Ragil Andriana (1)
29 Agustus 2017
Malam itu lampu kota di pojokan Ibukota begitu menyilaukan mata. Di salah satu bangku taman duduklah seorang wanita, ia termenung sendirian di sana. Wanita berambut sebahu, tinggi, sedikit tembem pada bagian pipi, dan memiliki bibir seksi tebal yang sering sekali ditatap haus lawan bicaranya itu menatap sayu jalanan yang masih ramai kendaraan berlalu lalang. Matanya menyapu jalanan, tak ada yang menarik sedikitpun. Sekumpulan orang yang sedang membicarakan ketidaksempurnaan kehidupan orang lain, gerombolan yang sedang tertawa, orang yang sedang minum kopi dengan teman-temannya, dan orang-orang yang sekadar lewat di depannya. Matanya mengamati satu-persatu gerombolan itu, tak ada niatan untuk bergabung. Ia meneruskan membaca novel di pangkuannya yang sedari satu jam yang lalu tidak berpindah halaman. Pikiran itu muncul lagi, besok adalah hari ulang tahunnya yang ke dua puluh, ah lupakan masalah perayaan. Dia hanya mengharapkan kado dari seorang lelaki yang selama kurang lebih empat tahun ini mengisi hatinya. Sahabat lelaki yang begitu ia sayangi, yang mana keduanya merasakan perasaan yang sama namun selalu berlindung di balik kalimat bahwa mereka adalah sahabat.
Lelaki yang begitu dekat dengannya. Lelaki yang merupakan sosok kakak, adik, teman, sahabat, bahkan lebih dari itu arti hadirnya. Lelaki yang jika di depannya, wanita itu bisa menangis dan tertawa sepuasnya. Lelaki yang peluknya menjadi tempat ternyaman di dunia. Lelaki yang senyumnya paling teduh saat seisi dunia begitu panas mencacinya. Lelaki yang mata sayunya, besar hidungnya, harum tubuhnya, bahkan setiap inchi tubuhnya adalah surga dunianya. Lelaki yang hanya membagi segala kisah hidupnya dengan wanita itu. Ya, mereka adalah kasih yang tak ingin memulai kisah.
Perlahan matanya memerah mengingat lelaki itu. Dengan segera ia mengalihkan matanya menuju ponselnya. Sudah lewat tengah malam, namun dia tidak ingin beranjak sedikitpun dari bangku itu. Ia kembali melihat sekeliling, matanya menemukan gerombolan orang yang sedang bernyanyi. Ternyata gerombolan itu hanya menyisakan beberapa orang saja. Kelihatannya gerombolan lelaki itu ramah, hanya ada gitar di tengah-tengahnya. Di tutuplah novel yang sedari tadi ia pegang. Wanita itu menghampiri gerombolan itu.
“Bolehkah saya bergabung?”, ucapnya dengan senyum ramah.
Disambutlah wanita itu oleh tiga pria dan satu wanita yang juga bergabung ke sana sebelum ia datang.
Penyanyi jalanan itu begitu memiliki suara yang merdu. Ada satu lelaki yang di awal diperhatikannya. Kulitnya putih, rapi, tidak berantakan, suaranya halus pula. Wanita itu pun mencoba mengajaknya bicara.
“Boleh saya request lagu padahal baru datang?”, tanyanya sambal tertawa kecil.
“Request saja tak apa Nona, selagi saya bisa”, jawab lelaki itu.
Namun tanpa wanita itu sadari, kedatangannya dari awal sudah menarik perhatian salah satu penyanyi jalanan itu. Lelaki berkulit agak hitam yang jika kau perhatikan lama-lama dia terlihat manis menggemaskan. Sedari kedatangannya, lelaki itu sudah memperhatikannya hingga pada saat wanita itu bertanya pada lelaki putih di sampingnya, ia ikut menjawab,
“Tenang saja, Nona. Lelaki rapi ini backingan-nya banyak kok” celetuknya sambal tertawa.
Pada awalnya, wanita itu tidak memerhatikan lelaki berkulit hitam ini. Namun ternyata, lelaki ini tak bosan menarik perhatiannya. Mulai dari menyanyikan lagu yang wanita itu sebutkan dan bertingkah menggemaskan hingga akhirnya wanita ini merasa tertarik dengannya. Tak terasa sudah pukul tiga dini hari. Hanya ada mereka bertiga di pojokan taman itu. Lelaki bersuara serak yang berhasil membuat wanita itu selalu menatapnya saat bernyanyi maupun bercerita, Ragil namanya.
“Ah, aku mengantuk. Aku balik duluan, ya. Mau tidur. Thanks ya”, pamit lelaki itu.
“Nanggung, Gil. Sekalian subuh aja sih”, cegah wanita itu.
Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengannya.
“Ah, aku sudah tidak tidur selama dua hari. Tidak kuat rasanya”.
