Childish
Childish..
kata-kata itu beberapa hari ini sering bermain-main di kepala, berputar tanpa bosan hampir mirip bianglala di pasar malam. Bedanya bianglala terlihat indah dengan lampu-lampunya yang berwarna-warni, lengkap dengan suara mesin pemutarnya yang berisik tapi selalu membawa hawa kerinduan pada masa kecil. Kata ini berlari mengejar, gambarannya serupa font-font menyeramkan yang biasa kita lihat di judul-judul film horror Indonesia. Serupa pedang dalam arena perang yang kapan saja bisa saja dadamu menjadi sarungnya. Menyeramkan dan menyakitkan.
Adakah batasan umur untuk tetap bertingkah seperti anak-anak? Apa ada yang menilai bagaimana saya berpikir dan bagaimana saya bekerja? Saya hanya bisa menyimpan tawa waktu orang lain menilai saya childish. Ya, saya suka menjadi anak kecil, berpikir simple seperti anak kecil, bukankah menjadi anak-anak itu baik? Cukup main, cukup makan, cukup cemilan, cukup tidur dan mereka akan tertawa bahagia sepanjang hari. Bukankah anda juga melewati masa anak-anak hingga sekarang anda merasa sebagai seorang dewasa. Dan tawaran menyenangkan itu terhenti sebelum sempat saya merasakannya, karena kata ini. Childish..















