This is a planet's crust Peel not the cover This is it when filled with dust Blow not and wither. #randomthoughts #randomseries #vsco #instasize❤️
seen from Australia

seen from Australia

seen from Dominican Republic
seen from United States
seen from Poland
seen from China
seen from Australia

seen from Australia
seen from United States
seen from Australia
seen from Australia

seen from Australia
seen from Australia
seen from China
seen from Australia
seen from Australia
seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Australia
This is a planet's crust Peel not the cover This is it when filled with dust Blow not and wither. #randomthoughts #randomseries #vsco #instasize❤️

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
RANDOM #15
Magelang yang selalu dingin seakan tidak terkena efek global warming.
Sedari pagi udah menusuk, merasuk ke dalam pori-pori memaksa kedua tangan gue buat sedekap berusaha melindungi badan gue dari suhu udara yang gue rindukan ini. Sejak turun dari bus, gue selalu tarik nafas dalam-dalam buat menikmati sensasi segar nan bersih ini. Fuuhhh...haaahh....Segaar! Sekali, dua kali, tiga kali sampai dua puluh empat kali tarikan nafas, bunyi nafas gue udah berubah ngos-ngosan karena buat ke rumah masih harus jalan sambil bawa barang. Padahal jalan juga kagak jauh-jauh amat, berasa tua deh gue...
Singkat cerita udara dingin Magelang telah suskes bikin gue ga mandi seharian, selamat! (kayak di kosan pernah mandi aja)
Udah jam enam sore dan gue mulai pusing-pusing karena bau badan gue sendiri. Gerakan badan gue pun melambat karena badan gue berasa lengket dan terbebani daki yang menumpuk. Gue berpikir keras, apa yang harus gue lakukan? Dan setelah berpikir keras sambil makan tempe goreng gue memutuskan buat mandi. Ya, mandi! Langkah yang tabu dilakukan dalam kondisi suhu udara seperti ini. Gue galau, hampir aja gue lebih memilih ga makan daripada ga mandi, tapi toh gue udah nambah porsi makan ke piring yang ke tiga sejak adzan magrib.
Oke gue mandi nih!
Tapi bentar ah mandinya, dingin banget!
Seiring semakin abisnya nasi yang menumpuk di piring gue, gue pun kembali memunculkan ide brilian yang mungkin tidak akan terpikirkan oleh siapapun yang berada di posisi galau gue yang udah mencapai galau tingkat anak alay yang lagi main petasan tapi kaget dan teriak-teriak sambil lari-lari begitu petasannya meledak. Siap-siap kagum dengan ide gue ya..ehemmm..
Gue mau mandi pake air anget! Nah loh, hebat kan gue, bisa punya ide kayak gitu ketika bingung mau mandi di udara dingin kayak gini. Gue yakin kalo kalian ga bakal kepikiran ide kayak gini. Gue tau kalian malah bakal ga mandi, menyerah dengan keadaan ini atau malah bakal melakukan hal yang tidak-tidak yang gue ga tau hal apa itu tapi gue yakin ide gue adalah ide brilian yang ga kalian pikirkan!
Jadi please buat seakan-akan gue ini brilian dan berpura-puralah menganggap gue bukan seorang idiot.
Langkah selanjutnya gue mulai sibuk memilih panci dengan bentuk lingkar sempurna dan diameter yang pas untuk penyebaran panas yang merata dan efisien. Jadi gue akhirnya milih satu-satunya panci yang keliatan di dapur.(jadi ngapain milih?entahlah.)
Hop, air udah diisi. Udah dinaikin ke atas kompor, tinggal nunggu sambil nonton TVRI jogja,satu-satunya channel yang yang layak tonton dengan gambar jernih, sedangkan channel yang lain? berubah jadi 'blue film' (layar polos warna biru). Sesaat kemudian gue teringat hal yang begitu penting dan menyangkut kemaslahatan umat, lupa ngidupin kompor.....
15 menit kemudian, tercium aroma sedap yang menandakan air di panci sudah panas. Hatiku gembira riang tak terkira (nyamperin panci sambil nari india)...
