Di akhir pekan kita menyempatkan waktu untuk bertemu atas dasar rindu dengan cinta yang sudah semu.
Hari itu, kau yang memesankan teh sesuai janjimu pada masa yang lalu hingga terlalu lama tidak disajikan jua.
Sementara potongan kue krim itu sudah aku habiskan sebelum mendengarkan bait kata memuakkan.
Peladen mondar-mandir tak terhitung, kau tak kunjung menanyakannya. Dingin sudah, kini kita hanya bisa sama-sama saling meratap.
jangan kau hitung persoalan pengorbanan, kehangatan hilang, harapan musnah, mimpi raib, dicuri waktu dan kesempatan sia-sia
bagian hidupku berkenalan denganmu, ini sebenarnya elegi atau komedi?













