Jakarta, 20:22 WIB.
Mungkin pengalaman paling menarik selama saya berada di Jakarta sejak awal Juli lalu adalah pengalaman saya buat SIM pagi ini di Satuan Pelayanan Administrasi (Satpas) SIM Polda Metro Jaya di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat.
(Yang malas baca cerita yang panjang lebar ini, langsung aja ke alinea terakhir).
Sejak awal sudah terbersit keinginan saya untuk ke sana dan menjalani secara langsung proses salah satu bentuk pelayanan publik yang katanya sudah direformasi ini. Tapi saya terbentur dua kendala: satu, informasi yang kurang lengkap mengenai prosedur pengambilan SIM yang benar (kedua adik saya "nembak" SIM mereka) dan dua, orang yang bisa mengantarkan saya ke sana. Dua kendala ini teratasi ketika saya ngobrol-ngobrol dengan supir saya Zul soal niat saya, karena ternyata dia menjalani proses yang benar tiga tahun lalu dan lulus uji teori dan praktek sehingga langsung dapat SIMnya hari itu juga tanpa menyogok.
Setelah diyakinkan Zul kalau saya pun bisa mengurus SIM dalam waktu satu hari dan dia akan menuntun saya selama berada dalam gedung (untuk menghindari calo), maka kami putuskan untuk pergi pagi-pagi sekali hari ini ke Komda (sebutan lain Satpas SIM).
Ketika saya mengutarakan rencana saya, adik-adik saya menyarankan untuk siap bawa uang untuk nembak. Bahkan orang tua saya nanya buat apa saya buat SIM Jakarta ketika sudah punya SIM Amerika. Â
Tujuan saya jelas, saya bilang ke mereka, kalau saya ingin tahu praktek pelayanan pembuatan SIM Jakarta, bukan untuk dapetin SIMnya. Jika saya tidak lulus pun ketika uji praktek, itu tidak masalah. Selama di Indonesia, saya masih bisa kemana-mana di sterin. Di Bali sama Titin, di Jakarta oleh supir. Juga, kalau memang perlu sekali, saya bisa dapetin SIM internasional di AS.
Kami berangkat dari rumah jam 6:30 pagi untuk menghindari macet sepanjang Jalan Raya Kalimalang, MT Haryono dan Gatot Subroto. Tetapi baru berapa menit jalan, kami terpaksa balik lagi karena saya pakai sendal. Zul menyarankan saya untuk pakai alas kaki tertutup. Perjalanan kami jadi tertunda lima belas menit. Sampai di Cawang sudah jam 7:30 dan ketika masuk tol dalam kota di gerbang tol Tebet 1, jam sudah menunjukkan pukul 7:40. Tetapi setelah lewat macet sebentar, perjalanan kami di tol cukup lancar karena kami menuju arah luar kota ketika banyak orang berbondong-bondon masuk dalam kota.
Kami akhirnya tiba di Satpas jam 8:15 pagi. Masuk bayar karcis parkir Rp 2000 (untuk satu jam pertama). Tidak terlihat lagi memang calo-calo yang dulu katanya berjubel menawarkan "jasa" pembuatan SIM sehari. Tidak jarang mereka menunjukkan kartu nama perwira tinggi Satpas sebagai jaminan. Saya senang dengan suasana baru ini.
Tukang parkir mobil di lapangan parkir ternyata merangkap jabatan sebagai penjual pensil 2B yang kata mereka perlu untuk uji teori di dalam. Awalnya saya menolak. "Masak ngga disediain sih di dalam?" pikir saya. Tetapi ada satu tukang parkir lain bersikeras kalau saya perlu pensil itu karena di dalam sudah tidak disediakan lagi ketika saya menanyakan perihal tersebut. Jadi Rp 2000 pun saya keluarkan untuk membeli pensil yang sudah diraut tajam, tetapi tanpa penghapus.