Begitu tutup panci gue buka, ini serius baunya kayak gue kenal. Karena gue orang yang selalu berprasangka baik, gue tuang aja air panas beraroma sedap itu ke ember. Dicampur air dingin biar dapet suhu air yang pas.
Guyuran pertama, entah kenapa gue merasakan ada yang tidak beres. Tapi terlambat untuk menghentikan guyuran selanjutnya karena bakalan berasa dingin banget kalo berhenti di pertengahan proses mandi yang sakral ini. Jadi lah guyuran kedua dan ketiga sampai guyuran ke sembilan gue mulai mengenali bau ini...
Sebelum gue teriak ibu udah teriak dulu dari luar,"ajiii! Kamu pake panci ini?"
Deg! "I..iya, kenapa bu?"
"Panci abis buat rebus daging sapi belum sempet dicuci lagi" nadanya datar seakan ga peduli.
Oke jadi ini sebabnya sejak guyuran pertama terasa sensasi gue berada di tengah kuah sop daging sapi atau apapun itu. Nyuci panci bekas daging sapi cuma sekali belum cukup buat ngilangin bau sedapnya (alias anyir).
"Oh, gitu ya bu..." Gue jawab pasrah sambil nyebur ember.
Udah nih tinggal tambahin potongan wortel, daun bawang sama bawang goreng. Untung sabun mandi di rumah aroma lemon yang dikenal khasiatnya buat ngilangin bau anyir dan melunakkan daging sapi.
Mandi pake air anget? Ini mah mandi kaldu sapi anget. Walaupun sama-sama anget untung bukan mandi tahi sapi anget.
RANDOM #14
Akhirnya berakhir juga, matahari mulai tennggelam, bayang-bayang ini semakin jauh meninggalkanku. Bayang-bayang yang selama ini sangatlah dekat, mewarnai sisi lain dunia ku telah menjauh, pudar, samar kemudian hilang bersatu dengan kegelapan yang lebih besar. Ya, dunia ini menjadi gelap seiring dengan perginya bayang-bayang itu yang sebelumnya setia menemaniku menghadapi teriknya tantangan dunia...
Aku tak yakin gelap ini terjadi karena ada yang menarik bayang-bayang ini menjauh atau karena matahari ku yang ditenggelamkan secara paksa? Aku tak peduli penyebabnya, yang kurasakan hanya gelap. Benar-benar gelap sampai aku tak dapat mengenali diriku sendiri. Tak mampu memutuskan apakah sekelilingku gelap atau aku yang buta?
Satu yang pasti. Aku hanya bisa terdiam sambil menikmati riuh nya batinku yang mulai gila. Sendiri menahan kegilaan ini.
Gila karena bayang-bayang itu telah berubah menjadi kegelapan. Menelanku dalam delusi.
Bayang-bayang itu yang senantiasa setia menemaniku, mendukungku dari sisi lain, selalu bersamaku, sangat dekat denganku. Kini menjauh.
Hilang dalam pekat. Meninggalkanku gila,
RANDOM #13
Ada yang bilang rindu itu terasa seperti hati yang diremas.
Jangan bodoh, siapa yang kau rindukan? Aku merasakan hati ku tertusuk ribuan pedang, tercincang menjadi potongan-potongan kecil saat merindukan orang yang kusayangi. Sehingga hati ku pun meronta berteriak kesakitan, membuat ku tak bisa untuk tidak gelisah, tak bisa diam saja.
Namun apa yang bisa kulakukan dengan keadaan ini?
Wajah ku terlalu hina untuk menemuinya dan aku tau hati ku tak pantas untuk merindukannya.
Tapi aku ingin selalu bersama, dekat dengannya walaupun yang kulakukan sekarang adalah bergerak sejauh mungkin dari hidupnya, dari hatinya.
Doa.
Sebuah doa akan selalu cukup untuk memantaskan hati ku untuk sekadar merindukannya. Dan saat aku mendoakannya sekaligus menghilangkan rasa galau yang terbiasa mengiringi si rindu.
