Malam ini rasanya...
Aku lupa menulis ini. Pernah adikku bilang, “Mbak, cari sahabat tuh sedikit aja, asal ngerti dan paham. Dari pada banyak, tapi fake.” Aku hanya tertawa mendengarnya. Bagiku sahabat itu sama seperti angka nol. Tidak benar-benar nyata keberadaannya. Dan aku hampir tidak memercayainya setelah beberapa fase berat kulewati jaman SMA, sebelum akhirnya aku bertemu dengan teman-temanku di kampus. Orang-orang yang kuanggap keluargaku di sini. Aku tahu, setiap orang memiliki karakter yang berbeda dengan yang lainnya. Termasuk cara menyikapi sebuah masalah. Aku tidak akan pernah membenci seorang teman yang membuatku kecewa, terlebih jika mereka bagian dari keluarga cemara –nama yang kuberikan untuk kami. Cuma, memang salah satu dari mereka terlalu kekanakan. Tidak hanya sekali dua kali ia mendiamkan kami ketika memiliki masalah. Tuturnya halus, namun nyelekit. Aku sadar, sebagai menusia biasa, ada sebagian hatiku yang tersakiti. Bagiku, sebagai dua orang yang sudah dekat harusnya ia paham bagaimana keadaanku. Jika mungkin saja, keadaanku membuatku tidak bisa ada saat ia butuhkan, aku selalu berharap ia maklum. Bukan justru membuatku merasa bersalah dan tersakiti dengan kalimat-kalimatnya. Dan ya, aku sadar, aku kurang sabar. Tak seharusnya aku merasa begini. Pernah kali suatu waktu, doi diemin aku lama sekali. Aku dan oknum D cuma bisa bertanya-tanya tanpa tahu apa yang harus kami lakukan. Sesekali menggerutu karena kami tidak memiliki kesempatan untuk sekadar bicara dengan doi. Saat itu, rasanya aku ingin marah pada diriku sendiri. Sebegini tidak berdayanya kah diriku sampai untuk memperbaiki sebuah hubungan yang retak tak mampu. Lalu, aku kembali ingat pada beberapa potongan kejadian semasa SMA. Di mana aku sengaja memilih diam dan menjauh saat hubunganku dengan dua orang teman retak tak karuan. Sedih sekali rasanya. Malam ini, kejadian itu terulang kembali. Aku tidak tahu apa sebabnya. Tapi keadaan memang membuatku banyak diam mala mini. Pertama, ponselku sedang bermasalah. Kedua, aku tidak tahu apa yang ia butuhkan. Aku hanya menjawab apa yang ia minta. Salah atau benar, aku tidak tahu. Sebab hanya itu yang bisa kulakukan. Lalu, dengan mudahnya ia mengatai. Ah, mungkin aku hanya GR. Ya, pasti aku hanya GR. Terserahlah! Malam ini rasanya jantungku seperti dipukul dengan godam besar. Ngilu di mana-mana. Ah, sudah terlalu larut untuk mengeluh. Jujur, aku tidak suka konsep pertemanan yang seperti ini. Percayalah, aku bisa membedakan mana umpatan yang bercanda dan yang serius. Selamat malam!












