Belum lama ini, Instagram memperkenalkan fitur barunya kepada para pengguna yaitu Instagram stories. Fitur ini digunakan untuk mengunggah foto atau video dengan waktu yang terbatas. Apabila foto atau video tersebut sudah melewati batas waktu 24 jam (1 hari), foto atau video tersebut akan menghilang secara otomatis. Hal ini merupakan fitur baru Instagram yang sekarang membuat para pengguna dapat mengunggah foto atau video secara permanen dan semi permanen. Kita mungkin dapat melihat âkejanggalanâ yang terdapat pada fitur baru Instagram stories, fitur ini ternyata dinyatakan oleh para sebagian pengguna media sosial online sebagai âpenjiplak, peniru, dan peng-copyâ aplikasi media sosial online lain yaitu Snapchat. Snapchat sendiri telah menerapkan fitur ini lama sebelum Instagram stories diperkenalkan.
Bagaimana sebenarnya persamaan antara Snapchat dan Instagram stories? Mari kita lihat persamaannya lewat video di bawah ini:
How to Use Snapchat:
Uploader: Allure. Published on Jul 19, 2016 on YouTube.
How to Use Instagram Stories:
Uploader:Â Justin Odisho. Published on Dec 20, 2016 on YouTube.
Lalu, kini juga ada yang baru dari fitur Instagram stories. Apa itu? Face filters!
Sounds familiar? Â Ya, setelah Instagram âmencuriâ fitur storiesâdimana kita dapat mengunggah foto dan video yang akan hilang setelah 24 jamâdari Snapchat, ternyata Instagram kini juga memiliki face filters pada fitur tiruannya tersebut. Lalu, apakah hal ini disebut sebagai pelanggaran copyright?
Face Filter on Snapchat
Face Filter on Instagram
Kita mungkin telah melihat kasus-kasus serupa sebelumnya. Twitter, yang sebelumnya menerapkan real-time feed, telah berubah menjadi algorithmic feed yang telah digunakan Facebook terlebih dulu. Selain itu, Facebook dan Instagram juga menggunakan hashtags yang telah dipopulerkan terlebih dulu oleh Twitter. Apakah hal semacam itu merupakan pelanggaran?
CEO dari Instagram, Kevin Systrom, menyampaikan kepada TechCrunch bahwa âSnapchat deserves all the credits.â Menurutnya, stories adalah sebuah formatâsebagaimana algorithmic feed dan hashtagsâdan inovasi yang nyata adalah how well you âput your own spin on itâ when implementing the same idea.
âThis isnât about who invented something. This is about a format, and how you take it to a network and put your own spin on it.
And I think what you see is that every company looks around and adopts the best of the best formats or state-of-the-art technology.
You canât just re-create another product. But you can say, whatâs really awesome about a format? And does it apply to our network?
The question is, what do you do with that format? What do you do with that idea? Do you build on it? Do you add new things? Are you trying to bring it in a new direction?â
Dengan beberapa perbedaan yang dimiliki antara Snapchat dan Instagram stories, sebut saja âneon drawingââdimana pengguna dapat menulis atau menggambar dengan warna yang memiliki efek neon, dimiliki oleh Instagram namun tidak dengan Snapchat. Selain itu, audience yang berada di Snapchat dan Instagram dapat pula dikatakan berbeda. Maka semua hal itu akan terasa berbeda pula, dan tidak dapat disebut sebagai substitutes antar satu sama lain.
Secara legal, hal ini juga tidak dapat dikatakan sebagai pelanggaran. Duke law professor, Arti Rai, mengatakan bahwa hukum mengenai copyright dan trademark tidak melindungi adopsi fitur seperti yang terjadi antara Snapchat dan Instagram. Hal ini juga dilihat dari perbedaan âwajahâ yang dimiliki oleh kedua aplikasi tersebut, the interfaces.
âItâs okay to take somebodyâs idea so long as your expression of it is different,â Rai says. Ideas are a nebulous thing; though they can be protected by patents, Rai notes that they cannot be too âabstract.â
Melihat fenomena berbagi stories ini, mungkin ide lifecasting telah menjadi pola perilaku yang mainstream. Dibandingkan hanya memilih foto tertentu dan membagikan yang terbaik, sekarang pengguna dapat secara konstan mengambil atau merekam momen, meskipun hal itu berarti merusak suasana. Kita rela mengeluarkan smartphone saat menikmati pemandangan layaknya sunset, dan menginterupsi waktu kita bersama teman-teman. The sense of humanity and presence traded for a wider audience. Don't you think it's technological determinism?