Tau kah kau saat kau bilang selalu menyebut nama ku di dalam doa mu? Aku tak tau apa isi doa mu untukku, tapi aku sungguh senang mendengarnya. Seketika berhasil mencabut beberapa pedang yang menancap tak karuan. Mampu menyusun serpihan hati walaupun sudah terlambat untuk mengembalikannya ke bentuk semula. Walaupun perasaan kita tidak saling membalas nantinya. Meskipun kita tak akan bersama akhirnya.
Memantapkan diri ku untuk menjauhimu.
Meskipun tak mampu untuk melupakanmu.
Doa ku selalu melantun dari mulutku, bibirku selalu memanggil namamu--dengan lengkap dan jelas.
Berusaha memungkiri apa yang kurasakan namun tak ingin kau tersakiti oleh kebohongan sikapku.
Dear God, the only thing I ask of you is to hold her when I'm not around, when I much too far away..
RANDOM #12
Aku terlalu sering berhadapan dengan orang yang tau agama namun menggunakannya sebagai pembenaran atas apa yang dia lakukan. Mereka mencoba mengelak dari apapun yang mereka tau itu salah namun tetap dilakukannya. Demi kenyamanan dirinya. Untuk mencuci rasa bersalahnya.
Aku tidak asing dengan hal itu karena di zaman ini, hal tersebut sudah wajar terjadi. Apakah itu munafik? Sok suci?
Dengan segala realita yang terjadi di dunia yang semu ini, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Bahkan menjudge mereka sebagai munafik. Karena kita terlahir di dunia yang sudah hancur. Dan bahkan jika mereka benar-benar munafik, aku pun terlalu takut untuk menerimanya karena ini seperti melihat orang lain dari sisi seberang jendela. Kita dapat melihat orang itu namun samar-samar aku dapat melihat bayangan ku sendiri di kaca jendela itu.
Satu-satunya yang dapat aku pikirkan adalah mereka adalah orang-orang yang mencoba menetapi ilmu agama yang mereka miliki semampu mereka--ada hal-hal yang belum bisa mereka lakukan.
Sehingga aku dapat memetik nilai luhur dari nasehat mereka yang mereka sendiri belum bisa melakukannya. Sehingga aku tidak dibutakan oleh kebencian ku pada mereka, pada diriku sendiri. Yang lambat laun akan menjerumuskan ku semakin dalam ke dalam neraka.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
RANDOM #11
Brrak!!
Tembok kaca ini ternyata sudah ada dari dulu. Saat aku belum sedekat ini untuk mulai bisa merasakan ada sekat tebal yang menghalangi ku, tepat di depanku. Saat kami mulai merasakan bahwa masing-masing dari kami dapat saling menjangkau. Sambil merasakan tekstur sekat yang halus, ku ketuk beberapa kali untuk meyakinkan bahwa dinding ini tipis dan akan mudah hancur dengan sekali pukul. Tapi saat aku mulai jenuh untuk meyakinkan diriku sendiri, tanpa sadar aku sudah memukul-mukul tembok ini dengan sekuat tenaga. Tembok kaca yang tak terlihat tapi sayangnya nyata. Tak ada celah.
Memisahkan kami di dua sisi yang berbeda.
Sepertinya dinding ini bukan hanya membatasi kami, tapi membatasi persediaan udara yang ku hirup, karena aku merasakan sesak di dada. Keterlaluan. Sedang di manakah aku? Dunia ini terasa asing sebentar namun menit berikutnya malah bertambah asing.Tangan ku mulai mengganti sasaran pukulannya ke dada ku sendiri, berharap paru-paru ku mulai mengembalikan kesadarannya dan bekerja sebagaimana mestinya. Cara ini tidak berhasil menghilangkan sesak, atau pukulan ku yang tak bertenaga? Karena lambat laun tubuhku ambruk tak berdaya sehingga tersandar di suatu objek kokoh yang tak terlihat ini.