Ketika ingin masuk gedung, saya dihalau petugas dan diarahkan untuk "tes kesehatan" terlebih dahulu. Tes ini sebenarnya bukan tes lengkap kesehatan fisik, tetapi hanya uji kesehatan mata pemohon SIM. Loket letak pengambilan formulir dan pembayaran ada di dekat pintu masuk, di pojok kawasan kantin yang tertata rapi. Di sini, saya lihat para pemohon rapi berbaris. Tapi ada satu yang sempat nyelak di depan saya dan langsung saya tegur. Sambil nyengir-nyengir dia balik ke belakang barisan. Untuk SIM golongan A biayanya Rp 10000, B1 biayanya Rp 15000. Di loket ini, KTP asli diminta dan dijepret pake stapler pada formulir.
Dari sini, saya pergi ke sebuah ruangan kecil ngga jauh dari loket untuk menyerahkan formulir dan mengantri untuk tes kesehatan. Setelah diuji, ternyata mata saya sehat-sehat saja.
Dengan lembaran formulir yang telah ditandatangani, saya pun balik ke gedung. Zul yang awalnya mau menemani saya, tidak dapat masuk karena dia tidak punya alasan untuk masuk. Di sini, terlihat pengurangan calo dan pengetatan penjagaan orang-orang yang tidak berkepentingan suatu perubahan yang terlihat menuju arah reformasi pelayanan.
Di dalam, tanda panah ke kanan bagi pemohon SIM baru mengarahkan saya pada ruangan yang masih agak lengang pagi itu. Saya ke loket Permohonan Pembuatan SIM. Biaya yang dikenakan, Rp 75000 untuk SIM baru, Rp 50000 untuk perpanjangan SIM. Formulirnya pun singkat, hanya satu halaman. Di antara informasi yang diminta, tinggi badan, nama ortu dan alamat lengkap harus kita ketahui untuk bisa mengisi formulir dengan lengkap.
Selesai mengisi formulir, saya ke loket sebelah untuk membayar "asuransi" dan menyerahkan 1 fotokopi KTP. Iya, saya pun ngga ngerti awalnya, asuransi apa pula ini. Di tanda terima pembayaran yang besarnya Rp 15000 ada keterangan bahwa biaya itu merupakan biaya premi Asuransi Kecelakaan Diri Pengemudi untuk jangka waktu lima tahun. Tanda bukti pembayaran digunakan sebagai bukti pengambilan Kartu Asuransi.
Dari sini, saya dioper ke loket 2 di bagian belakang gedung. Sebelum masuk harus mengambil dan mengenakan kartu tanda pengenal terlebih dahulu (kalau kartu ini hilang dendanya Rp 5000). Di loket nomor 2 saya antri, dengan perasaan senang campur cemas khawatir tidak akan lulus uji teori karena tidak ada buku pedoman peraturan lalu lintas (lantas) yang bisa saya pelajari sebelumnya. Di loket, si bapak penjaga sempat berbincang-bincang sedikit dengan saya. Dia nanya apa saya sudah punya SIM sebelumnya dan pekerjaan saya sekarang. Ketika saya bilang tidak dan saya mahasiswa di sebuah universitas di luar negeri, dia berujar, "Oh sedang liburan ya?"Â Setelah itu dia minta "biaya administrasi" sebesar Rp 10000. Ketika saya minta tanda terima, dia bilang tidak ada. "Kok ngga ada?" tanya saya sambil menunuk bukti pembayaran di loket-loket sebelumnya. Dia mengulang kalau memang tidak ada dan saya disuruh ke lantai dua untuk memasuki ruang uji teori secepatnya. Di sini saya juga diminta fotokopi KTP 2 biji. Saya sempat mangkel dengan adegan ini. Bukan jumlah uang yang harus saya keluarkan, tetapi praktek pungli yang masih dilakukan.
