Keara (Part 13: Jodoh si Peri Cantik)
Liburan kali ini mengirimku ke kota ini, lagi. Kota kesukaanku yang kalau petang maka seisinya akan dibuat menguning. Tidak seperti disana, untuk menyaksikan senja aku harus pergi mendekati laut dulu. Tetapi disini dari pintu depan rumah saja, senja sudah bisa terlihat sedang menari-nari riang bersama waktu yang menariknya cepat.
Pernah sekali aku bertanya ke Cahya, “Yya, kenapa yaa disini kalau udah sorean begini suasananya jadi menguning?” – “udah mau kiamat nih.” Katanya dengan tajam dan wajah serius. Mendengar jawabannya itu aku membalikkan badan berjalan menjauhinya dengan perasaan cemas. Dasar Cahya! nggak pernah asik diajakin bercanda, hmm.
Disuatu hari, suasana yang sama dengan petang yang berbeda.
“Key, kamu pengen jadi apa sih?” Katanya mendekatiku.
“Peri.” Jawabku cepat tanpa berpikir diikuti tawa yang tertahan.
“Ih, serius!” Cahya mendorongku menjauh.
Melihat Cahya yang masih dengan wajah serius menatap aku berusaha menghentikan kekehan tawa lalu menengadahkan kepala melihat langit yang sedang ramai.
“Iya, aku serius.” Aku mengangguk tegas meyakinkan Cahya yang menatapku dengan tatapan aneh. “Aku pengen jadi peri. Punya sayap, bisa terbang, bersinar, kerlap-kerlip, punya tongkat ajaib, bisa mengabulkan permintaan, baik hati dan juga cantik.” Sedikit senyum tertarik membayangkan kalau menjadi peri memang hal yang menarik. “Aku pengen jadi peri.” Kataku lagi.
“Peri yaa?” Cahya mengangguk pelan, sepertinya dia menganggap serius perkataanku barusan. Tingkahnya yang seperti ini membuatku mau bercerita jujur apa saja padanya, bahkan ketika semua orang bilang kalau hal itu tidak mungkin dia akan dengan polosnya berkata kenapa tidak? padaku.
Sesaat Cahya menatapku serius dari kaki sampai kepala. Kemudian, “Kamu tidak punya sayap, tidak bisa terbang juga, tidak bersinar, kerlap-kerlip juga nggak, tapi… kamu baik, kadang juga bisa mengabulkan permintaan. Dan…” Cahya menatapku lagi seperti sedang memastikan sesuatu lalu, “Cantik. Jadi sepertinya kamu bisa jadi peri deh Key.” Katanya mengangguk yakin menatapku.
Deg! Mataku membulat bola menghentikan kedipannya sesaat mendengar apa yang Cahya katakan terakhir. Terdiam sebentar, lalu tawaku pecah benar-benar pecah hingga sulit untuk aku hentikan. Karena hal itu perutku tiba-tiba terasa geli dan sakit bersamaan. Dan Cahya yang melihatku tidak berhenti dengan tawa malah tersenyum lebar, sepertinya dia merasa puas karena aku tertawa setelah mendengar perkataannya. Mungkin itu juga alasan yang membuatnya mengatakan hal-hal barusan.
“Ohyaa?” Ku raih kepala rendahnya. “Anak pintar.” Tawaku masih lekat terdengar dan Cahya masih setia dengan senyum polos menatapku dengan binar ketulusan.
“Tapi key..” Mendadak saja senyum lebarnya digantikan dengan kening yang dia kerutkan, “Kalau nanti kamu jadi peri apa kamu bakalan punya jodoh?” Cahya menatapku serius. Dasar anak ini! pikirannya tuh tidak jauh-jauh dari yang namanya jodoh.
“Tentu saja.” Kataku dengan sisa–sisa tawa yang masih terdengar.
“Benarkah?” Aku mengangguk mengiyakan Cahya yang menatapku dengan serius. “Memangnya siapa jodohnya peri Keara?”
“Pria sholeh.” Kataku kemudian.
CahyaAbdullah. Ampana - Jumat, 30 Juni 2017