Kupalingkan pandanganku ke arahnya, dia yang berada di sisi lain. Aku melihat ekspresi wajahnya yang sedih namun tetap tegar. Sepertinya dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya dari ku. Entah kenapa hanya perasaan sedih yang lolos dari batas dinding ini. Sedih, tak ada cinta yang sampai padanya atau padaku. Semua hancur membentur namun tak berbekas. Menunjukkan betapa kuatnya dinding ini.
Ini semakin tidak bisa diterima. Hadirnya nyata di pandanganku namun aku tak bisa menyampaikan apapun padanya yang ada hanya sesak dan hanya menunjukkan bahwa begitu nistanya diriku. Aku sudah tak mampu lagi bersikap tegar. Aku telah membuang harga diriku dengan memperlihatkan keputusasaanku ku padanya dari sisi dinding ini. Dia pun membuang kepercayaannya padaku karena aku telah menunjukkan sisi lemah ku--tak bisa diandalkan.
Waktu terus bergulir menarik kesadaranku dari kenyataan ini. Dengan sisa kesadaranku aku memukulkan pukulan terakhir dengan sangat keras sampai menghancurkan tanganku sendiri. Yang kuharapkan adalah agar darah menempel pada dinding ini dan menutupi sosoknya dari pandanganku serta aku pun lolos dari pandangannya.
Sakit sekali. Aku sudah tidak bisa menikmati sakit ini seperti orang yang kecanduan obat-obatan. Ini murni sakit. Membawa diriku ke sensasi perasaan yang luar biasa asing dan mencabut seluruh daya ku.
Aku yang sudah tidak berdaya, tertatih menjauh dari tembok terkutuk ini. Tak ingin lagi memalingkan wajahku padanya lagi sehingga sakit ini terhenti, sesak ini hilang. Namun aku begitu bodoh selalu kembali lagi ke dinding kaca itu, menghapus darah yang menempel padanya mencoba dan terus memaksa hal yang mustahil untuk dilakukan--menghancurkan dinding itu. Walaupun aku sudah tak mendapati sosoknya lagi di seberang sana. Walaupun dia telah lelah menunggu. Walaupun dia telah pergi menjauh. Walaupun dia telah memberi isyarat enggan menungguku dengan cara yang aku tak bisa lagi menyangkalnya. Tetapi aku masih membenturkan diriku, menyia-nyiakan diriku tertumbuk dinding bodoh ini.
Ya, walaupun dia sudah tidak ada di sana. meskipun dia sudah tidak memberiku kesempatan.
Dia nyata-nyata tidak berada di seberang dinding ******* ini!!!
Dia tidak ada di sana, lalu apa yang air mata ini maksudkan sehingga dengan lancang mengalir deras?
Dia sudah tidak ada di sana...
RANDOM #10
Malam ini adalah yang sudah sedari 3 bulan yang lalu aku menunggu kedatangannya.
Malam ini...Dia datang dengan penampilan yang biasa. Yang dia pakai bukan baju yang istimewa, aku sering melihat dia mengenakannya. Raut wajah nya bahkan tidak menyembunyikan rasa senang, benar-benar biasa seakan tidak terjadi apa-apa--karena memang tidak ada yang spesial kecuali acara tahunan ini.
Sambil mataku lekat tertuju pada kesederhanaannya, satu persatu pengunjung disitu mulai tertabrak seseorang yang tidak memperhatikan jalannnya, aku.
Mulutku telah menyiapkan sapaan terbaiknya namun urung diucapkan dan terpaksa menelan ludah. Di dua belas langkah ke depan, teman-temannya terlebih dahulu menyapanya. Segurat senyum yang memudarkan ekspresi biasanya menjadi bahagia seakan memanggil rasa tahu diriku untuk memerintahkan kedua kaki bahagia ini memalingkan arahnya--terpakasa menunda kesenangan yang mereka rasakan sejak menginjak tempat ini. Menjauh.
Seketika tak tahu aku harus membawa tubuhku ke mana karena satu-satunya tujuanku tak mungkin lagi ku ke sana. Berputar arah, berusaha tersembunyi dari pandangannya agar tak mengganggu lekukan sempurna yang membentuk senyumnya namun masih memungkinkan untukku diam-diam menikmati senyum itu. Dengan kata lain, menguntit.
