Tentang Ruang Kecil
Waktu tidak bisa dihentikan. Dia akan terus berjalan, detik demi detik. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Hingga tahun berganti dengan tahun. Sengaja atau tidak, ada ruang kecil yang terbuka sedikit demi sedikit. Perlahan harapan demi harapan mengisi ruang itu, bila tiada bijak mengolah harapan, dia akan penuh dan rusak begitu saja. Menyisakan bongkahan yang tiada lagi pernah utuh, sebesar apapun usaha tuk perbaikinya.
Mungkin secara sadar kita tak ingin memperbesar ruangnya. Tapi secara tidak sadar kita terus mengisinya dengan harapan tadi. Tidak memperbesarnya dengan kebesaran hati akan takdir Allah. Sehingga ruang tadi sudah terlalu penuh dan hancur pada akhirnya. Dan dalam hidup, normalnya, tidak hanya satu ruang kecil yang terbuat. Ada yang begitu saja lenyap ditelan waktu, ada juga yang lenyap karena tergantikan, ada pula yang memang sudah hancur karena tiada bijak mengelola harapan tadi.
Perlahan, kita akan mulai melihat dia, mereka –yang pernah mengisi ruang itu– bahagia dengan kehidupan yang akhirnya telah mereka temukan. Kembali, kebijakan hati akan menentukan kemana hati akan hidup. Apakah hancur dan hilang dibawa takdir manusia lain? Atau memilih ikhlas dan melenyapkannya dengan senyum keikhlasan yang tulus? Keputusan selalu ada di tangan kita.
Ruang itu merupakan bagian hati, yang jika hancur, maka hancurlah beberapa bagian hati kita. Apabila kita tidak pandai menjaganya, sehingga dicuri oleh orang lain, maka, hilang pula beberapa bagian hati kita itu –bergantung pada sebesar apa ruang itu.– Lagi, dalam hidup, kamu yang tentukan seberapa besar ruang itu. Sungguh tidak bijak menyalahkan keadaan, selalu hati yang tidak pandai mengelola harapan itulah yang salah.
Tetapi kita selalu bisa memilih untuk menumbuhkan lagi ruang uang baru, hingga akhirnya ruang itu Dia izinikan untuk kekal dan besar. Dan pepatah itu selalu benar, bahwa pada akhirnya, waktu lah yang menjadi obat terbaik untuk menemani pemulihan hati, cukup ditambahkan sedikit keikhlasan, kita bisa mulai bangun ruang yang telah hilang tadi. Agar esok, kita bisa dengan bahagia dan ikhlas dengan pilihan-Nya, yang memang yang paling ‘klop’ untuk menemani sisa perjalananmu. Menjadi partner terbaik untuk menyelesaikan sisa lembaran petualangan hidup yang ada, juga saling menjadi kerabat terbaik untuk berjalan mencari kunci syurga-Nya.


