Memang kantung mata dan lingkar hitamnya menjelaskan semuanya.
“Yasudahlah”, jawab wanita itu sedikit kecewa.
Wanita itu menutupi kekecewaannya dengan berbicara pada lelaki di sebelahnya, meminta dinyanyikan lagu 5SOS-She Looks So Perfect1. Namun ternyata, Ragil kembali duduk di sampingnya. Ia mengambil gitar dan memainkan lagu permintaan wanita ini dengan penuh emosi.
“Kenapa sih? Mana mainnya ga selow”, tanya wanita itu dengan heran.
“Hmmm emosi, kenapa pas ngantuk malah kamu requestnya lagu yang aku suka?”
Wanita itu hanya tertawa terpingkal-pingkal “Makanya, di sini dulu aja, sampai pagi”
“Bentar deh aku mau cari kopi dulu”.
Dengan sabar wanita yang kerap dipanggil Andriana itu menunggunya.
“Ah sudah?” Tanyanya saat Ragil berdiri di sampingnya.
“Iya sudah”.
Mereka pun berbincang kesana kemari. Seakan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka berdua. Tanpa Andriana tahu, Ragil tertarik padanya pada saat ia tertawa pertama kalinya. Ragil memerhatikannya sedari ia menyebutkan lagu request pertamanya. Ragil selalu menatapnya sedari ia tahu bahwa selera musik Andriana cukup lumayan untuk ukuran wanita. Ragil semakin menatapnya karena ia adalah tipe wanita yang bisa mengritik jika ada yang fals pada suara Ragil secara blak-blakan, tidak seperti wanita-wanita yang seringkali hanya memujanya dan mencoba menarik perhatiannya. Wanita ini, Andriana, tidak menunjukkan bahwa ia tertarik dengan Ragil saat pertama kali melihatnya, dan ini yang membuat Ragil semakin ingin mendekatinya. Ada rasa ingin tahu dalam diri Ragil tentang Andriana. Ada rasa untuk ingin dekat dengan Andriana.
Andriana, wanita yang sedang berduka karena sahabat lelaki yang meninggalkannya, yang sedang ingin melupakan hari ulang tahunnya, yang sedang ingin lari dari realita, kini sedang tertawa melupakan segalanya bersama lelaki hitam ini di sampingnya. Hatinya sedang mekar karena Ragil di sampingnya. Dipersilakanlah Ragil masuk dalam hidupnya. Andriana merasa begitu dekat dengan Ragil. Andriana seorang wanita ambivert, dan Ragil berhasil menjadi salah satu yang dipersilakannya dengan baik.
Perbincangan ringan yang dilakukan keduanya begitu banyak. Di mana Ragil juga membuka semua yang ada padanya pada Andriana. Mengenai perjalanan musiknya, kehidupan kuliahnya, bahkan keluarganya. Bagaiamana ia berjuang memertahankan mimpi untuk menjadi musisi. Bagaimana ia begitu menginginkan keinginannya bermusik namun tidak mendapat restu orangtuanya. Bagaiamana ia mengalami kecelakaan hebat hingga jari-jarinya patah pada saat melakukan audisi musiknya. Bagaimana ia menghadapi keterpurukannya selama dua tahun. Bagaimana sampai saat ini jari-jarinya masih terasa sakit jika bermain piano selama lima belas menit. Bagaimana ia harus menunda kuliahnya selama satu tahun terakhir ini karena masalah ekonomi. Mereka bercengkerama kesana kemari tanpa henti. Di mana Ragil menempuh studi Teknik Mesin di salah satu universitas yang ada di Semarang. Ah, tanpa Ragil tahu, Andriana ternyata semakin tertarik padanya. Meskipun pada awalnya, Andriana tertarik karena Ragil memiliki banyak kesamaan dengan sahabat lelakinya. Tempat kuliahnya, bagaimana caranya berbicara, bagaimana setiap ia menyanyikan lagu untuknya, pada awalnya Andriana tertarik karena Ragil bisa menggantikan lelaki itu sementara waktu. Namun Andriana salah.
Kedua manusia ini sedang dipetemukan semesta. Semesta sedang bersama mereka berdua.
“Aku suka bikin lagu sendiri. Sampai-sampai aku punya lagu ulang tahun buatanku sendiri”, celetuk Ragil saat perjalanan pulang mereka.
“Ah iya? Btw, aku sedang ulang tahun hari ini, Gil hahaha” balas Andriana iseng.
“Lah, serius, And? Hahaha yaudah nanti siang aku nyanyikan deh. Ini udah mau subuh juga kan”
“Iya, Gil. Yaudah kamu balik sana aku juga mau balik, tidur”.
Keduanya berpisah tepat setelah adzan subuh berkumandang. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan penuh tanya masing-masing.