References:
Cunningham, Baldwin. (2017). Snapchat vs. Instagram Stories: What Business Owners Need To Know. Retrieved from https://www.forbes.com/sites/baldwincunningham/2017/04/25/snapchat-vs-instagram-stories-what-business-owners-need-to-know/#1f0d9d365fe2
Febryanto, Tony. (2016). Instagram Stories vs Snapchat Stories, bedanya apa sih sebenernya? Retrieved from https://www.brilio.net/gadget/instagram-stories-vs-snapchat-stories-bedanya-apa-sih-sebenernya-1608047.html
Mohan, Pavithra. (2016). Clone Wars: Why Instagram Will Legally Get Away With Copying Snapchat Stories. Retrieved from https://www.fastcompany.com/3062593/clone-wars-why-instagram-will-legally-get-away-with-copying-snapchat-stories
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Qualityâ Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Fragmentation, Censorship and Political Surveillance
Governance issues over the evolution of Internet technology, resources, protocols and standards will play an increasingly important role in global debates, according to a new report issued by The Centre for International Governance Innovation (CIGI).
Dalam laporan yang berjudul Internet Points of Control as Global Governance, seorang senior CIGI bernama Laura DeNardis mengeksplorasi mengenai isu-isu utama governance yang akan berdampak besar pada diskusi kebijakan publik secara global di tahun-tahun mendatang. Dia mengatakan bahwa keterlibatan pemerintah dalam mengatur atau memfasilitasi interkoneksi Internet melalui model pembayaran misalnya, âfragment the Internet based on political manipulation.â Ia juga mengatakan bahwa perubahan ini âcould present a range of unintended or intended consequences â such as creating new concentrated points for government censorship, surveillance and politically motivated interconnection blockages, or creating economic disincentives for major content companies...â
DeNardis juga menunjukkan konsekuensi yang bisa timbul karena Domain Name System (DNS) memainkan peran lebih besar dalam mengontrol konten. Pendekatan ini telah digunakan untuk cencorship pada konteks represif dan untuk penegakan hak kekayaan intelektual di AS. Ia mengatakan âthis practice would be controversial because it would fragment the Internetâs universality depending on country and possibly create security and stability challenges to the DNS.â
Laporan tersebut, menguraikan tentang sumber daya Internet yang bermain penting dalam arsitektur yang lebih besarâsistem universal, juga menekankan bahwa standar teknis, as esoteric as they are, dapat memiliki dampak ekonomi dan politik yang nyata. DeNardis mengatakan, âthey are the infrastructural foundations for global trade and the digital public sphere, but their design and constitution create public policy in areas as politically charged as privacy, accessibility and other individual civil liberties.â Ia juga menambahkan, âthe policy implications of Internet standards raise the obvious governance question of how these standards are procedurally established and by whom.â
References:
Dias, K. (2013). Fragmentation, censorship and political surveillance of the Internet are among risks in global debate on governance, new CIGI paper says. Retrieved from https://www.cigionline.org/articles/fragmentation-censorship-and-political-surveillance-internet-are-among-risks-global-debate
Doctorow, C. (2012). Lockdown: The coming war on general-purpose computing. Retrieved from http://boingboing.net/2012/01/10/lockdown.html
In his 1941 story âThe Library of Babel,â Jorge Luis Borges imagined a collection of information where the entire worldâs knowledge is stored but barely a single word is understood.
Terdapat satu teknologi yang mencegah akses pemerintah ke data digital pribadi: strong encryption. Setiap orangâmulai dari teroris, agen senjata, perusahaan, lembaga keuangan, hingga pengirim email dapat menerapkan hal ini. Salah satu yang tersulit adalah Advanced Encryption Standard. Pada Juni 2003, pemerintah A.S. mengumumkan bahwa AES dapat digunakan untuk melindungi informasi rahasia, dan selanjutnya menjadi default encryption algorithm juga cipher terbuka yang disetujui oleh NSA untuk memperoleh informasi rahasia. NSA memilih AES sebagai salah satu algoritma kriptografi untuk melindungi sistem keamanan nasional. Keberhasilan kegunaannya oleh pemerintah A.S. berdampak pada penggunaan luas di sektor swasta, yang menyebabkan AES menjadi algoritma terpopuler yang digunakan dalam kriptografi. Pertahanan seperti itulah yang mendorong pembangunan di Bluffdale.