Beruntung saya datang pagi sekali, sehingga dapat mengikuti gelombang pertama uji teori jam 9:30. Ada dua ruangan tempat uji teori, ruang I (38) dan ruang II (33). Jadwal uji teori berlangsung selama setengah jam yang dilakukan berselang-seling di kedua ruangan ini. Gelombang keenam (terakhir), baru bisa ikut tes setelah istirahat makan siang jam 13:30-14:00 WIB.
Di dalam ruang uji teori, ada dua polisi berseragam dan satu perwira yang berpakaian biasa. Berdasarkan golongan SIM yang ingin dibuat, kami diminta datang ke depan bergilir mengambil lembaran soal yang dilaminasi dan formulir jawaban. Di ruang ini saya sempat panik sedikit, karena tidak bawa penghapus. Dengan PD-nya saya langsung mengisi formulir tanpa menunggu petunjuk dari si perwira. Memang mungkin disengaja formulir jawaban tidak ada petunjuk pengisian karena semuanya diperintahkan. Menulis nomor registrasi, jenis kelamin dan golongan SIM di sudut kiri atas beserta mengisi nama, alamat, dan tanda tangan dengan pulpen. Sedangkan mengisi golongan dan seri SIM berikut jawaban-jawaban kita baru dengan pensil. Saya keburu mengisi kolom registrasi, itu pun salah. Di sini saya sempat panik. Sempat maju ke depan menanyakan hal ini sambil tadinya mau minta formulir baru. Tapi si perwira bilang itu tidak masalah. Untung juga ketika saya kembali duduk saya lihat ada orang yang bawa penghapus yang lantas saya pinjam.
Materi ujian sebanyak 30 soal dan presentasi kelulusan adalah 60% atau minimum 18 soal harus dijawab dengan benar. Sebagian besar soal memang cukup mudah walau ada beberapa (seperti dibawah ini) yang saya ragu mana jawaban yang benar.
1. Dalam hal apa anda harus menggunakan lampu DIM pada malam hari?
A. Apabila lantas yang datang dari depan silau oleh lampu besar anda atau apabila ada kendaraan lain yang bergerak di depan andta anda berada dalam jarak relatif pendek.
B. Apabila anda hendak mendahului kendaraan tidak bermotor.
C. Apabila anda sedang berhenti di pinggir jalan.
2. Anda sedang mendekati suatu jalan yang menanjak tanpa dapat memandang di belakang puncak bukit tersebut. Dimana gerakan untk mendahului kendaraan bermotor lain harus ditempuh?
A. Setiap saat setelah menggunakan isyarat.
B. Sebelum dimulai gerakan menanjak.
C. Mulai dari puncak bukit.
3. Anda hendak berpindah ke lajur lain di jalan satu arah. Apa yang harus anda pertama-tama perhatikan?
A. Perhatikan lantas di depan anda.
B. Perhatikan lantas di belakang anda.
C. Perhatikan lantas di samping anda.
4. Dimana anda tidak diizinkan berhenti meskipun tidak ada rambu larangan berhenti? Â
A. Di ata garis tengah membagi jalan lantas
B. Pada jalan masuk/keluar tol.
C. Di depan gedung sekolah.
Pada jam 9:45, soal diminta dikumpulkan selesai atau tidak selesai. Pak perwira mengumumkan bahwa nama kami akan diumumkan di loket nomor 5 setelah ujian selesai dikoreksi.
