Kekasih semesta
Senja selalu indah untuk dijadikan momen menulis sebuah cerita. Setelah menyelesaikan telepon dari sahabatnya, jemari Kaila menari di atas keyboard laptopnya.. Kurang lebih begini ceritanya,
Senja hari itu bisa jadi sesuatu yang paling kau syukuri. Wajahmu menjadi lebih sumringah ketika usai wudhu sebelum solat maghrib ketimbang wajah cemas yang penuh dengan harap seusai wudhu, subuh kala itu. Nyatanya, hari itu doa dan perjuanganmu terbalas sudah. Setelah berulang kali gagal, ratusan kali doa yang kau panjatkan dari 5 tahun yang lalu masih belum juga terkabulkan, akhirnya, hari itu semesta sedang berpihak kepadamu. Teringat, satu tahun yang lalu, ketika kau ceritakan, "Aku ingin merantau. Aku ingin menjadi dokter yang diberkahi Allah, La" Aku tersenyum, sembari ikut mengaamiinkan ucapanmu. Berbagai penolakan sana sini, tulisan merah di layar komputer yang membuatmu tak henti hentinya meneteskan air mata, omongan riweh tetangga yang menyindir, tak gentar kau hadapi dengan sangat bijaksana. Mungkin jika diijinkan, meja belajar di rumahmu menceritakan seberapa berjuangnya dirimu, aku yakin, satu hari tak akan cukup untuk menyelesaikan ceritanya.
Namun, hari ini, kau dapat berdiri gagah bersama generasi-generasi penerus bangsa pilihan negeri ini. Memberikan kabar gembira, bahwa kau telah resmi disumpah untuk menjadi dokter. Ada esensi lain yang dapat aku petik diantara percakapan telfonmu sore tadi, "La, inget gak hari itu, ketika kamu bilang senja hari itu adalah senja yang paling aku syukuri? aku merasa ada sedikit 'rasa dendam' dengan semesta, disisi lain aku bersyukur udah diterima di Fakultas Kedokteran, tapi mengapa semesta tidak mengijinkan aku untuk merantau? Ternyata, setelah serangkaian perjalanan kehidupan yang aku alami, semesta hanya menginginkan aku untuk lebih siap menjadi seseorang yang lebih baik." sedikit helaan napas darimu, kemudian kau melanjutkan, "Bener ya La, kata Ali Bin Abi Thalib, 'Balas dendam tidak selamanya dengan hal negatif, karena sejatinya, balas dendam terbaik adalah menjadikan diri kita menjadi lebih baik lagi' doakan aku ya La, besok aku akan mengabdi di Konawe. Kali pertama aku merantau untuk beberapa tahun kedepan. Semesta maha adil La, karena saat ini aku telah jauh lebih dari siap ketimbang saat senja hari itu." Kawan, terimakasih telah mengajarkanku untuk menjadi seseorang yang dikasihi semesta.
Adzan Isya berkumandang, Kaila mengakhiri tulisannya.
Yogyakarta, 23 Desember 2018















