"Dek liat tuh di dapur ada kucing bawa tikus." Si anak lari ke dapur sesuai perkataan ibunya. Si ibu langsung tancap gas ninggalin anak yang lagi nyari kucing "boongan". Pas anak kecewa ternyata kucingnya ga ada, dan pas lihat teras rumah ternyata ibunya juga ga ada. Perasaan kecewa dan merasa ditipu bikin dia nangis kejer. . Beberapa kali lihat adegan begini, ayah atau ibu berbohong mengelabui anak biar ga ikut mereka pergi, ntah pergi kerja atau karna urusan lain. . Padahal taukah ayah ibu, kalo Allah berfirman di Q.S Annisa : 9, "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berkatalah dengan qaulan sadidan (perkataan yang benar)." . Kata Moh Fauzil Adhim dibukunya Saat Berharga Untuk Anak Kita, menjelaskan "qaulan sadidan" adalah berkata jujur, benar dan tidak mengelabui. Agar kita dapat berkata benar, perkataan kita kepada anak harus sesuai prinsip kebenaran. Selain itu, kita belum dikatakan berbicara dengan "qaulan sadidan" apabila kita berbohong kepada anak kita dan menutupi kebenaran. Contohnya seperti kejadian di awal tadi. . Tampaknya sepele, tapi akibat yang ditimbulkan karena perkataan kita yang mengelabui bisa tak terduga. Berawal dari perasaan ditipu dan dikhianati, anak belajar tidak percaya pada orangtua. Semakin besar ketidakpercayaan itu dirasakan anak, maka ia akan sulit mempercayai dan menerima perkataan orangtua sekalipun itu nasehat paling tulus dan jujur. . Ayo kita belajar jujur pada anak, walaupun di awal itu menyakitkan dan melelahkan π . #duapuluhlima #MandiraOnlineCompetition2019 #SeriTeladanRasulullah https://www.instagram.com/p/B337g09pM0F/?igshid=ur2guyafzp3z