Squad 1 cloak #shunsuikyoraku #gotei13 #squad1 #squad8 #cosplay #fashion (at Oak Park, Illinois) https://www.instagram.com/p/CNx14ciBJ0o/?igshid=iynuocyp1ryx
seen from China
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from France
seen from United Arab Emirates

seen from Egypt

seen from Belgium

seen from Sweden
seen from T1

seen from Australia
seen from China
seen from Sweden
seen from South Korea
seen from China
seen from France
seen from United States
seen from Japan
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Belgium
Squad 1 cloak #shunsuikyoraku #gotei13 #squad1 #squad8 #cosplay #fashion (at Oak Park, Illinois) https://www.instagram.com/p/CNx14ciBJ0o/?igshid=iynuocyp1ryx

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku dan 30dwc
Menyukai sesuatu membuat seseorang tertarik untuk mendalami. Seperti aku yang suka menulis dan ingin mengenal lebih dalam tentang kepenulisan. Karena aku masih awam tentang kepenulisan, dan belum mengerti bagaimana cara menulis yang benar sehingga aku ingin banyak belajar.
Aku memang suka menulis, lebih tepatnya menulis diary via media sosial. Sesekali membunuh waktu kosong dengan membaca novel, komik atau buku-buku lain. Saat membaca buku aku menikmati tulisannya. Imajinasi pun terbentuk memperkuat cerita.
Setelah beberapa kali melihat informasi kelas menulis online, aku mulai memutuskan untuk mengikuti. Kemudian aku mulai dimasukkan dalam sebuah grup. Kita semua saling bertukar pikiran dan belajar bersama, mengenai kepenulisan. Mengembangkan kemampuan menulis kita dan dituntut untuk rutin menulis setiap hari.
Bagiku semua ini terkadang menjadi sulit, karena aku belum bisa konsisten menulis sesuai tema yang ku tentukan sendiri. Belum bisa membuat tulisan yang bagus, yang memiliki gaya penulisan pribadi. Aku masih jauh dari kata penulis yang baik nan handal. Untuk mewujudkan keinginan menjadi penulis, sepertinya aku harus sadar diri. Bahwa menjadi seorang penulis tidak semata-mata mengikuti kelas menulis online. Kemudian tiba-tiba bisa menciptakan sebuah buku. Nyatanya aku harus lebih banyak lagi belajar.
Tujuanku masuk ke dalam grup ini memang sebatad untuk mendapatkan pengalaman dan pendalaman tentang kepenulisan. Jika tulisan-tulisanku masih belum konsisten, belum bagus dan sebagainya maka aku sadar diri. Juga belum memaksakan agar bisa membuat naskah pribadi selama 30 hari mengikuti kegiatan di 30dwc. Terimakasih kuucapkan kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikan kepadaku hingga aku bisa mengikuti kelas menulis ini. Terimakasih juga kepada semua teman-teman atas banyaknya ilmu yang telah dibagi. Semua ini akan menjadi pengalaman yang berharga untukku.
It's Me
(Autobiografi Zahra Tunsa Arida Putri)
Diakhir tantangan menulis ini, izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya secara utuh.
Hello, Assalamu’alaikum warahmatullah,
Perkenalkan nama saya Zahra Tunsa Arida Putri, lahir di Sukabumi pada hari kamis, 06 Juni 1996. Saya menamatkan pendidikan formal di SDN Tridaya Sakti 01 pada tahun 2008, kemudian melanjutkan ke SMPN 2 Cibitung dan tamat pada tahun 2011. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMAS Bani Saleh Tambun lulus pada tahun 2014. Kemudian melanjutkan pendidikan jenjang Strata 1 (S1) dengan mengambil konsentrasi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bani Saleh Kota Bekasi pada tahun 2014.
