Surat Kecil untuk Kebesaran
Teruntuk masyarakat negeri ini yang kuharap selalu sehat dan semakin cerdas.
Gue bingung deh sama masyarakat 'zaman now' yang makin kesini mulutnya makin elastis, dan jarinya makin ramping buat sinis.
Komen di berbagai media yang sifatnya sekedar nyinyir, menebar kebencian, dan gak ada rangka memberikan saran baik serta membangun.
Dear people,
Kalian hanya bisa memberikan komentar pedas ke pejabat-pejabat tinggi. Terus memberikan kata-kata kasar. Apa gak ada yang lebih bermanfaat lagi?
Walau sedikit do'a aja. Kalau perlu yang banyak.
Kenapa kita gak kerja sama aja dengan pemerintah yaitu dengan memperbaiki diri kita menjadi masyarakat berbudi dan berakhlak.
Buat kalian yang suka nyinyirin mereka yang melakukan kesalahan, apa kalian udah lebih baik dari mereka?
Cobalah berpikiran terbuka dan objektif. Letakan dirimu seolah sebagai mereka yang dikelilingi harta dan kewajiban. Berbagai beban lalu diimingi cara instan.
Itu memang pilihan mereka menjadi politikus dan terjun di kursi kepemimpinan.
Gue bukannya mau mewajari, sama sekali enggak.
Gue tau mereka salah, tapi cuma nyinyir apa menyelesaikan persoalan?
Mereka yang menjadi petinggi nyatanya orang cerdas. Mereka tau konsekuensinya, walau akhirnya mereka tetap melanjutkan itu.
Disini bisa dilihat, kalau yang diperlukan sesungguhnya itu kejujuran, yang menjadi bagian dari akhlak.
Orang-orang yang cerdas dan berakhlak gak mungkin punya hobi nyerang dan nyinyir via sosmed.
Teruntuknya masyarakat Indonesia, yang hobinya komenin dan marah-marah untuk para pemimpin di negara ini.
Nyatanya masalah di Indonesia udah kronis.
Kalau kerjanya kalian menuntut sama mereka, gak akan ada cukupnya.
Buat kamu yang merasa kinerja presiden, para gubernur dan wakilnya dan pemimpin lainnha gak menunjukkan apa-apa.
Ekhem. Memang kamu yakin bisa menggantikan?
Dua orang memperbaiki jutaan manusia serta memaksimalkan sarana dan prasarana, hahahaha.
Tapi yang berusaha diberi pelayan terbaik masih teka dan gak puas. Yaudah, Lo gak bakal merasa puas kalau bergantung dari orang lain. Lo yg tau diri Lo sendiri, bahagiakan diri Lo ajalah.
Gimana negara kita mau maju kalau masyarakat masih ngandelin pemerintah.
Mereka bukan babu woy.
Lo yang hidup buat diri Lo sendiri.
Hidup tuh simpel.
Jangan jahat kalau gak mau dijahatin.
Jangan nyinyir kalau gak mau dinyinyirin.
Jangan teka kalau gak mau disleding.
#begojangandipelihara
Ingat, kemajuan Indonesia yanh dilihat dari masyarakatnya gak akan berubah kalau masyarakat gak bisa merubah diri.
Cuma diri kita yang bisa memperbaiki diri sendiri.
So, stoplah buat nuntut. Buktiin kalau Lo bisa ngasih yang terbaik untuk dapat yang terbaik.
Termasuk, jangan buang sampah seenak dewek kalau gak mau banjir. Jangan serobot jalanan kalau mau teratur.
Gue cuma menyampaikan apa yang gue pikirkan atas negara ini, khususnya ibukota. Gue menerima kalau pemikiran kalian lain. Gue nerima kalau ada yang perlu diperbaiki jika gue salah, tapi sorry, Gue gak nerima debat.
Perdebatan hanya berisi orang-orang yang merasa paling benar dan mencari-cari pembenaran.
Gue Nisa, siswi akuntansi yang tengah menimba ilmu di sebuah perusahaan BUMN, dan bertempat tinggal di sebuah tempat yang mana kemacetan sudah menjadi kewajaran.
Jkt, 09 Feb 2018










