamil deh kata sang anak.
Ya tuhan apakah engkau akan membiarkan semakin bergesernya norma-norma dalam masyarakat ini. Arghhh.. Miris sekali mendengar hal ini.
Ya lingkungan tempat bermain anak sangat mempengaruhi karakter dan perilaku anak memang. Berarti yang salah lingkungan? orang sekitar? orang yang bertanggung jawab akan anak tersebut?
Lalu teman saya iseng bertanya kepada salah satu anak, "Kamu habis sekolah mau ngelanjutin ke SMP ? Apa cita-cita kamu?" Anak tersebut menjawab, "Saya mau menikah aja ka, ngurus anak." Masih banyak anak di negeri ini yang belum memiliki cita-cita dan semangat yang tinggi ternyata.
Ya memang tidak semua daerah seperti ini, tapi hal ini menandakan bahwa masih banyak daerah-daerah di indonesia yang seperti itu.
Lalu saya teringat dengan indonesia mengajar, sangat salut bagi mereka teman-teman dari seluruh penjuru negeri yang mau ditempatkan kedaerah terpencil untuk mengajar mereka, membantu memberitahukan hal yang baik dan tidak, membantu menaikan motivasi mereka, membantu mereka untuk bercita-cita lebih tinggi dan bilang bahwa mereka bisa menjadi orang yang dapat dibanggakan oleh orang tua mereka, agama, bangsa, dan negara.
Lalu pertanyaannya saya akan melakukan apa melihat seperti ini? Hal ini menjadi pemikiran tersendiri untuk saya.
Mungkin isi tulisan ini tidak seberat judulnya, tetapi melalui tulisan lah kita bisa mengajak, membuat orang berpikir, dan berbagi walaupun dengan sederhana.