Mengenai kelebihan yang saya miliki, saya mulai memahami kelebihan diri sejak duduk di bangku SMA, kegiatan-kegiatan yang dilakukan berlandaskan pada apa yang menjadi kesukaan dan kecenderungan saya yakni dunia pendidikan dan literasi. Saya merupakan orang yang terbuka terhadap hal-hal baru. Seringkali saya tidak mengedepankan apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang diri saya sendiri, hal ini tidak mempengaruhi saya untuk terus berbuat lebih dan meningkatkan kemampuan saya dalam bidang yang saya tekuni, saya berbuat apa yang membuat saya suka dan nyaman, bukan berdasarkan omongan orang.
Pada masa-masa kuliah saya mulai merancang perjalanan karir, saya saat itu menyadari bahwa kejelasan dalam meniti karir sejak dibangku SMA harus dipertegas ketika saya dibangku kuliah adalah hal yang sangat penting. Saya teramat sadar bahwa kebahagian dan kelebihan saya terletak pada kebahagian orang lain, dari saat itulah saya membulatkan tekad dalam hal karir akan bersinghungan pada bagaimana caranya membahagiakan banyak orang, menjadi sorang pengajar dan penulis adalah pilihan saya. Pada masa kuliah jurusan keguruan, saya merupakan sosok yang aktif dalam organisasi kampus baik internal maupun ekstenal. Sehingga ketika saya menjumpai sebuah masalah besar, Saya selalu berpikir "pasti ada jalan dan atau cara yang lebih baik",
Saya adalah orang yang senang olah pikir dan terkadang lebih mengutamakan menyendiri ketimbang berkumpul, bermain, ketika hal tersebut terjadi, maka kesibukan saya lebih berfokus pada kegiatan menulis, menukis tentang apapun. Berbagai informasi atau literatur yang masuk membuat saya semakin suka melayani orang lain dan mendahulukan orang lain, tak jarang hal tersebut terkadang membuat saya merubah cara pandang terhadap orang lain dan tidak memperdulikan apakah menang atau kalah, karena yang dicari adalah kebenaran bukan pembenaran.
Saya termasuk orang yang inovatif terhadap hal-hal yang mampu dikembangkan bahkan bisa menjadikannya sebuah solusi, namun sayang saya adalah orang yang skeptis dengan orang lain. Tidak sabar terhadap sesuatu yang bertele-tele, stabilitas yang tinggi sehingga sering tidak berani mengambil resiko yang berani dan cepat. Perihal pekerjaan pun saya lebih condong pada pekerjaan yang mampu mendorong pengembangan kemampuan dan memiliki alur intruksi yang jelas seperti pengajar dan penulis yang saat ini hal tersebut adalah kegiatan prioritas saya.
Sekian secara singkat kepribadian saya, semoga saya mampu menjadi penulis sesuai dengar alurnya saya dan banyak orang yang mengambil manfaat dari tulisan saya. Akhir kata, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.
Bersatu Memajukan Indonesia Melalui Jalur Relawan
“Ketika pada zaman 4.0 ini semua harus berlandaskan uang, relawan harus hadir untuk tetap teguh ikhlas menebar kebaikan. Karena relawan harus tetap sadar, bukan masyarakat yang menuntut bantuan, tapi relawanlah yang membutuhkan jalan kebaikan.” –za96-
Sebuah quote dalam film Into the Wild berbunyi, “Happiness is only real when shared.” Kebahagiaan sesungguhnya adalah terletak pada kebermanfaatan diri bukan sesuatu yang disebut materi, begitulah prinsipnya ketika menjadi relawan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) sendiri, kata relawan atau sukarelawan adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan), dengan kata lain tidak mengharapkan imbalan materi atau sering disebut sebagai bayaran.