âWe questioned it one time,â says another source, a senior intelligence manager who was also involved with the planning. âWhy were we building this NSA facility? And, boy, they rolled out all the old guysâthe crypto guys.â According to the official, these experts told then-director of national intelligence Dennis Blair, âYouâve got to build this thing because we just donât have the capability of doing the code-breaking.â
Tahun 2004, perencanaan proyek lain diluncurkan, program yang disebut sebagai High Productivity Computing Systems. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kecepatan komputer seribu kali lipat, menciptakan sebuah mesin yang bisa menjalankan quadrillion operations per detik, yang dikenal sebagai petaflop. Sebagai bagian dari program ini, Department of Energy membentuk Oak Ridge Leadership Computing Facility bagi beberapa agensi untuk bergabung. Namun kenyataannya, tetap akan ada dua jalur yang berbeda, unclassifiedâdimana semua karya ilmiah akan dipublikasikan, dan top-secretâdimana NSA tetap bisa menguasai komputernya sendiri secara rahasia. Pada akhirnya sejumlah 318 ilmuwan, insinyur komputer, dan staf lain bekerja secara rahasia dalam beberapa proyek. Kelompok unclassified pun menciptakan komputer tercepat pada tahun 2009 yang dinamakan Jaguar karena kecepatannya. Sementara itu, NSA juga berhasil menciptakan sebuah komputer yang lebih cepat lagi.
âThey were thinking that this computing breakthrough was going to give them the ability to crack current public encryption.â
Meski mengalami kemajuan, mereka masih merasa tidak puas. Tujuan selanjutnya adalah mencapai kecepatan exaflop. Pada akhir 2011, Jaguar menempati urutan ketiga di bawah "K Computer" milik Jepang, dan sistem Tianhe-1A milik Cina. Namun kompetisi sesungguhnya akan berlangsung secara rahasia. Untuk diam-diam mengembangkan mesin exaflop baru (atau bahkan lebih tinggi) pada tahun 2018, NSA telah mengusulkan pembangunan dua bangunan penghubung seluas 260.000 kaki persegi, di dekat fasilitasnya saat ini yaitu Kampus Timur Oak Ridge. Bangunan ini disebut Multiprogram Computational Data Center. Melihat dari hal ini, dapat kita ketahui bahwa kompetisi dalam kecepatan komputasi dan penyimpanan data akan terus berlanjut.
References:
Bamford, J. (2012). The NSA Is Building the Countryâs Biggest Spy Center (Watch What You Say). Retrieved from https://www.wired.com/2012/03/ff_nsadatacenter/Â
Rouse, M. (2014). What is Advanced Encryption Standard (AES). Retrieved from http://searchsecurity.techtarget.com/definition/Advanced-Encryption-Standard
Sebelumnya pada tanggal 6 Januari 2011, deputi direktur NSA Chris Inglis bertemu dengan Harvey Davis sebagai direktur agensi untuk instalasi dan logistik, juga senator Utah yaitu Orrin Hatch untuk membicarakan pembangunan fasilitas yang saat itu disebut oleh media lokal sebagai âthe spy centerâ. Inglis mengatakan bahwa UDC merupakan âa state-of-the-art facility designed to support the intelligence community in its mission to, in turn, enable and protect the nationâs cybersecurity.â Â Namun hal yang menjadi lebih penting adalah: what is collected, how itâs collected, dan whatâs done with the material. Lalu ada anomali dimana meskipun fasilitas ini merupakan proyek penting, tidak ada satupun perwakilan dari Department of Homeland Security yang angkat bicara, departemen yang bertanggungjawab melindungi masyarakat sipil dari cyberattack. Faktanya, pihak resmi yang mengenalkan data center ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan cybersecurity. Pihak tersebut adalah Glenn A. Gaffney, seseorang yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di CIA.
