Blusukan Solo – Putra-Putri Solo : Resume Cerita Nostalgia Soerakarta di Solo Camp Fest Adore
Pada tanggal 5 Mei 2013 Putra-Putri Solo bekerjasama dengan Blusukan Solo melakukan kegiatan Solo Camp Fest Adore. Di dalam kegiatan Solo Camp Fest Adore ini terdapat satu agenda Blusukan yang oleh Blusukan Solo dikemas menjadi kegiatan perkenalan Sejarah Kota Solo secara umum dengan menaiki andong mulai dari Manahan hingga ke beberapa Rumah Pangeran yang ada di Kota Solo.
Putra-Putri Solo dan beberapa Duta Wisata baik dari Jawa Tengah ataupun Jawa Timur serta peserta umum turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Harapan kami Putra-Putri Solo dan para Duta Wisata tidak hanya memperkenalkan asset Pariwisatanya saja tetapi mengetahui Sejarah yang ada dan berkembang di daerahnya serta turut menjaga asset Sejerah tersebut.
Rombongan mulai menaiki andong dari sebuah daerah dimana dahulu tanah di daerah tersebut milik Ki Ageng Pemanahan. Pemberian nama Manahan ternyata masih ada kaitannya dengan pemilik tanah tersebut yaitu Ki Ageng Pemanahan. Daerah yang sekarang disebut Manahan dulunya adalah tanah milik Ki Ageng Pemanahan, salah seorang pengawal raja Kerajaan Pajang. “Waktu itu Sultan Pajang, Hadiwijoyo memberikan hadiah kepada semua pengawal dan penasihat setianya termasuk Ki Ageng Pemanahan, yang mendapatkan tanah yang sekarang disebut Manahan,” Tanah tersebut, tidak ditempati sehingga ketika Pakubuwono II mulai memerintah di Solo (17 Februari 1745) daerah tersebut menjadi hutan dan rawa-rawa.
Kondisi tersebut berlangsung hingga daerah itu berada di bawah kekuasaan Mangkunegara I, sekitar 15 tahun kemudian. Baru pada masa pemerintahan Mangkunegara VII dan Pakubuwono X, daerah itu mulai mengalami perubahan. Ketika Belanda ingin mengembangkan Solo sebagai daerah perkotaan dengan segala atributnya seperti stasiun kereta api, drainase, sanitasi, dan sebagainya. Salah satu yag dibangun adalah Stasiun Balapan yang memakai tempat pacuan kuda milik Istana Mangkunegaran. “Karena tempat pacuan kudanya dipakai untuk membangun stasiun, Istana Mangkunegaran kemudian meminta tanah milik Ki ageng Pemanahan sabagai gantinya. Belanda memenuhinya dengan meminta tanah tersebut dari Kasunanan, dan menyerahkannya kepada Istana Mangkunegaran,”. Pihak Istana Mangkunegaran, kemudian membangun sarana olahraga yang meliputi lapangan sepakbola, tempat pacuan kuda, dan tempat latihan panahan.
