Botchan / Natsume Soseki; Alan Turney (penerjemah). - cet. 2. - Jakarta: Gramedia, 2009. - 217 hlm; 20cm. - 978-979-22-4417-5
•
Botchan, pemuda yang tidak bisa berpura-pura (apalagi menjilat) dan kesulitan berinteraksi, memberontak 'dengan gila' di tempat barunya. Iya, buku yang keliatan seperti fiksi serius ini, isinya kurang lebih seperti itu. Aneh bin ajaib, tapi jadi belajar attitude lagi. Seperti diingatkan bahwa tata krama itu bukan hal sementara, melainkan sepanjang hidup.
Kisah Botchan menarik. Mungkin kalau ditemani Kiyo, akan lebih menarik. Tapi Botchan bertemu nenek pemilik tempat tinggal yang juga baik (bahkan menurut saya, sedikit mirip Kiyo). Walau agak kebingungan beberapa kali karena bahasa terjemahannya (saya akui, agak sedikit membosankan). Tapi selebihnya baik-baik saja. Bagian akhir, lebih tepatnya, memberikan kejutan yang tidak saya sangka. Dan memuaskan.
•
Nenek pemilik rumah tempat Botchan tinggal, pernah berkata padanya, bahwa
"Membuat orang lain minta maaf adalah satu hal, tapi tidak boleh salah paham bahwa itu akan memberi orang lain pelajaran"
Seingat saya ini mengacu pada insiden di asrama yang melibatkan Botchan dan murid-murid penghuni asrama. Perkataan beliau menarik, sebab meminta maaf dan mendapat pelajaran belum tentu bisa berdampingan.
Misalnya saja, pembajak buku meminta maaf pada para penulis yang bukunya dibajak. Hal ini bisa saja terjadi karena perintah pihak berwajib, sebatas formalitas guna meringankan penyelesaian masalah. Sayangnya, permintaan maaf itu belum tentu memberi mereka pelajaran agar tidak lagi membajak buku.
Begitu juga dengan bookshaming. Tidak semua pelaku bookshaming bisa minta maaf dan sadar kalau yang dilakukannya itu salah. Padahal, setiap buku punya pembacanya dan setiap orang punya buku bacaannya sendiri.