Menjadi relawan tidaklah seperti pekerjaan lain, pada umumnya relawan mengeluarkan tenaga, ide, dan waktu secara totalitas tanpa mengharapkan balasan secara finansial. Menjadi relawan lebih menyinggung pada persoalan kebermanfaatan yang mampu memperkaya jiwa orang lain, tidak hanya kebermanfaatan pada relawan itu sendiri. Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sebenarnya menjadi relawan akan mendapatkan imbalannya sendiri, imbalan tersebut tidak ada tandingannya. Relawan akan mendapatkan imbalan “immateri”, sebuah kepuasan jiwa, kesenangan perasaan, kebahagian batin kerena telah menyebarkan kebahagian. Tentu saja hal tersebut tidak bisa didapatkan dengan pekerjaan yang berfokus pada bekerja untuk diri sendiri.
Relawan di zaman sekarang, pada dasarnya tidak hanya mengenai bagaimana bisa mendapatkan sebuah pengalaman sebagai pembelajaran hidup, tetapi mengenai bagaimana menyentuh setiap hati nurani orang lain agar tergerak ikut menyebarkan kebaikan. Tidak bisa dipungkiri perubahan zaman senantiasa memberikan dampak besar, seperti akhir-akhir ini begitu banyak bencana alam menghampiri, penyimpangan sosial disana-sini, dan terciptanya sebuah kesenjangan sosial dimasyarakat. Hal tersebut membuat peran relawan sangat dibutuhkan, sehingga nantinya bumi tidak hanya disibukkan oleh komentar yang saling menjatuhkan, tetapi bumi akan diwarnai oleh kebaikan kepada sesama sebagai ciri khas manusia, yakni makhluk sosial.
Peran relawan untuk menyelaraskan keseimbangan bumi, berbading lurus dengan fitrahnya manusia yang diberikan kelebihan masing-masing oleh Allah Azza Wa Jalla. Kelebihan yang Allah Azza Wa Jalla berikan dapat dijadikan sebuah peluang besar untuk melakukan kebermanfaatan yang akan mendatangkan kebahagiaan lahir batin. Relawan pada zaman sekarang banyak dibutuhkan dalam segala lini, baik dipendidikan, kesehatan, politik, dan lainnya. Segala kebaikan mudah dilakukan, mudah disentuh ke masyarakat, seperti menyadarkan pentingnya pola asuh yang baik bagi anak, pentingnya pengolahan sampah yang baik bagi lingkungan, penggalangan dana untuk korban bencana alam, bahkan menyebarkan berbagai informasi yang valid dimana berisikan sesuatu yang penting bagi masyarakat itu sendiri.
Oleh karena itu, salah satu peran relawan dalam mempertahankan eksistensinya adalah dengan meningkatkan kesadaraan banyak orang terhadap rasa kepedulian terhadap sesama, kepekaan terhadap penyimpangan yang terjadi, dan responbility terhadap bencana yang datang dengan tiba-tiba. Karena, merupakan hal yang hebat ketika relawan mampu mengajak banyak orang melakukan kebaikan.
Kebaikan itu seperti virus, kebaikan juga seperti senyum, yang dapat menyebar secara cepat bagi siapapun yang melihatnya. Seorang relawan dapat mengajak orang lain melalui kisah bahagianya menjadi seorang relawan, membawa setiap energy positif dalam melewati hari-hari, tidak menutup diri mempelajari hal baru, serta bertanya sesuatu yang membuat diri terlibat dalam sebuah kegiatan. Dengan begitu, relawan zaman sekarang diharapkan mampu menginspirasi banyak orang untuk terlibat dalam segala kegiatan kerelawanan.
Menjadi relawan yang mengispirasi bukan hal yang mudah, tapi jika memiliki tujuan untuk bermafaat bagi orang lain, tentu saja semua akan terasa indah. Sangat membahagiakan memang jika bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain atau bahkan makhluk hidup lainnya. Menjadi relawan juga bisa menjadi langkah kecil untuk mengubah dunia, jadi mulailah terinspirasi untuk kemudian mengispirasi.
عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289).