Rombongan kemudian melewati sebuah daerah yang terdapat bangunan Ziekenzorg (rumah Sakit) yang bernama Inslandsc Ziekenhuis de vereniging ziekenzorg atau juga sering disebut Ziekenzorg Mangkoeboemen, Tidak diketahui secara pasti kapan rumah sakit swasta pribumi ini didirikan, namun yang jelas pada tahun 1907 rumah sakit yang dikelola oleh Vereeniging voor zieken verpleging in Nederlandsch-Indie (VZNI) ini sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial (lokasi rumah sakit ini sekarang telah menjadi Apartemen dan Pusat Perbelanjaan)
Melanjutkan perjalanan rombongan andong kemudian sampai didaerah Societeit Mangkoenegaran yang terdapat gedung "Sasana Soeka" dimana pada tanggal 9 Februari 1946 bertempat di gedung “Sasana Soeka” Surakarta telah berhasil dibentuk organisasi profesi wartawan dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Ketua pertamanya adalah Mr. Soemanang. Sedangkan yang hadir antara lain B.M. Diah, Adam Malik, Soemantoro, Sudarjo Tjokrosisworo, Sutopo Wonoboyo, Manai Sophiaan, dan lain-lain, terutama para wartawan yang ketika itu tinggal di Yogyakarta dan Surakarta. Semula gedung yang bernama Sasana Soeka itu ialah sebuah societeit milik Mangkunegaran. Gedung tersebut dibangun atas prakarsa Sri Mangkunegara VII, dilaksanakan oleh designer arsitek Jawa terkenal Mas Aboekasan Atmodirono pada tahun 1918 (Sekarang Gedung ini bernama Monumen Pers)
Andong terus melaju melewati beberapa tempat yang memiliki banyak cerita sejarah. Rombongan juga melewati kompleks Mangkunegaran. Pura Mangkunegaran adalah istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di Surakarta dan dibangun setelah tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil. Secara arsitektur bangunan ini memiliki ciri yang sama dengan keraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.
Pura Mangkunegaran ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran dan dua tahun setelah dilaksanakannya Perjanjian Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakartaoleh VOC (Kumpeni) pada tahun 1755. Kerajaan Surakarta terpisah setelah Pangeran Raden Mas Said terus memberontak pada VOC (Kumpeni) dan atas dukungan sunan mendirikan kerajaan sendiri tahun 1757. Raden Mas Said memakai gelar Mangkunegoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian Sungai Pepe (Kali Pepe) di pusat kota yang sekarang bernama Solo.
Di barat Mangkunegaran juga Masjid milik Mangkunegaran , nama masjid itu adalah Al-Wustho. Pendirian Masjid Mangkunegaran diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegara I di Kadipaten Mangkunegaran sebagai masjid Lambang Panotogomo. Sebelumnya terletak di wilayah Kauman, Pasar Legi, namun pada masa MN II dipindah ke wilayah banjarsari dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepada Puro Mangkunegaran. Pengelolaan masjid dilakukan oleh para abdi dalem Puro Mangkunegaran, sehingga status masjid merupakan Masjid Puro Mangkunegaran. Pemugaran besar-besaran atas Masjid Mangkunegaran terjadi pada saat pemerintahan MN VII, pada saat itu MN VII meminta seorang Arsitek dari Prancis untuk ikut serta mendesain bentuk masjid ini. Luas Kompleks masjid sekitar 4200 m2 dengan batas pagar tembok keliling sebagian besar di muka berbentuk lengkung. Menara, dibangun tahun 1926 pada masa MN VII. Digunakan untuk menyuarakan adzan, pada saat itu dibutuhkan 3-4 orang muadzin untuk adzan bersama-sama dalam menara ke 4 arah yang berbeda. Saat ini Masjid Mangkunegaran bernama Al-Wustho, diberi nama demikian pada tahun 1949 oleh Bopo Penghulu Puro Mangkunegaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi. Masjid Mangkunegaran merupakan masjid yang cukup unik karena di sini dapat dilihat hiasan kaligrafi Al-qur’an di berbagai tempat, seperti pada pintu gerbang, pada markis/Kuncungan, soko dan Maligin.
Perjalanan menuju ke Keraton pun dilanjutkan, setelah “melingkari” Pura Mangkunegaran rombongan andong sampai di suatu kampung yang bernama kebalen, sebelum memasuki kampung kebalen rombongan dijelaskan mengenai satu gedung yang bernama Bruderan. Bruderan Purbayan atau tempat pendidikan para calon bruder sebenarnya memiliki hubungan yang erat dengan beberapa lembaga pendidikan katolik yang berlokasi tidak jauh dari Bruderan yakni Susteran Fransiskanes di seberang jalan maupun d engan SD Pangudi Luhur, disebelah kiri jalan, yang dulu juga dikenal sebagai SD Bruderan Purbayan. Bahkan SD ini lebih dulu berdiri pada tahun 1921 dengan nama HIS Purbayan. Bangunan Bruderan Purbayan didirikan pada tahun 1926 atas inisiatif Pastur Hoevenaars yang membutuhkan tenaga Bruder untuk membantu tenaga bagi HIS. Pimpinan pertama untuk Bruderan Solo, 1926, ialah Br. Siardus yang digantikan Br. Victorinus. Bruderan Purbayan juga memiliki peran penting dalam mengembangkan lembaga pendidikan katolik lainnya seperti MULO (1928), Hollands - Chinese School (1936) di Keprabon — HCS — Sekolah Tionghoa Belanda, Yang menjadi SMA St. Yosef, sebelum pindah di Sumber, Kerten, Schakelschool (1932), SMP Bintang Laut (1958).
