Nic & Mar - Review Yang Tercerahkan
Saya nge-fans sama Nicholas Saputra. Begitu juga dengan teman saya Novia. Kami biasa saling bertukar postingan media sosial yang ada Nicholas Saputra-nya, dan saling ber-halu ria tentang Nicholas Saputra. Memanggil Nicholas Saputra dengan sebutan pacar atau suami seperti sudah biasa saja. Habis bagaimana lagi, sejak kemunculannya di film Ada Apa Dengan Cinta, tatapan tajamnya seperti menyayat-nyayat hati para perempuan (serta mungkin saja para lelaki), dan kata-kata singkat tapi pedas yang keluar dari bibir tipisnya seakan selalu saja penuh makna dan bikin meleleh sehingga spontan kami yang menonton akan bergumam “Aaaawww”, setiap kali mas itu “bersabda”.
Film Nicholas Saputra sebagian besar sudah saya tonton. Bukan cuma karena gantengnya ya, tapi karena cool dan tatapan matanya. Eh itu sih sama aja ya? Maksud saya, selain karena hal-hal fisik itu, aktingnya juga keren Mas Nicholas ini. Terutama di film Aruna dan Lidahnya. Santai banget dan seperti keluar dari karakter Rangga di film AADC yang membesarkan namanya. Saya juga sudah nonton film-film pendeknya yang ditayangkan di Youtube yang disponsori baik oleh salah satu merk ponsel maupun aplikasi chat. Salah satu yang saya paling suka, adalah yang berjudul Nic & Mar. Tak terhitung sudah berapa kali itu film pendek saya tonton. Nggak ada bosen-bosennya. Setiap kali sedang rindu pada Amsterdam, saya selalu putar itu film pendek. Meskipun latarnya di Paris dan Praha, tapi suasananya nggak jauh beda lah, lumayan mengobati rindu. Yang saya suka juga karena di film pendek itu Nicholas beradu akting dengan Mariana Renata – mantan pacarnya. Saking alaminya itu akting, saya sampai mengira itu nggak pakai naskah lho. Mereka seperti sedang menjadi diri sendiri saja. Kayak ngobrol biasa di antara dua teman lama yang sudah ratusan purnama nggak ketemu. Kalimat-kalimat yang diucapkan juga sangat puitis dan bermakna. Ekspresinya pas betul. Kerlingan matanya, senyum malu-malunya. Hal-hal itu yang membuat saya nggak bosan-bosannya memutar ulang film pendek tersebut. Termasuk ketika saya dan Novia staycation bareng, menonton Nic & Mar tentu saja ada dalam agenda kami.
Setelah berjalan kaki makan bakso di dekat hotel, kami lalu kembali ke kamar dan membersihkan diri. Novia kemudian mengecek TV apakah bisa mengakses Youtube dari situ, yang ternyata tidak bisa. Saya lalu mengeluarkan laptop, membuka Youtube, lalu mencari Nic & Mar. Reaksi kami ketika melihat wajah Nic terpampang di layar adalah seperti biasa, mengeluarkan suara-suara “aaaaaaaaa”, “waaaaaaa”, disusul dengan komentar “ganteng bangeeeettt”, atau “gantenge ra uwis-uwis”, atau “yaampun tatapan matanya setajam silet”. Yaaah, komentar-komentar “biasa” yang kita temukan ketika Nicholas Saputra memperbaharui halaman Instagramnya dengan foto-foto yang bahkan nggak ada rupa dirinya.
Sampai di situ masih aman.
Kami lalu melanjutkan menonton. Mungkin karena sudah sering menonton, komentar-komentar kami jadi naik level. Kami mengomentari soal kenapa dulu Nicholas Saputra dan Mariana Renata putus. Gosipnya sih (gossip ya, karena kami nggak tahu kebenarannya dan untuk tahu kebenarannya harus tanya langsung ke Nicholas Saputra dan kami nggak punya akses ke situ, daaaan kayaknya nggak kuat juga kalau harus berhadapan dan ngobrol langsung dengan yang bersangkutan itu, bisa klepek-klepek nggak konsen) karena Mariana Renata ingin mengejar cita-cita sampai ke negeri Cina – eh salah, itu kan peribahasa ya – sampai ke Amerika dan Eropa maksudnya, untuk sekolah lagi dan jadi model internasional. Sedangkan Nicholas Saputra mau stay aja dan berkarir di Indonesia. Mereka nggak bisa mencapai kata sepakat untuk LDR-an, jadi putus deh. Tapi sekali lagi ini kan cuma gosiiiip yaaa, yang makin digosok makin sip, heuheu. Lalu kami utak-atik gathuk antara alasan mereka putus itu dengan alur cerita miniseri Nic & Mar ini. Kesimpulan akhir kami, Nic itu toksik bangeeeeet sodari-sodari. Sekian lama nonton Nic & Mar, bertahun-tahun, selalu terkagum dengan sosoknya dan jalan ceritanya dan latarnya, kenapa kami baru ngeh sekarang siiih. Lalu kekaguman tadi itu jadi terasa sia-sia dan percuma. Kami agak-agak patah hati.