Sawala
Tema : Perbedaan
Arunika terlihat begitu menggoda, udaranya yang segar, cahaya matahari yang masih nampak malu-malu, dan suara gemericik air serta kicauan burung membuat suasana arunika menjadi syahdu. Sambil mengendarai motorku dengan segenap kesadaran, aku melaju menuju tempat kerjaku. Hari ini adalah pembagian hasil ujian untuk anak-anak muridku. Betapa senangnya, karena ini adalah salah satu moment dimana kita sebagai guru bisa mendengarkan segala macam keluhan, masukan dan timbal balik dari orangtua murid terhadap anak yang mereka titipkan disini. Pada hari ini, salah satu kesempatanku untuk bisa mengevaluasi diri, jadi tidak hanya muridku yang dievaluasi, tapi aku juga.
Sangat menyenangkan mendengarkan masukan-masukan dari orang tua yang rata-rata adalah ibunya sehinggga lebih mengalir perbincangannya, sampai ada yang begitu menarik dari salah satu wali murid dimana isi pembicaraanya begitu candramawa. Bahasanya yang calak dan tegas membuatku takzim mendengarkan segala keluhan serta masukannya. Orangtua murid ini menceritakan perihal perilaku anaknya dirumah yang sering kali bermain peran menjadi seorang guru ketika bermain bersama teman-temannya. Beliau bercerita bahwa anaknya benar-benar menirukan cara mengajar gurunya, baginya ketika anaknya dirumah bermain bagaikan replika gurunya ketika disekolah.
Aku yang mendengar tentu dadaku langsung berdegup, rasa haru dan takut menyeruak bersamaan. Ada sesuatu yang menyadarkanku, aku menjadi teringat bahwa anak adalah peniru yang ulung, jika ada perilaku yang kurang baik di rumah bisa dipastikan mereka medapatkanya di sekolah. Begitu sebaliknya, jika ada anak berperilaku kurang baik di sekolah itu karena lingkungan rumahnya. Beralih dari pembicaraan tersebut, beliau juga menceritakan mengenai sawala ia dengan anaknnya perihal tatacara berwudhu. Begitu ekspresif orangtua ini menceritakan dirinya yang berbeda tatacara berwudhunya, lingkungan tempat tinggal mereka adalah lingkungan yang tata cara beribadahnya sesuai yang diajarkan oleh nahdathul ulama, sedangkan lingkungan sekolah adalah muhammadiyah.
Hal tersebut tentu bukanlah sesuatu yag harus diperdebatkan, seharusnya seperti itu. Perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam lingkungan adalah hal biasa termasuk beribadah, namun sayang pemikiran yang wajar hanya berlaku untuk orang-orang waras atau “open minded”, bukan untuk orang yang merasa ajarannya paling benar. Beliau bercerita kembali, bahwa anaknya “keukeuh” bahwa cara yang diajarkan disekolah adalah benar, sedangkan orangtuanya hanya mengetahui tatacara berwudhu yang telah dipelajarinya sejak kecil. Masih dengan keadaan yang ekspresif beliau mengatakan bahwa dirinya menyerah demi kebaikan anak, anaknya dibiarkan agar tetap mengikuti hal yang diajarkan oleh sekolah, karena beliau percaya, sekolah tempat ia menitipkan anaknya tidak akan mengajarkan hal yang tidak baik atau menyimpang. Perbedaan misi seperti itu tentu tidak akan mengubah visi kita, selama masih dalam aturan yang telah diajarkan oleh Rasulullah semua adalah baik. Perihal berwudhu ini misalnya, visi kita adalah bersuci, sedangkan misinya tergantung pada dalil shahih mana yang hendak kita ikuti. Selama visi tersebut memiliki landasan yang kuat, tentu perbedaan tidak bisa memaksa kita untuk terus menyalahkan bukan?
