Lelaki yang Selalu Membuatku Berdecak Kagum
Selalu tak pernah habis jika menulis tentang lelaki satu ini. Bagaimana tidak? beliau selalu membuatku bercedak kagum sepanjang hari, bahkan setiap waktu.
Kemarin sore, aku baru saja dibuat menganga bisu melihatnya.
Ceritanya, Mama ada acara kemah di sekolahnya, jadi ya Mama harus menginap diperkemahan menemani murid-muridnya. Sebenarnya Bapak juga harus menemani murid-muridnya juga diperkemahan. FYI, sekolah tempat Bapak mengajar dengan sekolah tempat Mama mengajar berada dalam satu kecamatan. Jadi, sekolah masing-masing sama-sama mengikuti acara perkemahan tersebut. Bedanya, Bapak harus sesekali pulang untuk memastikan keadaanku baik-baik saja dirumah bersama adik, juga Mbah Kakung. Yang notabenenya, sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kalau kata Mama sih.
“Usia muda Mbah Kakung sudah dihabiskan untuk mencari uang buat biaya pendidikan Mama dan saudara-saudara Mama, dek”
Sekarang, dimasa tuanya ini, penglihatan Mbah Kakung sudah tidak berfungsi. Mandi harus disiapkan, makan harus disajikan didepan beliau, Buang Air Kecil, Buang Air Besar, semua yang mengurusi Mama sama Bapak. Tentunya, dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, mereka tak pernah mengeluh mengurus Mbah Kakung.
Jadi akhirnya, 3 hari ini Bapak sendiri yang harus mengurusi Mbah Kakung. Menyiapkan segala peralatan mandi Mbah Kakung, menyajikan makanan, wijikan, minumannya. -you must know that, bapak sendiri yang memasak, aku hanya membantu- Dan keperluan-keperluan lain.
Mama? Bapak tidak tega jika Mama yang harus pulang-pergi-pulang-pergi dari perkemahan menuju rumah. Bapak bilang, mending Mama tetap berada dalam perkemahan menjaga murid-muridnya.
Sore itu, Bapak pulang dan aku sedang membaca buku. Setelah beberapa lama kemudian, ketika sudah bosan membaca, aku memutuskan untuk mengambil handuk dan meluncur menuju kamar mandi.
Sesampainya dikamar mandi, aku kaget melihat Bapak membilasi baju-baju.
“Lhoh, Bapak. Itu sudah dicuci?”
“Sudah tadi dimesin cuci, ini bapak tinggal bilasin” Kata bapak dengan wajah seperti biasanya, senyum menyungging dari bibir.
“Sini sini, Nai bantu sini. Katanya ini mau dicuci Mama besok kok, malah Bapak sudah nyuci..” Kataku sambil membantunya dan harus mengurungkan niat untuk mandi.
“Kasian Mama, pasti dia capek..”
Oh please, Bapak juga capek, Bapak tak beda kegiatannya sama Mama. Malah lebih capek Bapak daripada Mama. Bapak tak pernah punya lelah melakukan apapun. Tidak sama sekali. Kejadian ini hanya sedikit dari banyak sekali sesuatu yang membuatku kagum dengan Bapak. Yang terpenting, Bapak selalu mengajarkan sesuatu dengan sedikit teori dan banyak praktik.
Bapak tidak pernah malu menyapu halaman rumah dengan penuh senyum tanpa keluh sama sekali. Beliau tidak pernah memaksa anaknya untuk harus melakukan ini, melakukan itu. Beliau memparaktikkannya sendiri, sampai-sampai aku harus malu sendiri dihadapan beliau. Bagaimana tidak? Terkadang, ketika aku menonton tivi di sore hari, eh tiba-tiba aku melihat kasrak-kusruk didepan rumah, pas aku lihat ternyata bapak sedang menyapu halaman rumah. How I am embarrassed with him? Harusnya aku yang berada diposisi itu. Harusnya aku yang nyapu. Yah, karena aku menunda-nunda menunggu suasana sudah adem disore hari, akhirnya bapak sendiri yang melakukan. Maafkan Nai, Pak.
