Kaum Lelaki Merasa Superior, Tepatkah?
Jika kita lihat secara sekilas, agama Islam mengunggul-unggulkan para lelaki daripada perempuan. Bisa kita lihat, bahwa para utusan Allah (Nabi) adalah para lelaki, dan itu sudah merupakan syarat mutlak. Apabila diteliti lebih mendalam, perempuan juga tampak tertindas dengan aturan-aturan yang ada di lingkup interaksi antarmanusia paling mungil, yakni keluarga.
Misalnya saja, seorang suami memiliki hak menceraikan paksa (talaq) kepada sang istri, bahkan punya kesempatan tiga kali men-talaq! [1] Dan--mungkin bagi sebagian orang terdengar mengecewakan--fakta bahwa sang istri tidak bisa berbuat hal serupa kepada sang suami adalah bukti yang bisa membantah kesetaraan gender.
Benarkah demikian?
Coba kita melakukan kilas balik (flashback) sejenak. Mari kita renungkan konflik antarmanusia pertama kali, yakni Nabi Adam dan Ibu Hawa'. Konon, dikisahkan bahwa alasan diciptakannya Ibu Hawa' adalah karena Nabi Adam merasa bosan dengan nikmat-nikmat di surga. (Maaf, belum bisa menyertakan sumber yang kredibel; saya telusuri dahulu. [2]) Kemudian, Nabi Adam meminta pada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk diberikan pendamping. Mungkin karena itulah awal mula perasaan superior muncul pada lelaki kepada kaum perempuan, karena lelaki menjadi sebab diciptakannya perempuan.
Pun, bagaimana kita bisa ketahui bahwa perempuan identik dengan kekurangannya; tubuhnya yang lebih kecil, tenaganya yang lebih lemah, dan sebagainya. Bagaimana Qobil dan Habil berselisih karena perempuan, juga bagaimana Fir'aun (Minephtah atau Merneptah, belum diketahui; yang jelas adalah fir'aun yang ditenggelamkan di Laut Merah [2]) memberi komando kepada para prajuritnya untuk membunuh seluruh bayi laki-laki di seantero wilayah kekuasaannya.
Pada intinya, saya berusaha memberi gambaran serealistis mungkin perihal bagaimana perjalanan hidup kaum perempuan. Namun, tepatkah itu yang dikehendaki-Nya; yakni bahwa Dia hendak membuat kaum perempuan berada di ketiak kaum lelaki?
Tidak.
Mari renungkan sejenak bagaimana Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wasallam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang telah dihancurleburkan.
Pada masa kevakuman utusan-Nya, yakni setelah diangkatnya Nabi Isa 'alaihis-Salam dan sebelum kelahiran Rasulullah, masyarakat Arab (bani Isra'il, suku Quraisy, dan sekitarnya) berada di tengah-tengah masa kegelapan yang disebut dengan Masa Jahiliyah. "Jahiliyah" di sini tidak bisa dimaknai dengan "bodoh", tetapi diartikan bahwasanya tata krama (akhlaq) telah luntur dalam diri manusia, terutama kaum lelaki [4]. Buktinya, kaum lelaki pada masa itu amat mahir dalam menulis syair dan banyak yang menjadi pujangga. Budaya membunuh anak perempuan yang baru lahir dapat menjadi bukti kebiadaban para lelaki pada masa itu [5].
Selepas dilahirkannya Rasulullah, perjuangan menyejahterakan kaum perempuan mulai digalakkan secara bertahap. Perintah untuk memerdekakan budak adalah salah satu jalan yang ditetapkan-Nya [6]. Sebelum munculnya perintah ini, manusia yang tak berdaya menghadapi nasib akan diperbudak, termasuk kaum perempuan. Dan, mungkin saja, persentase budak antara keduanya akan lebih banyak perempuannya; berdasarkan alasan yang telah disebutkan di atas. Pemerdekaan budak perlahan memberikan HAM bagi mereka yang tertindas sehingga manusia dapat hidup jauh lebih tenang dan damai.
Yang perlu disadari oleh kaum lelaki adalah, kaum perempuan rupa-rupanya mulai menapaki jejak dan sedang dalam perjalanan dalam menyalip kecerdasan kaum lelaki. Saya akan mengambil contoh yang super-simpel.
Najwa Shihab, putri kedua dari Quraish Shihab.
Dan, fakta mengejutkannya adalah bahwa Najwa Shihab terpilih sebagai orang paling dikagumi menurut survei YouGov (13/10/2020). Dia memperoleh suara sebanyak 18,52%, mengalahkan Presiden Jokowi yang mendapatkan 13,38% dari keseluruhan suara. Bahkan, Susi Pudjiastusi ternyata menyalip presiden kita saat ini dengan perolehan suara sebanyak 17,53%.
Bagaimana? Apa kalian masih berbangga hati menjadi kaum lelaki?
Wallahu a'lam.
Sumber:
1. Hasyiah al-Bajuri 'ala Ibni Qosim
2.
3.