Kok bisa sih Nic itu toksik? Begini obrolan sotoy kami.
Nic itu sadar kalau walaupun hubungannya dengan Mar sudah selesai, dia masih punya rasa ke Mar. Entah beneran rasa cinta, penasaran, sekedar testing the water aja, atau cuma kangen ketemu dan ngobrol-ngobrol sama Mar. Dia juga tahu Mar seperti masih menyimpan sesuatu di hatinya untuk dia. Secara mereka pisahnya baik-baik kan, bukan karena ada orang ketiga atau apa gitu (sekali lagi, ini sotoy karena based on gossip). Jadi yah, kayanya bisa deh ini dijajaki lagi, mungkin begitu pikir Nic saat mengajak Mar ketemuan saat dia sedang liburan di Paris.
Mar seperti biasa. Cantik, ramah, super baik, dan sangat perhatian. Dia ngajak Nic jajan roti, meminjamkan sarung tangannya ke Nic sehingga dia sendiri nggak pakai meskipun sedang musim dingin (sudah biasa, katanya), ngobrol-ngobrol, dan naik ferris wheel. Pas lagi makan roti, obrolannya jadi rada berat, sedikit banyak membuat keduanya merenung akan masa lalu: rela berpisah demi meraih mimpi masing-masing yang sekarang sudah terwujud (tapi pas terwujud kok juga nggak persis-persis banget seperti yang dibayangkan). Pas di ferris wheel, Mar kedinginan, gosok-gosok tangan. Nic lalu merangkul Mar, ethok-ethok e biar hangat. Di sini kami berkomentar: “Iyuuuuuh, modus bangeeet”. Mar yang sepertinya masih punya rasa, merasa gamang. Mau ditolak nggak enak, kan mereka “teman” lama. Akhirnya ya cuma senyum-senyum aja dirangkul begitu sambil memandang keluar jendela. Lalu pas minum kopi dan Mar lagi cerita tentang masa kecilnya dia, kok bisa-bisanya Nic menimpali “Kalau kata Warhol, people should fall in love with their eye closed”.
Di sini saya dan Novia kompak berseru “Moduuuuuus!”.
Pantas saja Mar lantas bertanya maksudnya apa, yang dijawab Nic dengan nggak ada maksud apa-apa. Tapi di situ jebakan betmen sudah disebar. Mar yang masih gamang, tambah gamang lagi digodain begitu.
Lalu hari berikutnya, saat Nic tersadar kalau sarung tangan Mar tertinggal, alih-alih kirim pesan bilang kalau mau mengembalikan sarung tangan, dia malah kirim pesan bilang “Temenin dong”. Laaaah, jelas aja Mar jadi galau. Meskipun balasannya ceria, tapi di film itu digambarkan Mar sedang berpikir keras setelah menerima pesan itu. Bersandar di tembok, menerawang, lalu ada orang lewat sambil lalu menggumam: kadang-kadang, laki-laki tidak sadar betapa istimewa perempuan yang ada di hadapannya. Nah lho! Nic sukses menciptakan badai di hatinya. Badai itu semakin hebat ketika Nic mengajaknya ke Praha.
“Cheers to our last night” Mar
“Well, does it really have to be our last night?” Nic
“Ikut ke Praha yuk, kita buktikan mana yang lebih romantis, Paris atau Praha?” Nic
“Kenapa? Kita kan udah lama banget gak jalan-jalan bareng.” Nic
Sampai di sini, saya dan Novia sudah bersorak-sorak. Woooy, modus banget woooy Nic ya ampuuuun. Kalau Mar sudah bilang nggak, ya sudahlah ya. Jangan dipaksa, jangan dirayu-rayu. Apalagi setelah Nic pamit dari apartemen Mar, dia masih berusaha membujuk dengan mengirimkan pesan. Yakin deh saya tahu apa yang berkecamuk di hati Mar. Ia masih ingin mencoba. Ia masih kepingin menjadi ‘kita’ dan bukannya ‘aku’ dan ‘kamu’. Nic mungkin tahu itu, ah bukan, Nic PASTI tahu itu. Mungkin dia juga punya keinginan yang sama, mungkin juga enggak. Ya cuma testing the water seperti yang sudah disinggung di atas tadi. Kalau berhasil, syukur, kalau enggak ya sudah.
