Masih teringat dengan jelas senyummu dan pembicaraan singkat kita di malam yang gerimis itu. Tidak, bukan aku sengaja menambahkan keadaan tersebut agar lebih dramatis, tapi malam itu sungguhan gerimis. Aku tak pernah menyangka akan seberani itu berbicara langsung padamu. Mungkin kala itu sudah berbulan-bulan kita tak bertegur sapa bahkan lewat media pesan singkat. Mungkin juga disaat waktu kita sedang sibuk sendiri-sendiri itu, kau sedang sibuk merajut asmara serta menata hati dengan wanita lain yang kaupuja. Ah bukan ini yang ingin kubahas.
Kau tahu, betapa malu dan ragu memelukku erat. Tetapi aku rela menanggalkan malu, melawan serdadu ragu yang menghalangi apa yang akan kulakukan padamu malam itu. Aku hanya ingin menjadi berani, untuk malam itu, sebentar saja, berbicara padamu dengan tujuan memberikan buah tangan yang mungkin tak pernah kauterima sebelumnya. Yang seperti aku buatkan untukmu. Melihat matamu yang berbingkai lebih dekat, berbicara padamu lebih dekat, melihat senyummu lebih dekat. Ya, hanya malam itu. Lima menit? Sepuluh menit? Yang menyenangkan. Setelahnya kita kembali jauh. Sejauh Pluto yang menginginkan sentuhan hangat sinar Matahari hingga ia memilih menghilang. Berharap Matahari mencarinya atau sekadar merindukannya. Tetapi itu tak pernah terjadi, karena Matahari terlihat lebih bahagia tanpanya.
Mungkin aku seperti Pluto yang menghilang, yang masih bisa melihat kau tetap benderang. Sedang aku hanya setitik di kegelapan galaksi yang jauh dari pandanganmu. Kemanapun aku pergi kau selalu menciptakan bayang, memunculkan kenang. Bukan aku yang mengikutimu, sinarmu yang terlalu panjang.
Mungkin saat itu kau yang kusayang, tetapi Tuhan lebih sayang padaku. Dia menjagaku dengan mematahkan hatiku. Segala yang belum tiba waktunya, Ia ambil perlahan. Begitupun kenangan kau. Tetapi belum sepenuhnya juga Ia hapuskan. Tuhan bisa saja menghapuskan sekaligus, tapi itu akan sangat menyakitkan. Sebab itu, hanya kesabaran dan keikhlasan yang mampu menyembuhkan. Tidak semudah yang kaubayangkan. Semua memang butuh perjuangan, bahkan untuk menghilangkan rasa yang kupendam. Yang selalu menguatkan adalah ingatan, bahwa Tuhan sayang aku. DijagaNya aku hingga Ia tunjukkan, pada waktu yang lebih membahagiakan. Ketika segala do’a dan pengharapan dikabulkannya dalam taman penantian. Penerimaan adalah keputusan yang tepat, ketika tak tahu lagi apa yang harus diperbuat.
Bekasi, Lembaran ke dua puluh empat di bulan April, 2016.