Memetakan potensi.
Ketika Muhajirin menetap di Madinah mereka tak berusaha menyesuaikan diri untuk belajar dari nol tentang profesi baru penduduk Ansar, bertani. Meski serta merta Ansar menyerahkan harta bendanya untuk dimiliki oleh saudaranya, Muhajirin. Tetapi Rasulullah memberikan kebebasan bagi penduduk Ansar mengolah lahannya sendiri dan berbagi persekian hasilnya.
Sedang Muhajirin memulai membangun bisnisnya kembali di Madinah dengan wala' (loyalitas) tinggi penduduk Ansar yang serta merta memutus hubungan dagang dengan kaum yang lain dan mulai bertransaksi dengan Mujahirin.
Itulah mengapa kita mengenal Abdurrahman bin Auf, Ustman bin Affan berjaya dengan dagangannya.
Itulah pentingnya membina iman masyarakat, madinah dengan masyarakat Madani berbahasil membangun peradaban tinggi.
Terpetiklah ma'na mendalam dari ayat : waja’alna lil muttaqina imama.
(Jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwaa).
Jadi syarat mutlak berhasilnya kepemimpinan dalam membangun peradaban islami adalah masyarakat bertaqwaa. Taqwaa adalah koentji.













