KEBUN KOPI Mata mencoba membuka sedikit demi sedikit ketika mendengar suara Adzan subuh berkumandang dari masjid di sebelah rumahku Ku ambil air wudhu dari sumur mata air suci yang sering digunakan oleh keluarga besar ku Kutundukan kepala sembari berdo'a pada sang pencipta langit dan bumi untuk kelancaran aktifitas hari-hariku Aroma masakan khas padang guci yang di masak ibuku telah menggoncangkan lidah dan teman-teman yang ada di dalam perutku Langkah kaki menuju kearah timur kampung halaman yang telah membesarkan ku Warna Kemera-merahan yang ku lihat dari kejauhan tat kala sembongkah berlian yang telah banyak berjasa menghidupi keluarga besar ku Semut-semut hitam mencoba menghampiri seolah telah mengenal dan bersahabat denganku Matahari pagi telah berada di atas kepala layaknya saudara yang mulai menyapa Secangkir kopi menemani pelepas lelah diantara merdunya suara burung bersama angin gombal yang telah menggoyahkan kayu-kayu yang ada di sekelilingku Kembali ku hampiri semut-semut hitam yang ternyata mau bersahabat denganku Tak terasa matahari telah hilang jauh dari pandangan yang menunjukan bahwa aku harus pulang keistana milik keluarga ku Sedikit cerita yang bisa ku bagi untuk hari ini. *Ada salam dari KEBUN KOPI untuk sahabat-sahabat putra pedesaan yang membaca tulisan ini. => Padang Guci, 12 Mei 2016 #ceritadesa #putrapedesaan #padangguci #bengkulu #indonesia (di Padangguci, Bengkulu, Indonesia)