Sampai akhirya pembicaraan selesai pada kesimpulan bahwa berdiskusi perihal perbedaan dapat kita suarakan dengan benar. Bagi orang-orang yang terbuka pikirannya, berdiskusi merupakan ajang untuk belajar lebih banyak lagi, mencari tahu lebih dalam lagi dan bertindak lebih bijaksana lagi. Perbedaan sekecil apapun seharusnya tidak membuat kita menjadi terpecah belah, bahkan dari kejadian diatas kita bisa mengambil pelajaran, selama hal itu baik dan untuk kebaikan juga mengalah dengan cara benar lebih terhormat, dari pada kita mengotot pada suatu hal yang malah mebuat kita terlihat bodoh.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
SWASTAMITA
Tema : Persamaan
Di bawah kaki langit kami seringkali sama-sama menikmati suasana swastamita. Keadaan lembayung yang teduh, angin yang dengan lembutnya membelai kami dan suara sekitar yang tidak terlalu derau membuat kami sama-sama nyaman. Terkadang pembicaraan kami tidak hanya seputar rencana kehidupan kedepannya, tapi juga tentang apapun yang telah kami lalui pada kehidupan sehari-hari atau hanya sekedar bersendau gurau untuk meluruhkan rasa lelah. Satu hal yang aku sukai dari pembicaraan yang sering kami lalui, seabsurd apapun pembicaraan kami, dia selalu menutupnya dengan kesimpulan yang indah dan menyenangkan. Seperti hari ini, tiba-tiba dia menanyakan suatu hal,
“Kamu tahu persamaan kamu dengan senja apa?” tanyanya yang duduk disampingku dalam taman yang tidak terlalu ramai.
“Sama-sama indah,” Jawabku cepat sambil tertawa renyah.
“Indah tapi hanya sebentar saja” Sekatnya dengan wajah yang terlalu serius.
“Iya juga ya, lalu apa samanya aku dengan senja?” Tanyaku sambil memandang wajahnya
“Persamaan kamu dengan senja adalah sama-sama tempat ternyaman untukku pulang setelah seharian penat bekerja diluar.” Senyumnya simpul, aku terkadang tidak bisa sama sekali menghapus gambar wajah itu dari otakku.
“Dih gombal ya, haha bucin ih” Sambil aku buang pandangan dari wajahnya dan menahan sipu malu.
Terkadang aku bingung dengan keadaan kami, dia yang terlalu dingin untuk aku yang terlalu ekspresif, kadang membuat pembicaraan kami berputar pada hal-hal yang menggantung dan membuatku sering kali menebak-nebak apa yang akan menjadi kesimpulannya. Diawal saat ia mengajakku menggenap dulu memang aku yang lebih banyak meragu dengan dirinya yang baru aku kenal beberapa waktu, aku berfikir begitu banyaknya perbedaan yang ada dalam diri kami. Allah selalu menunjukkan kuasaNya, termasuk dalam hal ini, Allah membuatku semakin percaya dari hari ke hari bahwa janji Allah memberikan yang butuhkan adalah nyata adanya. Persamaan kami menguatkan pemahaman kami untuk sama-sama saling menerima perbedaan.
Kembali pada gombalannya yang tadi, ia sempat kesal ketika aku mengatakan bahwa dirinya bucin/budak cinta, dirinyapun kemudian menjelaskan bahwa harapannya adalah dapat menjadikan aku sebagai senjanya, tempatnya pulang, setelah lelah diluar ia ingin menjadi tempat ternyaman untuk kembali, betapa bahagia aku mendengarnya. Aku sangat bahagia bahwa tujuan menikah kami adalah sama, yaitu sama-sama ingin menggapai ridho Allah, sama-sama igin menegakkan sunna Rasulullah.
Kita yang Jadi Satu
Kita berdua tahu, kita adalah dua insan yang berbeda. Diciptakan dengan karakter yang berbeda. Sifat kita juga bertolak belakang. Kamu begitu kalem, penyabar, dan mudah mengontrol emosi. Sedangkan aku orang yang begitu heboh, gampang sekali berubah-ubah suasana hatinya.