Rob Moore, presiden dari Big-D Construction, mengatakan bahwa mereka diberitahu untuk tidak berbicara mengenai pembangunan proyek tersebut. Perencanaan dari pembangunan ini menunjukkan sistem keamanan yang ekstensif, dengan program perlindungan anti-terorisme seharga 10 juta dollar. Di dalam, fasilitas ini akan terdiri dari 4 ruangan seluas 25.000 kaki persegi yang dipenuhi server, lengkap dengan ruang untuk kabel dan tempat penyimpanan. Selain itu, akan ada ruangan seluas lebih dari 900.000 kaki persegi untuk dukungan teknis dan administrasi. Seluruh situs akan bersifat self-sustaining, dengan tangki bahan bakar yang cukup besar untuk menghidupkan generator cadangan selama tiga hari dalam keadaan darurat, penyimpanan air dengan kemampuan memompa 1,7 juta galon air per hari, serta sistem pembuangan limbah dan udaraâsistem yang menjaga semua server tetap dingin. Listrik akan berasal dari gardu pusat yang dibangun oleh Rocky Mountain Power untuk memenuhi permintaan daya 65 megawatt. Jumlah energi yang besar itu memiliki harga yang sangat mahal, sekitar 40 juta dollar per tahun.
Visitor control center
Administration
Data halls
Backup generators and fuel tanks
Water storage and pumping
Chiller plant
Power substation
Security
Mengingat skala fasilitas dan fakta bahwa terabyte data sekarang dapat disimpan dalam flash drive seukuran kelingking laki-laki, jumlah informasi potensial yang dapat disimpan di Bluffdale benar-benar mengejutkan. Begitu juga pertumbuhan jumlah data intelijen yang diproduksi setiap hari oleh sensor NSA dan badan intelijen lainnya. Laporan Department of Defense tahun 2007 juga menunjukkan, Pentagon mencoba memperluas jaringan komunikasi di seluruh dunia, yang dikenal sebagai Global Information Grid. Diperlukan kapasitas sebesar itu karena menurut sebuah laporan oleh Cisco baru-baru ini, lalu lintas internet global akan berlipat ganda dari tahun 2010 sampai 2015, mencapai 966 exabytes per tahun. Pada tahun 2011, lebih dari 2 dari 6,9 miliar orang di dunia terhubung ke Internet. Pada tahun 2015, firma riset pasar IDC memperkirakan, akan ada 2,7 miliar pengguna. Dengan demikian, NSA membutuhkan gudang data seluas 1 juta kaki persegi.
Data yang tersimpan di Bluffdale secara alami akan jauh melampaui miliaran halaman web di seluruh dunia. NSA lebih tertarik dengan apa yang disebut invisible web, yang juga dikenal sebagai deepweb atau deepnetâdata yang berada di luar jangkauan publik. Hal ini termasuk data yang dilindungi password, komunikasi pemerintah AS dan pemerintah asing, dan non-komersial file sharing di antara peers. Dengan UDC yang baru, NSA akhirnya mampu secara teknis menyimpan dan menggeledah semua rahasia yang dicuri. Pertanyaannya tentu saja, bagaimana agensi mendefinisikan who is, and who is not, âa potential adversary.â
Reference:
Bamford, J. (2012). The NSA Is Building the Countryâs Biggest Spy Center (Watch What You Say). Retrieved from https://www.wired.com/2012/03/ff_nsadatacenter/
Saat ini media online telah menjadi sarana untuk menebarkan kebencian. Mulai dari mengejek, melecehkan, dan perilaku merendahkan lainnya. Objek yang sering kali menjadi sasaran antara lain perempuan. Sering kali perempuan dilecehkan dengan komentar-komentar berbau seks pada foto mereka, atau panggilan yang tentunya memiliki kesan buruk. Sebut saja bitch, slut, whore, dan lain sebagainya. Bahkan saat ini, tokoh-tokoh feminis pun sering kali menerima kata-kata yang melecehkan lewat media online. Hal ini terjadi karena masih banyak pihak yang tidak senang dengan apa yang mereka perjuangkan, yaitu kesetaraan.
Tidak hanya perempuan atau individu, pelecehan atau perilaku merendahkan semacam itu juga dirasakan oleh kelompok. Sebagai contoh, sering kali kita melihat komentar-komentar buruk mengenai kelompok agama, salah satunya Islam. Hal ini mungkin lebih banyak terjadi di negara-negara yang penduduknya bukan mayoritas Islam. Apalagi setelah terjadi peristiwa seperti pengeboman yang menimbulkan kecemasan di kalangan masyarakat terhadap Islam, atau yang disebut dengan Islamophobia, komentar-komentar yang merendahkan Islam mungkin sudah menjadi hal biasa yang ditemukan dalam situasi tersebut.
