Perihal Kemungkinan
Saya...selalu memimpikan hal ini:
Di Sabtu sore yang hangat, saya menemani bapak duduk santai di teras depan rumah. Sambil menunggu matahari tenggelam, kami akan membicarakan banyak hal. Mungkin salah satunya adalah wejangan bapak tentang memilih calon pendamping hidup. Diselingi dengan guyonan khas bapak yang kalau tidak ditertawakan, mungkin akan membuatnya ‘kecil hati’. Lalu, akan ada jeda di mana sesekali bapak menyeruput kopi hitamnya. Dengan nada dan raut muka yang dilebih-lebihkan dia akan berkata bahwa kopi buatan saya adalah kopi nomor satu yang paling enak di dunia. Padahal kopi yang saya buatkan tidak ada istimewanya sama sekali. Kopi dan gulanya saya beli di warung Uwak Ef. Kalau lagi malas, saya malah menyuruh anak tetangga yang masih kecil untuk beli ke sana. Dengan upah seribu rupiah, mereka pasti akan selalu bersedia. Nah, airnya saya ambil dari air leding kemudian saya masak di atas kompor gas. Soal takaran pun sebenarnya juga biasa saja. Satu sendok kopi, dua sendok gula, dan satu gelas air mendidih.
Lalu, apa istimewanya?
Bapak mungkin akan menjawab begini: “Karena kopinya buatan anak gadis bapak yang paling cantik, pastinya jadi istimewa. Nda ada yang bisa ngalahin enaknya!” Kemudian dia akan tertawa lepas. Tawa yang seketika membuat hati saya sejuk dan damai. Sebab yang saya lihat, ada seberkas cahaya kebahagiaan di kedua bola matanya. Ada pula ketulusan kasih sayang seorang bapak kepada anak di sana. Dan itu cukup membuat saya yakin bahwa sesulit apa pun hidup ini, selama saya masih bisa melihat bapak tertawa bahagia, saya pasti mampu melewatinya.
Perihnya... Semua itu hanya sebatas mimpi saja. :’)











