Forensik: Mortui Vivos Docent
07.30 “sepertinya hari ini ada”
10.30 “mayatnya sudah sampai di moewardi? sudah ada polisi?” “sudah, dokter” “jam berapa sekarang? kita visum luar dulu, kemudian sholat dzuhur, sambil menunggu surat, lalu dilanjut visum dalam”
Alhamdulillah, Allah ijabah doaku dan doa teman-teman yang mendoakanku
12.45 “aku nggak kuat mbak. tolong pegang ini” aku menyerahkan protokol visum
aku mundur... berkunang. aku hampir jatuh. segera kuposisikan berjongkok agar kepalaku mendapat darah dan oksigenasi yang adekuat. perfusi oksigen ke jaringanku bermasalah. sedari tadi aku memang sudah berkali-kali menguap. tanda bahwa otakku kurang oksigen. aku berkeringat. akral cukup dingin.
aku duduk sebentar. lalu berdiri lagi. sebentar sebentar duduk lagi, lalu berdiri lagi. rasanya sudah ingin merebahkan diri saja dengan kaki dielevasikan agar suplai darah dan oksigen bisa dialokasikan ke daerah kepala. tapi aku tidak bisa. aku sedang ada visum. seminggu yang lalu aku tidak dapat visum sama sekali. ini kesempatanku.
izinkan aku belajar Ya Allah. aku ingin belajar
15.15 “mau titip beli minum lewat **jek?” “boleh boleh.. aku butuh asupan glukosa”, jawabku
seketika pesanan minum sampai di depan kamar jenazah, aku langsung meneguknya hingga hampir setengah.
15.30 aku kembali ke ruang otopsi. tinggal ada dua mas mas petugas forensik.
“mas, mau bantu jahit”
Wahai Allah, Rabbku, kenapa tadi aku tidak sekuat ini? aku ingin belajar visum...
sepertinya aku memang hipoglikemi dan hipoksemi tadi. setelah mendapat asupan glukosa, dan ruangan otopsi tidak seramai tadi, aku mampu bertahan lama.
17.30 “kutarik omonganku yang sudah kutarik”, ucapku “kamu nggak boleh gitu. kasihan yang lain.” “udah doain aja masyarakat indonesia sehat sehat. matinya wajar” “khusnul khotimah” “iya khusnul khotimah” “bukannya aku mendoakan kematian yang tidak wajar. tapi kalau misalnya nanti aku diposisi dokter yang diminta tolong visum oleh polisi gimana? setidaknya kalau aku pernah visum gini aku tau apa yang harus aku lakukan nantinya”
korban kematian seperti itu tidak mempunyai daya, dan tim forensik lah yang bisa membantunya mengungkap apa yang ia tak bisa katakan.
setidaknya dengan melakukan pemeriksaan visum dengan benar, itu akan membantunya. itulah yang kupikirkan
setiap orang tentu ingin kematian yang wajar, yang khusnul khotimah.
hal yang pasti akan teringat ketika memasuki forensik adalah kematian. setiap hari bed dengan kain penutup datang silih berganti membawa pasien-pasien yang telah dijemput malaikat izrail di bangsal.
tinggal menunggu giliran
Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku hingga akhirnya, sebaik-baik perbuatanku hingga kesudahannya dan sebaik-baik masaku hingga menjumpaiMu
17.45 kos sepi. rupanya belum ada satupun yang pulang
“kalian nggak pulang tho? aku habis visum tadi”, ucapku di grup kos “lagi bimbingan di moewardi. kamu nyusul sini aja po?”
semua masih terbayang jelas. pasien visumku tadi masih tergolong yang baik keadaannya. sebab sering kali forensik kedatangan pasien tenggelam, pasien yang sudah mengalami pembusukan, atau pasien pasien aneh lainnya. tapi semua masih terekam dan bisa tergambar jelas dipikiranku.
18.00 aku memilih bertahan di kos meski sendiri. kemudian bersih-bersih diri dan berusaha memikirkan kembali hari ini.
apakah aku sudah memperlakukan pasienku dengan benar hari ini? apakah aku tadi sudah ikut membantu mengungkapkan apa yang tak bisa dia katakan? apa aku sudah ikut membelanya? allahumaghfirlaha warhamha waafihi wa’fuanha
rabbighfirlii rabbighfirlii rabbighfirlii
~dunia di tanganku, akhirat di hatiku~
©farha


