Islam juga sering kali menerima penilaian buruk dari berbagai kalangan mengenai tindakan oleh laki-laki terhadap perempuan. Banyak pihak yang menilai bahwa Islam adalah agama yang menekan perempuan, terutama dengan cara berpakaian. Hal seperti itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab orang Islam sering kali dilecehkan. Namun seiring berjalannya waktu, banyak perubahan yang terjadi. Saat ini, perempuan-perempuan muslim bahkan telah mempelopori gerakan-gerakan, dimana salah satu alasannya tentu untuk membuktikan bahwa Islam bukan agama seperti yang kebanyakan orang pikirkan.
Gerakan yang dilakukan oleh perempuan muslim cukup banyak terjadi terutama di negara Inggris, sebagai salah satu negara yang tingkat populasi muslimnya terus meningkat. Salah satu contohnya yaitu sebuah projek yang menghubungkan Islam dengan feminisme, yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan terkait tidak dilibatkannya perempuan muslim dalam hal hak-hak perempuan. Situs bernama islamandfeminism.org telah mendapat berbagai respon yang tidak biasa dari karangan muslim Inggris yang sebelumnya merasa terisolasi. Projek ini tentunya diharapkan dapat menjadi perintis untuk mempertemukan perempuan dari berbagai latar belakang untuk memperjuangkan kesetaraan secara bersama-sama.
Perempuan memang sering kali menjadi objek pelecahan, tidak terkecuali perempuan muslim. Namun saat ini telah banyak hal yang dilakukan untuk menentang hal tersebut. Salah satu kasus yang cukup kontroversial adalah seorang jurnalis perempuan bernama Noor Tagouri yang menjadi perempuan muslim berhijab pertama yang difitur dalam majalah Playboy. Hal ini tentunya menimbulkan respon yang berbeda-beda dari masyarakat, terutama kalangan muslim. Namun di sisi lain, hal ini telah menjadi sebuah âperlawananâ oleh perempuan.
Noor Tagouri mem-posting foto fiturnya di Twitter, dan ia memberikan pernyataan melalui Instagram mengenai hal tersebut.
References:
Filipovic, J. (2007). 'Blogging While Female - How Internet Misogyny Parallels 'Real World' Harassment', Yale Journal of Law and Feminism.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
â Live Streamingâ Interactive Chatâ Private Showsâ HD Qualityâ Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Pernah kah kamu mendengar sebuah lagu baru yang terdengar sama dengan lagu yang sudah ada terlebih dulu? Lagu itu bukan merupakan lagu cover, namun menggunakan âbagianâ tertentu dari lagu yang sudah ada sebelumya. Sebagai contoh, coba dengar âUnder Pressureâ â Queen ft. David Bowie dan âIce Ice Babyâ â Vanilla Ice.
Hal itu dapat kita sebut dengan music sampling. Praktik ini memiliki peran besar dalam pembentukan genre hip hop. Pada akhir 1970an dan awal 1980an, praktik sampling banyak dilakukan pada musik hip hop. Hal ini dimulai dengan para DJ yang âberinteraksiâ dan âmemanipulasiâ piringan hitam yang mereka mainkan, dimana saat itu memainkan dan mengulang breaks pada musik funk menjadi hal yang populer. Sejak itu, hip hop dan rap banyak mengandalkan praktik sampling.
Awalnya, artis hip hop dapat membuat lagu dengan mudah menggunakan music sampling, bahkan kebanyakan para artis tidak meminta izin dari pemilik copyright. Namun seiring dengan pertumbuhan popularitas dan penjualan, pemilik copyright mulai menyadari hal tersebut, terutama artis seperti Public Enemy yang menggunakan sampling dengan kuat.
âTransmedia storytelling represents a process where integral elements of a fiction get dispersed systematically across multiple delivery channels for the purpose of creating a unified and coordinated entertainment experience. Ideally, each medium makes it own unique contribution to the unfolding of the story.â
Marvel Cinematic Universe as transmedia storytelling (or narrative). Marvel Cinematic Universe is not only cinematic, but also interconnected fictional universe that consists of feature films, television series, short films and comic books. Stanley Leiber is perhaps the most well-known Marvel creator, though most people know him as Stan Lee. He made his debut in 1941 (while it was still known as Timely Comics) with Captain America Foils the Traitorâs Revenge.
