Tentang Tafsir Cinta (Panji Sakti)
S'lalu aku jatuh cinta Saat aku pejamkan mata Seketika ringkih cahaya Menekuni retakan hati Aku cintai kesakitan ini Sambil menunggu cahaya itu Bertegur sapa dalam dada Jangan Kau ambil tangisan ini Jika hanya ini yang Kau bagi Jangan keringkan air mataku Jika dengannya, ku bisa membaca-Mu Jangan Kau ambil tangisan ini Jika hanya ini yang Kau bagi Jangan keringkan air mataku Jika dengannya, ku bisa menatap-Mu Jangan Kau ambil tangisan ini Jika hanya ini yang Kau bagi Jangan keringkan air mataku Jika dengannya, ku bisa bersama-Mu Aku bisa bersama-Mu Aku bisa bersama-Mu Aku bisa bersama-Mu Aku bisa bersama-Mu S'lalu aku jatuh cinta
Entah bagaimana awalnya aku menemukan syair ini, tetapi ia berhasil membuat mataku basah. Setiap liriknya membuatku teringat dengan luka yang begitu hebat baru saja kulalui. Badai yang tak pernah kubayangkan akan menghantam ketika sepenuhnya aku yakin ceritanya akan berakhir indah.
Namun, Tuhan punya kisah indah yang lain untuk hambaNya. Saat aku sibuk menyebut nama seseorang, aku lupa memperbaiki hubunganku denganNya. Seakan aku datang hanya untuk menagih janji di setiap sujudku tanpa mau terlebih dulu mengisi hatiku dengan namaNya.
Sampai akhirnya, rasa sakit menjadi jalan kembali yang kini paling kusyukuri.
Benar apa yang lirik itu sampaikan. Jika air mata dan rasa sakit di dunia bisa menambah kedekatanku denganNya, aku rela menerimanya sebagai jalan hidupku. Aku rela terluka hanya agar lisanku ringan menyebut namaNya, agar aku berlari merindukan pertemuan denganNya.
Sungguh, setelah semua badai yang kupikir sebagai akhir, mengingat Allah di setiap gerakku lebih sering dari sebelumnya merupakan ganti yang lebih dari apapun.
"Jangan keringkan air mataku, jika dengannya ku bisa bersama-Mu"-Panji Sakti










