Aku dalam Kontemplasi Penantian #5 : Sejujurnya, Kita Butuh Support Kalian
Tulisan dibawah ini bukan untuk menjelekkan sebagian pihak, bukan. Ini hanya perasaan yang ingin aku sharing terkait lika liku seorang single yang dianggap 'telat' menikah dalam masa penantiannya.
Salah satu ujian perasaan seorang single yang dianggap 'telat' menikah adalah berasal dari lingkungan sekitar. Dimana hal tersebut justru membuat perasaan insecure para single itu semakin meningkat. Belum lagi perasaan down.
Komentar lingkungan yang nyinyir, atau basa basi yang dibalut julid, aku yakin hampir semua single sejuta umat ngalamin ini. Komentar netijen itu herannya tidak pernah habis.
Seperti misal basa basi tanya kabar, apakah sudah proses belum, sudah berapa kali dikenalin, sudah berapa biodata yang masuk, awalnya manis tapi diakhir selalu bilang nasehatin yang sifatnya nyalahin.
"Makanya jangan kebanyakan nolak, kamu sih orangnya sulit",
"Kriteria kamu tuh ketinggian, nggak usah sok deh, yang penting kan agamanya bagus, udah itu udah cukup",
"Pendidikan itu nggak penting, yang penting agamanya, banyak kok yang sarjana tapi nggak oke, dan banyak yang lulusan SMA lebih baik dari sarjana"
"Umur tuh nggak jadi masalah, banyak kok yang umurnya masih muda tapi dewasa, buktinya Nabi Muhammad menikahi Khadijah"
"Umur tuh nggak jadi masalah, buktinya Nabi Muhammad sama Aisyah jaraknya juga jauh"
"Emang kenapa kalo dia kerja di bank, bukankah kita juga menggunakan jasa bank, jaman sekarang nggak ada bank kita kesulitan, nggak usah kaku amat jadi orang"
"Kamu tuh emang orangnya sulit, siapapun ditolak, capek aku nyariin"
"Hargai dong yang nyariin, jangan ditolak terus"
"Persetujuan orang tua itu nggak penting, yang penting kamu maju dulu, urusan orang tua nanti kalo kedua calon setuju"
Itu sebagian kalimat yang aku yakin hampir semua single yang dianggap 'telat' menikah alamin, terutama wanita ya.
Hmm. Sejujurnya jika boleh meminta, semua single pengennya semua berjalan mulus, umur 25 tahun misal, udah langsung ketemu jodoh, sekali cocok, tanpa harus lika liku, mulus tanpa hambatan, begitu. Apakah keadaan ini, yang memamng seharusnya misal menolak biodata, belum bertemu jodoh, apakah ini adalah yang kita inginkan? Apakah kita mampu mengontrol semua keadaan ini? Tidak wahai sodara-sodaraku yang sudah lebih dulu menikah. Kita sama sekali tidak menginginkannya. Kita bahkan belum tahu bagaimana cara keluar dari masa single ini.
Dan sejujurnya kita juga sedih. Kita down. Kita insecure. Banyak komentar kalian yang membuat kita semakin merasa bersalah, merasa khawatir, cemas, gelisah, bingung. Bahkan mungkin kehilangan arah dan semangat.
Dan sejujurnya jika boleh meminta, kita sangat butuh support kalian wahai sodara-sodaraku yang sudah dulu berbahagia dengan pasangan kalian. Kita sangat butuh dukungan dan semangat kalian, agar tetap kuat menjalani segala macam doa dan ikhtiar. Kita juga sangat butuh doa kalian, agar segera dipertemulan dengan jodoh kita. Kita sangat butuh pelukan kalian, agar tetap tegar menjalani masa penantian. Sejujurnya kita sangat membutuhkan semua itu wahai sodara-sodaraku. Itu.
—Auxiliary, Aku dalam Kontemplasi Penantian #5