Tetap setia di sudut dua ratus tujuh puluh derajatnya--dengan asumsi pandangan lurus ke depannya adalah sembilan puluh derajat--, menjaga jarak aman yang cukup untuk teman-temannya juga tidak menyadari kehadiranku di lapangan itu. Memperhatikan tiap gerak lincah dan gerik bahagianya. Berharap senyum itu akan menjadi tawa terbahak yang lebih bahagia. Sesekali terlintas di pikiranku tentang apa yang orang-orang pikirkan saat melihat tingkahku malam itu. Secret Admirer? Penguntit? Maniak? Namun dia tertawa. Segera melenyapkan pikiran-pikiran itu. Aku kembali tenggelam dalam kebahagiaanku menikmati kebahagiaannya. Harapanku terkabul.
Getaran di saku celanaku membubarkan suasana kabut berwarna cerah yang ditaburi bunga-bunga bertebaran di sekelilingku, mengembalikanku ke dunia nyata. Tanpa curiga pesan singkat ini kubuka, Dan karena aku tak curiga, sepertinya jantung ini tidak siap menerimanya, membuatnya berusaha lari dari cengkeraman pembuluh aorta yang melekat sejak lahir. Terasa menarik seluruh pembuluh arteri dan vena yang menjalar di seluruh tubuhku Tercekat sekejap kemudian lemas tanpa daya. Mungkin karena sedari awal dia datang handphone miliknya sudah berada digenggamannya. Aku tak sempat berpikir dia akan menghubungiku. Menanyakan di mana posisiku tepat saat kebahagiaanku hampir berubah menjadi iri ingin ikut terlibat aktif dalam bahagianya.
Dengan sigap badanku menyiapkan postur terbaiknya, merapikan rambutu dan kedua kaki ku mulai menemukan lagi semangatnya. Kubeli salah satu minuman khas yang dijual.--yang nantinya tidak akan kugunakan sebagamiana fungsinya untuk minum tapi untuk topik pembuka pembicaraan dengan menawarkan minuman ini padanya dibumbui sedikit ice breaking yang cepat kusiapkan--Persiapan yang memadai dan perbekalan yang cukup sudah kusiaokan layaknya prajurit yang menyiapkan perlengkapan perangnya. Perang melawan rasa gugup dan kekakuan yang tak bosan-bosannya menggangguku.
Kubiarkan tidak membalas pesannya tadi agar kehadiranku dari balik punggungnya dengan menutup matanya dengan kedua mataku menjadi kejutan baginya. Walaupun dia tidak begitu terkejut--aku selalu payah dalam membuat kejutan-- tapi setidaknya aku telah berusaha. Teriakan 'ciee' dari teman-temannya seolah menyemangati ku untuk memulai mengeluarkan kata sapaan pertama untuknya malam ini. Aku senang sekali tak terkira. Walaupun aku tak tau apa yang harus aku lakukan selanjutnya,tiba-tiba tangannya menarik baju ku mengajakku ke tempat lain untuk berpisah dengan teman-temannya yang ada disitu.
Bahagianya aku saat ini belum pernah kurasakan.
Benar-benar, melayang
RANDOM #9
Ingin menyempatkan menuangkan rasa dari dalam hati saat ada laptop temen yang nganggur. Biar rasa-rasa yang pada hakekatnya ga penting--yang aku tau dari temen, katanya ga penting, walaupun diri ini bilang sangat sangat berharga--ini ga menuh-menuhin space dan bikin lola (loading lambat).
Ya, sebenernya pengen banget cerita tentang salah satu saja rasa di hati yang selama ini belum bisa menemukan 'happy endingnya'. Yang rasanya menusuk di dada dan bikin mual. Menyusunnya lewat kata-kata yang sederhana, yang penting orang lain bisa paham yang aku rasain, Tapi aku terlalu takut. Takut kalau ceritaku ini tidak bijaksana. Takut hanya akan dianggap mencari simpati. Takut dianggap lebay. Takut akan mengotori jalan tengah yang sedang aku lewati--sedang,bukannya telah--saat ini.
Hmm...