Tapi Mar sudah terlanjur punya harapan. Dia melihat secercah sinar yang menyeruak dari kegelapan. Mungkin ‘aku’ dan ‘kamu’ itu bisa menjadi ‘kita’ lagi. Mungkin kali ini akhirnya mereka punya sesuatu untuk diperjuangkan bersama. Mar berpikir, mungkin Nic juga merasakan hal yang sama kuatnya. Mungkin Nic juga ingin kembali. Nyatanya, sejak kemarin Nic selalu berusaha supaya pertemuan mereka berlanjut. Setelah menimbang-nimbang, Mar akhirnya mengiyakan dengan membawa harapan. Dan ketika di Praha harapan itu perlahan pudar, Mar tersadar kalau tidak akan pernah lagi ada ‘kita’, Nic cuma sedang rindu masa-masa mereka bersama. Masalah yang mereka hadapi masih sama seperti dulu.
Bagian paling menyebalkan, setelah menebar harapan dengan semua flirting dan modus itu - termasuk menyewa satu kamar dengan double bed alih-alih mencari yang lain - Nic lalu bilang:
“Hubungan dua orang itu nggak gampang ya. Meskipun udah cocok, udah saling kenal, tapi kayanya itu aja gak cukup” Nic
“Ya, maksudnya nyaman aja gak cukup. They need to share the same things, they need to want the same things” Nic (Di sini kami berkomentar, ya kan memang sudah sejak lama mereka tidak menginginkan hal yang sama. Yang satu mau melanglang buana, yang satu mau stay aja di Indonesia).
“Trus kamu maunya apa?” Mar
“…….” Nic diam, lalu ada latar narasi: aku cuma ingin semuanya jadi lebih sederhana aja.
Sederhana my ass, Nic. Pikiranmu aja yang bikin rumit, iya gak sih? Ditanyain maunya apa, jawabannya malah abstrak banget. Padahal pertanyaannya Mar sudah konkrit banget itu. Pertama Mar tanya kurang apa, jawabannya sok-sok filosofis. Lalu kedua Mar tanya lagi, maunya Nic apa, tapi jawabannya diam, malah dijawab dalam hati: maunya lebih sederhana. Kampret deh.
Nic juga sudah tahu kan dia masih di Indonesia sedangkan Mar juga masih berkarir sebagai seorang model internasional. Posisi mereka masih sama. Kenapa juga mesti tebar-tebar pesona lagi, flirting-flirting lagi, pake alasan minta ditemenin, ngajakin ke Praha sekamar berdua, pake modus taruhan lebih romantis mana antara Paris dan Praha. Memanfaatkan perasaan Mar yang dia tahu pasti masih menyimpan harapan. Modus banget banget. Inilah yang kami sebut Nic itu sebetulnya toksik, ahahaha.
Kembali ke premis awal, menurut kami jelas kalau Nic sebetulnya sadar kalau hubungannya dengan Mar sudah selesai dan nggak mungkin lagi kembali bersama. Itu bukan cinta. Itu penasaran, itu testing the water. Nic bermain-main dengan keberuntungan – dan dengan hati dan harapan yang dimiliki Mar. Itu jahat. Jadi sebetulnya benar kata Cinta, yang Rangga lakukan ke Cinta itu jahat. Seperti juga yang dia lakukan ke Mar. Kalau Cinta kebetulan bertemu Mar, jadi teman, dan bercerita tentang kehidupan cinta masing-masing, mereka pasti akan curhat tentang Nic dan Rangga. Betapa Nic dan Rangga itu hobi melakukan permainan mental kepada pasangannya, ahli manipulasi, pengecut, dan nggak berani menghadapi kenyataan. Hih.
Jadi begitulah. Malam staycation yang dicita-citakan, leyeh-leyeh sambil menonton wajah ganteng Nicholas Saputra dan pujian yang biasanya dilontarkan, berganti dengan misuh-misuh dan analisis sotoy ala-ala kami. Analisis sotoy yang kalau dipikir dan ditonton lagi ada benarnya juga sih. Jelas yang dirugikan adalah Mar soalnya. Nic memanfaatkan kerapuhan itu untuk dirinya sendiri. Untuk mengetes dirinya sendiri. Nic terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan yang sebenar-benarnya.
So girls, kalau pacarmu ganteng seperti Nic atau Rangga, jangan terlena dulu. Dilihat dulu dia toksik atau enggak. Berani menghadapi kenyataan enggak. Jangan sampai suatu saat nanti harapanmu sudah melambung terlalu tinggi, tiba-tiba dihempaskan oleh sunyi yang menyergap saat kamu bertanya apa maunya dia dan dijawab dalam diam. Kalau sudah begitu, lari! Lari yang jauh dan ciptakan kebahagiaanmu sendiri.