Marvel characters which started in comics, now you can find them in animated and live action films and tv shows, video games, websites, toys, even clothing. The comics are still being published, you can even get the digital version on the Marvel website. In 1993, Marvel Studios was formed. A number of live action films were made, but it seemed the first big break by the studio was the release of X-Men in 2000. In 2009, Marvel Studios was acquired by Walt Disney Company.
By now, the Marvel Cinematic Universe (MCU) has become the worldâs highest grossing movie franchise with 9 billions dollar revenue worldwide. What connects the individual movies of the Marvel Cinematic Universeâbesides its intertwined plots and charactersâis their common tone and feel. No matter what other genres they get inspiration from, these motion pictures remain superhero movies with intense action sequences, optimistic mood and a little bit of humor.
Besides the released and upcoming feature films, there are several television series which are part of the MCU. Marvelâs Agents of S.H.I.E.L.D. premiered in 2013, Marvelâs Agent Carter was first released in 2015, Marvelâs Daredevil and Marvelâs Jessica Jones have been available on the popular streaming service, Netflix since 2015. Besides these series, Marvel produces 4â14 minutes long short films, also known as âMarvel One-Shots,â which are featured as bonus material in Marvelâs movie releases, for example, on Blu-ray. These âOne-Shotsâ provide more insight into the MCU and elaborate on the minor details that could be interesting to fans of the franchise.
Henry Jenkins writes that âto fully experience any fictional world, consumers must assume the role of hunters and gatherers, chasing down bits of the story across media channels...â and interpreting these stories in fan communities. Here it is important to note that the audienceâs construction of the Marvel Cinematic Universe story is an essential aspect of how these franchises are conceived. Marvel has made sure that the audience gets a similar experience with every product of theirs; as if they watched different episodes of the same series. The audience stays invested in the fictional universe of Marvel, because they get more and more new material to their excitement.
âThe Marvel Cinematic Universe is an example of transmedia storytelling. The MCU exist within a continuity (a radical intertextuality) that provides potential sequels with different (subjective) points of view. The seriality of the MCU makes it possible to populate the same fictional universe (storyworld). The multimodal nature of the MCU could appeal to various audiences, including cinema-goers, the audience in front of their television device, or the Netflix subscribers who love binge-watching. And, on top of that, there are tidbits even for comic book readers, or hardcore fans who watch all the Blu-ray extras. Due to the vastness of this transmedia universe, fans can form knowledge communities online, and they can reconstruct the minor and major details of their favorite storyworld by creating web-based encyclopedias (wikis). Marvel provides enough material for interested viewers to be able to immerse themselves all the time.â (Adam Richter)
Jika berbicara tentang era âprodusageâ kita dapat mengaitkan dengan penggunaan SoundCloud saat ini. SoundCloud merupakan audio platform dimana pengguna dapat mendengar apa yang diinginkan dan berbagi apa yang diciptakan. Dengan SoundCloud, pengguna dapat menjadi creator kontennya sendiri. Sebagai creator, pengguna pun tidak membutuhkan dukungan seperti halnya label rekaman. Pengguna bebas mengunggah musik ciptaannya.
Melalui SoundCloud, para pengguna dapat saling menikmati musik hasil ciptaan satu sama lain, memberi komentar, dan like. SoundCloud pun telah menjadi social networking sites bagi para pecinta musik. Berbagai musik yang ada di SoundCloud nantinya juga dapat dimanfaatkan lebih jauh oleh pengguna lain, misalnya sebagai backsound video di YouTube, tentunya dengan izin dari creator musik tersebut.
Dalam situs SoundCloud sendiri dinyatakan:
âAny and all audio, text, photos, pictures, graphics, comments, and other content, data or information that you upload, store, transmit, submit, exchange or make available to or via the Platform (hereinafter "Your Content") is generated, owned and controlled solely by you, and not by SoundCloud.
SoundCloud does not claim any ownership rights in Your Content, and you hereby expressly acknowledge and agree that Your Content remains your sole responsibility.â
Reference:
Produsage: Towards a Broader Framework for User-Led Content Creation, Dr Axel Bruns.
Picture