Cita-Cita Setinggi Langit
Hallo, namaku Aldi murid kelas 1A SDN 12 Klender. Cita-citaku jadiĀ āBOLAā (bukan pemain bola)
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita semua saat mendengar kata cita-cita? entah konsep seperti apa yang muncul saat kita kecil, namun sebagian besar anak-anak ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, dan deretan cita-cita lainnya yang terkenal maupun populer. Seingat saya sewaktu saya kecil saya pernah bermimpi menjadi tukang gado-gado, lantaran tetangga saya yang berjualan gado-gado kala itu selalu mempunyai uang banyak. Bersyukur, saya tidak jadi melakoni profesi itu. Bukan lantaran profesi itu tidak mulia, tapi ternyata memang saya menemukan hasrat saya yang lain. Lalu apa yang ingin dibuktikan dengan segelintir fakta yang (mungkin) tidak seberapa itu? Bahwa ternyata cita-cita itu merupakan bentuk awal, sebuah keinginan paling sederhana dari seorang anak.
Beberapa waktu lalu dalam kesempatan menjadi relawan di Kelas Inspirasi, dalam rangka hari Pendidikan Nasional, saya banyak sekali berinteraksi dengan anak-anak di SDN 12 Klender. Saat ditanya apa cita-cita mereka, dengan antusias mereka mengungkapkan keinginan mereka untuk menjadi Koki, Dokter, Pilot, ABRI, Polisi, dan sebagainya. Anak-anak mulia dengan keinginan sederhana menjadi sesuatu yang mereka inginkan, dan mungkin menjadi awal dari bentuk pembuktian mereka kepada orang-orang di sekeliling mereka. Saya bersama rekan-rekan inspirator di Kelas Inspirasi percaya, bahwa cita-cita setiap anak itu harus digantungkan setinggi langit. Dan tidak perduli apapun background keluarga mereka, mereka harus bisa yakin kalau hal itu bisa terwujud.
āTapi kenyataan tidak bisa semanis itu, wahai nona manisā, ujar saya pada diri sendiri. Kenyataan pahit tersaji di hadapan saya bersama dengan 14 rekan inspirator yang bertugas saat itu. Saya tidak pernah membayangkan kalau di ibukota Jakarta saat ini, anak-anak yang seharusnya mempunyai impian, ternyata harus merelakan sebagian besar waktunya untuk menjalankan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tuanya. Fakta bahwa mereka mendapat tugas mengamen, memulung, atau bahkan berjualan asongan, bukan sesuatu yang saya dan rekan-rekan saya harapkan. Pahit dan menyesakkan dada, kalau sebagian besar di antara mereka ternyata tidak punya kesempatan yang sama seperti saya dalam menjaga dan merengkuh mimpi-mimpinya.
Pikiran saya berjalan ke dunia yang tak terbatas, dan membayangkan rasanya jadi mereka yang tidak bisa menjalani mimpinya atau bahkan sekedar mencoba. Saya membayangkan salah satu anak yang menangis, yang menuliskan kata-kata kasar kepada orang tuanya dalam āsurat impianā. āNona yang selalu manis, hidup memang tidak sebundar itu, perjalanan setiap orang tidak semulus ituā, ujar pikiran menggantung saya yang suka sekali muncul dengan tiba-tiba. Damn! Munculnya terkadang tidak mengenakkan, di saat waktu yang kurang tepat. Nona manis yang satu ini, suka sekali sedih secara tiba-tiba soalnya. Sang anak yang selalu ceria saat berinteraksi dengan kami, mungkin tiba-tiba tidak kuat lagi menahan bebannya. Apa yang dia rasakan saat itu, terus menggelayut dan berputar di kepala saya.
Kami inspirator sehari di SDN 12 Klender, memang tidak bisa berbuat banyak atau lebih. Tapi kami mencoba melakukan semampunya yang terbaik, memberikan hati dan pikiran kami saat itu. Semoga adik-adik itu, yang menjadi murid-murid sehari kami, bisa benar terinspirasi oleh kami yang datang dari berbagai profesi. Kalau sebelumnya diantara mereka tidak ada satupun yang ingin menjadi jurnalis radio terutama, ternyata setelah diāinspirasiā, ada loh yang ingin menjadi seperti saya. Iiiihhā¦bangga deh rasanya. Saya juga yakin ke-14 rekan saya, anggota tim yang luar biasa, juga bisa memberikan pengalaman inspirasi yang selalu bisa diingat. Mereka terdiri dari Dokter, Petugas Bea Cukai, Teller Bank, Crafter, Vocal Coach, Programmer, Dosen, Fotografer, Videografer, Arbiter Catur, maupun Travelpreuner.
Anak-anak itu menarik, dunia mereka itu terlalu sayang kalau hanya untuk dipandang sekedarnya. Seperti saya yang bisa tersenyum lepas, saat salah satu murid saya saat itu ingin sekali menjadi koki, namun belum bisa sama sekali memasak. Atau ada juga yang ingin menjadi guru bahasa inggris, namun masih ābutaā dengan apa itu namanya bahasa inggris. Cita-cita anak-anak itu memang sederhana, mereka hanya perlu diarahkan dan didukung. Sesuai dengan tema besar kelompok 44 di Kelas Inspirasi Jakarta 5, yakni Setinggi Langit, kami berharap itu yang dapat mereka lakukan. Terus berharap dan yakin, bahwa tidak perduli dari manapun kalian berasal, dengan background keluarga seperti apapun, cita-cita itu pasti bisa terwujud.
Pada akhirnya saya sebagai rekan inspirator yang ābertugasā memberikan inspirasi kepada mereka, malah terinspirasi. Ada bagian-bagian dari diri ini yang hanya bisa disentuh oleh mereka pada hari itu. Saya merasakan peluk, senyum, dan cium tulus dari mereka. Bahagianya luar biasa. Senangnya tidak terkira! Segala keruwetan, kerumitan yang dihadapi jelang Hari Inspirasi hilang semua, tidak berbekas. Terganti dengan hari yang luar biasa, yang menurut saya super AWESOME!!! Dengan segala kerendahan hati saya berharap anak-anak sehari saya, yang ingin menjadi Dokter, Koki, Guru, Polisi, Polwan, atau Asronot supaya bisa jalan-jalan ke bulan, dapat mewujudkan cita-cita mereka. Karena mimpi-mimpi yang direngkuh dengan baik, ditambah dengan usaha serta doa, pasti bisa terwujud.
Terima kasih untuk pengalaman seharinya, anak-anak yang luar biasa!!! Salam inspirasi.Ā













