Kampanye Gerakan: Pro vs Kontra
Hari ini saya menemukan akun yang mengakampanyekan anti nikah muda. Beberapa bulan lalu saya menemukan akun yang mengkampanyekan menikah muda. Pro kontra dua akun itu memiliki banyak followers ujungnya berdebat.
Peran media sosial disini sangat besar yang membuat pengaruh terbentuknya akun-akun tersebut bahkan sampai membuat komunitasnya. Orang yang menikah muda pamer dengan kebahagian versinya. Begitupun orang yang memilih tidak menikah muda pamer dengan kebahagiaan versinya. Mereka bahagia atas pilihannya.
Pro kontra itu wajar
Menjadi tidak wajar ketika akhirnya saling caci maki pada setiap pilihan masing-masing orang. Setiap orang pasti punya alasan untuk memilih menikah muda ataupun menikah nanti di usia tertentu. Mengapa kita perlu tau alasan pilihan mereka lalu mencacinya ketika dirasa alasan itu gak logis, gak logis menurut kita, logis menurut mereka.
Akun atau komunitas menikah muda banyak upload  tentang ânikmatnyaâ menikah muda, akun atau komunitas anti menikah muda akan membalasnya dengan kasus perceraian orang-orang yang menikah muda.
Akun atau komunitas anti menikah muda upload  tentang menikah dengan kondisi finansial yang aman akan lebih mudah menjalani pernikahan, akun atau komunitas menikah muda akan membalasnya pernikahan akan membuka keran rejeki.
Mereka saling upload kebaikan-kebaikan yang mereka terima atas pilihan mereka, lalu mencaci keburukan-keburukan pilihan atau nilai yang lawan mereka yakini.
Fokus pada kebaikan, jangan saling caci
Kita perlu percayakan bahwa kebaikan dan nilai-nilai yang mereka yakini adalah baik untuk mereka sendiri. Sebab berbeda, tak perlu saling caci. Kalo kita yakin A, bagi orang lain B adalah paling benar. Begitupun sebaliknya.
Perdebatan, perselisihan, bahkan keributan akan selalu terjadi jika semua merasa paling benar dan yang lain adalah salah. Padahal ini hanya sebuah pilihan.
Jika orang-orang yang memilih untuk menikah muda beralasan untuk menjaga diri dari zina sementara menurut gerakan anti nikah muda menghindari zina bisa dengan cara lain selain menikah. Bisa jadi hanya menikah yang bisa menyelamatkannya (menurut gerakan menikah muda) begitupun sebaliknya.
Tidak ada standar yang sama
Kita tidak bisa menyamaratakan standar.
Apakah saya abu-abu? Tidak juga. Dalam Islam perbedaan pendapat itu wajar dan biasa terjadi, apa lagi ini hanya masalah perbedaan pilihan beserta alasanya.
Toh, selama niat baik menikah untuk keridhaan Allah itu bagus dan mereka menjalaninya dengan tuntunan agama, bertanggungjawab atas pilihannya apa yang mau kita salahkan?
Begitupun orang-orang yang mengambil pilihan menunda pernikahan untuk berbuat untuk kemaslahatan umat, dan alasan lain yang diridhoi Allah untuk apa disalahkan?
âJika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnyaâ (QS. An Nisa: 59).
Dengan catatan, jangan menyalahkan bahkan menolak syariat.
Dengan catatan, jangan mendahului takdir, dan memvonisnya.
Dengan catatan, pilihlah jalan yang Allah ridhai, minimal jangan pilih jalan yang Allah murkai.
Sudah. Stop caci maki.
Tangerang, 27 Mei 2019 - 22 Ramadhan 1440 H








