Fulbright 1st Attempt - Dimulai Dari Study Objective
“Hello, Ninna, how are you today?”
“Mmm, nervous?”
Yah, pembukaan yang cukup memalukan sebetulnya. Eniwei, itu adalah pembukaan wawancara beasiswa Fulbright kemarin, persis tanggal 1 Juli 2015. Sepertinya saya akan mengingatnya seumur hidup karena seumur-umur baru kali itu diwawancara oleh 6 orang panelis. Rekor saya 4 orang waktu wawancara kerja tahun 2007 dulu, itupun orang Indonesia semua. Pewawancara saya kemarin ada 3 orang Indonesia dan 3 orang Amerika.
Oh iya, Fulbright adalah beasiwa yang diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat yang kalau di Indonesia dikelola oleh AMINEF (www.aminef.or.id). Kalau baca-baca di banyak blog sih beasiswa ini adalah beasiswa yang sangat prestisius mengingat perjalanan untuk mendapatkannya sangat panjang dan berliku-liku, selain juga karena AS masih menjadi negara tujuan nomor satu untuk hal pendidikan. Saya tertarik untuk mendaftar beasiswa ini karena pilihan studinya sangat banyak dan bervariasi. Juga memberikan saya kebebasan untuk mengambil mata kuliah pilihan dari luar fakultas saya. Jadi, singkat cerita, mendaftarlah saya.
Dimulai dari membuat study objective.
Study objective ini susah-susah gampang. Banyakan susahnya daripada gampangnya sih, heuu. Saya hanya diperbolehkan untuk membuat tidak lebih dari satu lembar study objective yang menggambarkan latar belakang, alasan ketertarikan saya dengan bidang studi, relevansinya dengan pekerjaan dan pengalaman saya, alasan kenapa mau studi di AS, dan rencana setelah kembali dari studi di AS. Untuk seseorang yang kemampuan bahasa inggrisnya ngepas seperti saya, website seperti www.sederet.com dan kamus menjadi sahabat setia selama pembuatan study objective. Saya juga rajin memelototin contoh-contoh study objective yang bertebaran di dunia maya. Para alumni Fulbright biasanya murah hati dalam memberikan contoh di dalam blog mereka masing-masing. Kalau bisa saya rangkum, kira-kira seperti ini saran mereka (dan saya juga, hehe):
(1). Buatlah opening yang menarik. Opening saya: “Reading article in a magazine about how a worklife could give a bad impact to employee’s personal life makes me curious about the topic of employee’s mental health in the workplace”. Cari opening yang menarik, yang menggambarkan latar belakang ketertarikanmu dengan bidang studi yang mau diambil. Kalau saya, itu sungguh dari pengalaman pribadi.
(2). Buatlah study objective yang runut, nggak lompat-lompat supaya yang baca juga enak. Bayangkan kalau tim seleksi harus membaca ribuan study objective, kalau ga runut bisa-bisa mereka malas bacanya dan study objectivemu masuk ke dalam tumpukan rejected. Study objective saya seperti ini urutannya: paragraf 1 latar belakang, paragraf 2 latar belakang ditambah pengalaman yang relevan dalam pekerjaan sehari-hari, paragraf 3 alasan-alasan kenapa mau ambil bidang studimu, paragraf 4 apa yang akan kamu dapatkan dari belajar tentang bidang studi itu plus alasan kenapa mau studi di AS, paragraf 5 apa rencanamu setelah lulus dan pulang ke Indonesia, sedikit ditambah pernyataan atau kutipan-kutipan yang eye catching juga ngga apa-apa.
(3). Kerjakan study objective dalam waktu yang cukup. Maksudnya jangan terlalu mepet karena study objective itu perlu direvisi beberapa kali, perlu dibaca ulang, perlu ditambal sulam. Kalau perlu, ajak teman yang pintar bahasa Inggris atau native sekalian untuk mengoreksi tulisanmu. Kalau saya kemarin nggak sempat kirim-kirim minta dikoreksi, jadi senjatanya ya doa aja mudah-mudahan ga ada yang salah grammar maupun vocabnya :D
Sepertinya itu saja untuk study objective. Oia, sambil mengerjakan study objective, saya juga mengisi formulir. Formulir Fulbright ini so simple, tidak seperti formulir AAS yang berlembar-lembar, formulir Fulbright mudah untuk diisi dan kebanyakan cuma berisi fakta-fakta saja, seperti pendidikan terakhir, pengalaman kerja semenjak lulus, publikasi/riset yang pernah dilakukan, keterlibatan dalam komunitas atau organisasi, dll. Fulbright juga membutuhkan surat rekomendasi (format disediakan oleh Fulbright) dari dua orang. Kalau saya, saya minta surat rekomendasi dari mantan atasan saya, dan dosen pembimbing skripsi saya dulu. Yang diminta Fulbright sih seseorang yang mengetahui kapasitas akademis dan kompetensi kita di bidang pekerjaan yang ditekuni.
Kalau sudah, ya sudah, kirim deeeh. Beserta semua persyaratan administrasi yang diminta (ada di website AMINEF www.aminef.or.id). Jangan mepet-mepet ya, jangan seperti saya yang serba kemrungsung :D. Saya kirim tanggal 14 April 2015, masukkin ke Kantor Pos pukul 15.00 WIB, padahal deadlinenya tanggal 15 April 2015. Saya sampai wanti-wanti ke petugas pos : Pak, tolong ya Pak, ini menentukan masa depan saya. Dan si petugas cuma senyum sambil mengangguk, kayanya dia sudah sering bertemu dengan orang yang mengatakan hal persis sama dengan saya, haha.
Mau tahu terusannya?
Bersambung ke tulisan berikutnya supaya ndak kepanjangan :D