Bapak pandai memasak,beliau pernah bercerita dulu waktu mondok, beliau yang selalu memasak bareng dengan dua temannya. Bahkan, sambal buatanku kalah lezat dengan sambal buatan Bapak. Jangankan sambal, sayur lodeh yang bumbunya begitu rumitpun, Bapak bisa memasaknya. Oh Bapak, aku harus menanggung malu karena lebih hebat memasakmu daripada memasakku. Huaaaa.
Bapak adalah guru agamaku. Bapak paham Tarikh atau sejarah-sejarah Islam. Terkadang dia aku ajak main tebak-tebak tentang sejarah Islam, mulai dari kisah keseharian Nabi, perang-perang yang ada sejak zaman Nabi dan masih banyak lagi. Bapak paham Qur’an-Hadist. Aku yang sering bertanya jika ragu tentang suatu Hadist yang aku diskusikan bersama teman-temanku. Bapak paham Nahwu-Shorof. Beliau pandai memahami makna Al-Qur’an, memaknai kitab-kitab kuning.
Ah, jadi malu sendiri mengingat waktu SMP dulu dimadrasah.Waktu itu Bapak sendiri yang ngajar. Bapak bilang, beliau saat itu tidak akan meyuruh maju satu persatu untuk membaca hasil makna’an dari kita kuning didepan kelas sebelum berangkat ke madrasah. Aku dengan santai memaknainya hanya separo-separo. Eh tiba-tiba.
“Naily, maju. Baca ulang hasil pemaknaan tadi.”
Aku kaget bukan kepalang. Lha aku maknainya cuman separo-separo? Akhirnya aku disuruh berdiri didepan kelas, malu tak terbendung ketika itu. Untung bukan cuma aku yang tidak memaknai kitabnya, jadi malunya ga maksimal-maksimal amat. Eh, malunya tetep maksimal ding. Pft.
Tiba dirumah, “Bapak, katanya tadi ga bakal disuruh maju. Kok aku disuruh maju?” Protesku.
“Siapa yang suruh nggak maknai, sekarang kamu ketahuan, maknai pas waktu maju disuruh maju doang tho? Hemm, kamu gagal jadi murid Bapak. Padahal menuntut ilmu itu tidak disuruh hanya karena disuruh maknai, tapi karena Allah. Bukan hanya menuntut ilmu, semua yang kita lakukan didunia ini harusnya karena Allah. Maka itu, selalu libatkan Allah dalam kasus apapun.” Bapak menjawab dengan santainya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Aku terdiam tanpa kata. Bapak benar, sejak saat itu aku tidak lagi menuntut ilmu karena apapun. Seperti yang Bapak ajarkan, menuntut ilmu hanya karena Allah, yang memberi ilmu.
Bapak selalu menghargai pendapatku. Tak pernah protes. Kalaupun protes, pasti pelan-pelan tanpa menyinggung perasaanku sama sekali. Bapak yang hobi bercanda denganku diwaktu senggang. Cerita fiktifnya selalu lucu. Selalu konyol.
Bapak yang selalu membakar api semangatku kembali ketika semangat di dalam diriku mulai padam diterjang hujan. Bapak selalu bilang.
“Kalau kamu malas gini, gimana kamu menjadi perempuan tangguh ketika sudah bersuami dan memiliki anak? Lihatlah Mama, dia perempuan hebat. Jarang ngeluhnya.”
Aku tersenyum dengan semangat yang kembali membara di dalam dada.
Bapak yang selalu meneleponku dengan sebuah pertanyaan yang tak pernah ketinggalan diucapkannya ketika aku masih berada di perantauan.
“Dek Nai, kamu pulang kapan? Bapak sama Mama kangen..”
Begitulah sosok Bapak didepan mataku, beliau selalu hebat. Selalu menjadi inspirasi tersendiri bagi diriku.
Aku berharap, suatu saat nanti, aku ingin memiliki suami sehebat Bapak. Yang selalu mengajari anak-anaknya tentang makna kehidupan dengan selalu menghadirkan Allah disetiap waktunya. Bahwa hidup ini adalah dari Allah, karena Allah, dan selalu untuk Allah. Yang mengajari anak-anaknya dengan banyak-banyak praktik, sedikit teori. Yang tak pernah mengeluh dalam hal apapun.
Tiga kata yang selalu kuucapkan kepada beliau “Ana uhibbukum fillah, Bapak :)”