Boleh dibilang, dari rumah Bruderan inilah lahir lembaga - lembaga pendidikan berbasis Katolik di Solo. Bangunan Bruderan ini selain terdiri dari ruangan asrama, ruang tamu, perpustakaan, juga terdapat Kapel yang penuh ornamen yang menarik dan bernilais seni tinggi yang diambil dari cerita Alkitab. Keutuhan Kapel sangat terjaga sampai saat ini. Selain itu, keunikan bangunan ini adalah memiliki tiga kubah pada bangunan induk, yang diberi Salib. Kemudian pada tepi kiri dan kanan yang terbuat dari kayu jati.
Tibalah rombongan di kampung Kebalen, Menurut buku Babad Sala yang ditulis RM Said, awalnya para pedagang yang berasal dari Pulau Bali tinggal di satu lokasi dan tempat tersebut dikenal dengan nama Kampung Kebalen. Sama halnya dengan tempat tinggalnya bangsa lain seperti China yang terpencar-pencar di Pasar Gedhe, Ketandan dan Balong yang kemudian dikenal dengan Kampung Pecinan.
Kampung Kebalen tidak lepas dari keberadaan komunitas pedagang dari Bali. Mereka lama kelamaan tersingkir oleh para pedagang peranakan China yang mendirikan pertokoan di kampung itu. Munculnya Kampung Kebalen sudah ada pada sekitar abad 15 sampai abad 16, bersamaan dengan munculnya komunitas para pedagang di bandar-bandar perdagangan di sungai-sungai di Solo. Munculnya kampung Kebalen hampir bersamaan dengan Kampung Pecinan dan muncul sebelum perpindahan Keraton dari Kartasura ke Solo.
Selepas dari kampung Kebalen rombongan menuju kearah Selatan tiba di depan Balaikota rombongan diceritakan sedikit mengenai tugu pemandengan. Pembangunan tugu di Surakarta sudah sedimulai sejak masa Sunan Paku Buwana X. Tugu Pemandengan ini merupakan titik nol kilometer dan berada di depan balaikota Surakarta. Beliau membangun beberapa tugu seperti tugu Cembengan di Jebres, tugu Lilin di Penumping, tugu Jam di Pasar Gedhe. Di samping itu Paku Buwana X juga membangun tugu Masjid Kotagede dan tugu Jam di Makam Imogiri.
Selepas dari daerah balaikota tentu banyak bangunan yang memiliki cerita Sejarah sebut saja bangunan Bank Indonesia (lama) dan Benteng Vastenburg. Bangunan Kantor BI Cabang Solo, dalam sejarahnya juga merupakan bekas bangunan DJB, sebuah bank sirkulasi untuk Hindia Belanda. Pertama kali DJB dibangun di Batavia (sekarang menjadi Museum BI), lalu DJB mulai membuka kantor cabang di luar Batavia, salah satunya adalah yang berada di Kota Solo. Merupakan kantor cabang karya arsitek Hulswit, Fermont dan Ed. Cuipers dengan standart gaya neoklasik. Sekelompok pemuda pernah menggunakan gedung ini untuk menculik PM. Syahrir pada masa revolusi.
