-untitled-
Tidak ada yang istimewa. Aku menyukainya pada kali pertama. Aku menyukainya sebagai perantara transisi yang sempurna. Aku menyukainya sebagai penghela rasa, sebagai panasea.
Ia tak pernah cukup terang, bahkan sekalipun dalam siang. Ada sisi-sisinya yang tak cukup berani aku ketahui. Ada tepi-tepinya yang cukup kukenal saja sebagai sepi.
Sekali waktu aku melihatnya berbaik hati, memberi ruang pada satu wanita renta. Membiarkan sang nenek duduk tengadah meminta.
Waktu lain aku melihatnya menjadi rumah, bagi dua gadis kecil yang berpura-pura lemah. Sama, mereka hanya butuh satu dua rupiah.
Hmm.. mungkinkah sesungguhnya aku hanya mengada-ada? Atau aku melebihkan dan berpanjang-panjang saja?
Ah, bukankah katanya menyukai tidak butuh alasan? Entah -nya merujuk pada siapa. Tapi toh kalian semua percaya.
260915
Jakarta malam.