Selama menunggu hampir satu jam, saya menyempatkan diri melakukan beberapa hal. Saya kembali ke loket 2 dan menanyakan beberapa orang yang ngantri di situ apakah mereka juga dipungut bayaran "pungli" Rp 10000 tanpa tanda pembayaran. Orang pertama yang saya tanya bilang tidak. Saya tambah geram. Lebih-lebih tepat di samping loket tersebut ada kotak pos pengaduan. Saya langsung men-draft surat komplain. Tapi setelah seleseai menulis saya menanyakan lagi ke beberapa orang, dan ketiga orang tersebut menjawab bahwa mereka pun diminta Rp 10000. Malah ada satu yang berujar ketika saya tanya apakah dia diberikan tanda bukti pembayaran, "Ngga, Pak. Mungkin untuk cepetnya aja." Berdasarkan hasil "suvey" ini, saya mengurungkan niat memasukkan surat pengaduan.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 lebih ketika nama saya dipanggil oleh petugas di loket nomor 5.  Sebelumnya, sempat seorang petugas di loket nomor 9 yang tidak jauh dari situ juga mengumumkan nama-nama orang yang diminta untuk mengambil berkas-berkasnya. Suara sahut-sahutan kedua petugas itu sangat mengganggu dan menyulitkan para pemohon mendengarkan nama-nama yang dipanggil.
Ketika nama dan alamat saya disebut, saya menuju loket untuk mengambil kertas slip ujian. Ternyata saya ... tidak lulus. Hanya betul 8 dari 30 soal yang diujikan. Terus terang saya tidak habis pikir kenapa saya bisa tidak lulus, padahal banyak soal yang relatif mudah dijawab dan saya cukup yakin jawaban saya benar. Paling tidak ada 10 soal yang saya jawab benar. Di kertas yang saya ambil tertera tanggal 7 Agustus, tanggal saya dapat kembali lagi mengulan uji teori. Tetapi saya akan sedang berada di Denpasar saat itu.
Langkah gontai mengiri kekecewaan saya menuju pintu keluar. Tetapi, saya lantas memutuskan untuk kembali ke loket untuk menanyakan apakah saya bisa kembali setelah tanggal 7 Agustus. Kalau bisa, tenggang waktunya berapa lama. Pak Polisi yang menyerahkan slip kertas ujian kebetulan baru saja mau keluar dari loket. Dia lantas saya cegat.
"Pak kalau kembali sesudah tanggal 7 boleh?" tanya saya.
"Boleh," katanya lagi. "Sampai seminggu, dua minggu sesudahnya pun boleh." Â
"Oh begitu. Kalau lewat waktu dua minggu bagaimana? Karena saya sering pergi ke luar kota, Pak" ujar saya sambil sedikit berbohong. Â
"Lewat satu bulan pun boleh." Â
Melihat saya kelihatannya sedikit memelas, dia pun lantas, tanpa saya duga-duga, menawarkan jasa pembuatan SIM dalam sehari. Kaget campur penasaran, saya memutuskan untuk meladeni tawaran dia.
"Berapa, Pak?"Â tanya saya lagi. Dia lantas mengiring saya ke lantai dua ke tempat yang agak lebih sepi. Â
"Begini, itu nanti saya acc saja. Sudah siap belum dananya kalau mau?" Â
"Wah saya ngga tau, pak. Memangnya berapa, pak?" pancing saya lagi. Â
"Tiga ratus," sambutnya.
"Wah saya kurang bawanya, Pak. Begini deh, saya datang lagi tanggal 7 kalau saya coba lagi. Kalau ngga, nanti saya hubungi bapak."
"Sudah kamu datang aja besok atau lusa," jawabnya. "Nanti cari saya aja," katanya lagi sambil membusungkan dada menampakkan namanya, Suhadi.
Saya tersenyum ketika berlalu dari tempat itu.
Ternyata, walau sejak beberapa tahun lalu sudah ada usaha perubahan ke arah yang baik (berkurangnya para calo, tidak diperbolehkannya orang yang tidak berkepentingan masuk gedung), ternyata orang dalam yang berubah jadi calo. Tanda bukti pembayaran tidak disediakan untuk semua pembayaran. Ibaratnya sebuah mebel dari kayu yang sudah kropos di dalam, hanya dicat ulang diluar supaya nampak lebih bagus dari sebelumnya. O ya, kalau mau buat SIM, sebaiknya bawa pensil 2B, penghapus, pulpen, fotokopi KTP 4 biji, dan siap dipersulit. Kalau mau jalan singkat, cari saja Pak Suhadi :)