Hobi kita juga tak sama. Kamu suka berolahraga, sedangkan aku begitu malas melakukannya. Kamu termasuk orang yang memiliki otak cerdas dan berprestasi, beda denganku yang memiliki kemampuan otak biasa-biasa saja. Betapa aku sangat mengagumi semua kelebihanmu itu, sayang.
Kamu juga lebih suka makanan yang berasa pedas, lain halnya denganku yang tak suka pedas, dan lebih memilih makanan manis. Biarkan saja aku tambah manis, asal tak jadi tambah gemuk saja. Siapa tahu, ini akan membuatmu tambah mabuk, dimabuk cinta.
Beruntung kita masih memiliki kesamaan. Sama-sama menyukai seni musik. Aku paling suka ketika kamu bermain gitar dan aku mengiringimu bernyanyi. Begitu romantis, meskipun itu hanya imajinasiku saja. Nyatanya kamu bukan tipe orang yang suka melakukan hal-hal romantis.
Meskipun kita memiliki begitu banyak perbedaan, namun tak menutup kemungkinan untuk kita bisa bersatu. Kunci dari semua ini terletak pada adanya kesamaan rasa. Kamu yang mencintaiku, pun aku yang sangat mencintai kekurangan dan kelebihanmu. Itu saja memang belum cukup. Untuk terus berjalan bersama kita harus saling percaya dan saling menjaga. Kesetiaan dan komitmen akan mampu menyatukan perbedaan kita. Aku berharap untuk selamanya. Aku dan kamu yang terus menjadi satu.
Perbedaan ini Jangan Membuat Kita Merenggang
Sebentar lagi Indonesia akan merayakan pesta demokrasi, yaitu pemilihan Presiden dan wakil Presiden. Bulan-bulan ini masyarakat ramai berdebat mengenai calon pilihannya. Saling mengunggulkan jagoan masing-masing. Kita semua tahu, ada dua kandidat yang telah mencalonkan diri.
Pemilihan Presiden tahun ini saya rasa begitu sengit dan heboh. Karena saya masyarakat awam, saya melihat beberapa kelompok yang terlampau antusias sampai terkesan fanatik. Sempat juga beredar berita di televisi, seorang keluarga yang telah dikuburkan terpaksa dipindah, karena keluarganya tidak memilih sesuai pilihan dari pemilik lahan pekuburan. Padahal mereka juga bersaudara. Hanya karena berbeda pilihan tidak seharusnya sebagai saudara melakukan hal seperti itu. Sampai melibatkan orang yang telah meninggal.
Perbedaan pilihan juga banyak membuat masyarakat kita bersitegang, berharap jagoan merekalah yang menang, karena merasa pilihannya adalah yang paling unggul. Hingga melupakan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Melupakan sopan santun dan tata krama. Kita juga melupakan asas pemilihan umum (Pemilu), yang seharusnya berjalan langsung, umum, bebas, jujur, rahasia dan adil.
Langsung artinya masyarakat harus memberikan langsung suaranya tanpa diwakilkan orang lain. Umum, yaitu dapat diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia yang telah memiliki hak pilih. Bebas, yang berarti masyarakat memilih tanpa adanya paksaan, sesuai dengan keinginan hati. Kemudian jujur, semua harus berjalan sesuai aturan. Selanjutnya adalah rahasia, berarti suara yang diberikan pemilih bersifat rahasia. Terakhir yaitu adil, yang artinya tidak adanya perlakuan istimewa terhadap pihak manapun. Jika asas ini kita jalankan dengan baik, kasus seperti di atas mungkin tidak akan terjadi.
Maka dari itu mari kita saling menghormati perbedaan pilihan ini. Siapapun yang akan memimpin negeri semoga adalah orang yang amanah, yang selalu memihak dan mengayomi rakyat. Demi menjaga perdamaian Indonesia semoga kita lebih bijak dalam bertindak, sehingga tetap terjaga hubungan baik dengan sesama.