Vastenburg, dahulu bangunan ini bernama "Grootmoedigheid" . Didirikan oleh Jenderal Baron Van Imhoff pada tahun 1745 sebagai benteng pertahanan tentara Hindia Belanda wilayah Jawa Tengah. Benteng didirikan di pusat Surakarta , dekat dengan Keraton Kasunanan agar dapat lebih mudah mengawasi gerak gerik Keraton Kasunanan Surakarta. Benteng ini dahulu merupakan benteng pertahanan yang berkaitan dengan rumah Gubernur Belanda. Benteng dikelilingi oleh kompleks bangunan lain yang berfungsi sebagai bangunan rumah tinggal perwira dan asrama/mess perwira. Bangunan dikelilingi oleh tembok batu bata setinggi 6m dengan konstruksi bearing wall serta parit dengan jembatan angkat sebagai penghubung. Setelah kemerdekaan pernah berfungsi sebagai kawasan militer dan asrama bagi Brigif-6/ Trisakti Baladaya / Kostrad. Bangunan di dalam benteng dipetak-petak untuk rumah tinggal para prajurit dengan keluarganya.
Akhirnya rombongan tiba di salah satu daerah paling terkenal di Kota Solo yaitu Gladag. Gapura Gladag
merupakan gerbang penghubung wilayah luar bagian utara dengan kompleks keratin yang berbentuk candi bentar dengan ornament hias yang berjumlah 48 (angka ini merujuk pada usia Paku Buwana X pada saat melakukan renovasi gapura, di tahun 1930). Pada bagian depan gapura terdapat 2 arca raksasa kembar/ Arca pandita Yaksa. Kata Gladag sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti ‘tarik dengan paksa’. Dalam hal ini yang ditarik dengan paksa adalah hewan buruan yang akan disembelih dan hasilnya dibagikan kepada rakyat yang telah menunggu di alun-alun utara.
Gladag memiliki 3 bangunan gapura. Ruang antara gapura 1 dan 2 berfungsi sebagai tempat menyimpan binatang hasil buruan sebelum disembelih. Ruang antara gapura 2 dan 3 yang dinamakan Pamurakan, berfungsi sebagai tempat menyembelih binatang buruan. Kata Pamurakan sendiri berasal dari kata Murak yang berarti ‘membagi-bagikan’.
Perjalanan Nostalgia cerita Sejarah di Solo Camp Fest Adore pun mencapai puncaknya. Rombongan andong tiba di Keraton Kasunanan Surakarta. Melalui Supit Urang menuju ke Kori Kamandungan Lor. Para Rombongan turun dari andong di kori Kamandungan untuk bersiap bertemu Raja Keraton Surakarta Sinuhun PB XIII Hangabehi
Rombongan kemudian menuju SasanaPutro. Sebelum bertemu Sinuhun PB XIII Hangabehi rombongan pun di arahkan mengenai tata cara untuk dapat bertemu Sinuhun PB XIII Hangabehi.
Sedikit banyak kami rombongan Solo Camp Fest Ador mendapat “wejangan” dari Sinuhun PB XIII Hangabehi. Setelah bertemu dengan Sinuhun PB XIII Hangabehi rombongan dipersilahkan menuju Museum keratin melalui pintu Kamandungan
Puas mengeleilingi Museum Keraton rombongan kemudian menuju Ndalem Mloyosuman untuk melihat kondisi dan mendengar cerita sejarah tentang Ndalem yang disudut areal nya terdapat Makam Ki Gede Sala yang konon merupakan Pemilik tanah pertama di Desa Sala (Cikal Bakal Surakarta). Ndalem yang dikunjungi rombongan Solo Camp Fest Adore adalah Ndalem Mloyosuman, Ndalem Suryohamijayan, dan Sasanamulyo
Cerita tentang Ndalem Pangeran bisa diliat di tautan berikut Blusukan Ndalem Pangeran 1 dan Blusukan Ndalem Pangeran 2
Artikel oleh : Nino S Basunindyo (@dikSayid)
Fendy Fawzi A (@fefafian)