jiwa jiwa yang patah
Sore itu, aku "dimarahi" oleh temanku.
"Relawan lagi?" tanyanya, dengan nada yang terdengar jengah. Sekilas memang cuma pertanyaan biasa, tapi kali ini terdengar seperti ada sedikit lelah dan sinis di dalamnya.
"Dapat apa sih? Kenapa selalu effort sekali?”
Nah, Pertanyaan kedua ini membuat langkahku sejenak terhenti. Sebelumnya aku bersemangat, sibuk beres-beres untuk segera pergi, tapi mendadak pikiranku dipenuhi dengan keraguan yang menari-nari.
Jujur saja, aku sedikit tidak suka. Mengapa harus dilarang-larang? Memangnya, apa salahnya kalau aku melakukan sesuatu yang kusenangi? Apakah alasan sederhana bahwa aku merasa senang melakukannya tak cukup jadi alasan?
Namun, saat itu adalah momen yang membuat aku menyadari dan meninjau ulang niatku. Teringat masa-masa awal ketika pertama kali bergabung, keinginan utamaku memang hanya sekadar menambah relasi dan mengisi hati yang sedang patah ditinggal teman pergi, eh malah menemukan makna pengabdian yang lebih dalam di sini.
Bukan berarti aku orang yang paling aktif di komunitas ini, namun di sinilah aku menemukan diriku berada di tengah-tengah jiwa-jiwa yang mungkin pernah terluka, yang mungkin juga patah, tapi masih bisa peduli dan berhati besar untuk membantu sesama. Ini lebih dari sekadar relasi baru; ini tentang menemukan makna dalam memberi.











