Dalam 4 hari saya akan meninggalkan Jakarta. Meskipun tempat tujuan itu adalah kota kelahiran saya sendiri, dan saya sendiri tidak pernah menyangka akan pernah merasa seperti ini, saya merasa enggan meninggalkan kota ini. Semakin dekat dengan hari keberangkatan, rasa itu semakin kuat. Sulit rasanya membayangkan bahwa hiruk pikuk ibukota, suara klakson di sepanjang jalan, mengecek tanggal ganjil/genap sebelum melalui jalan arteri, sesaknya commuter line tak akan lagi menjadi bagian dari rutinitas. Setidaknya untuk setahun ke depan,
Juga mungkin beberapa tahun ke depan. Fingers crossed.
Hari ini saya termenung memandang ke luar kaca jendela mobil di tengah kemacetan Jalan Raya Bekasi dengan perasaan campur aduk; kesal karena tak kunjung tiba di tujuan disertasi sesal karena tak akan 'menikmati' sensasi ini lagi dalam waktu dekat.
Menengok kembali ke lima setengah tahun silam, saya tak pernah merasa seperti ini saat meninggalkan rumah. Kala itu saya baru berusia 15 tahun. Bisa diterima di kampus idaman dan persiapan menjalani kehidupan kos (apalagi setelah mendengar cerita orang-orang terdekat terdekat mengenai suka-duka hidup mandiri di kota yang asing) berperan erat dalam prosesnya. Saat itu saya begitu naif, tak membayangkan cobaan seperti apa yang akan saya hadapi setelahnya.
It is true what people say, ignorance is bliss.
Tanpa itu barangkali saya akan menghalalkan segala cara agar tidak perlu menginjakkan kaki ke Jakarta, tidak akan berada di posisi ini, di mana saya sendiri enggan meninggalkan tempat yang tadinya saya benci. Selama beberapa tahun terakhir, saya paling malas membeli tiket balik ke Jakarta setelah menghabiskan malam di ranjang sendiri. Sebal rasanya mengingat saya akan kembali menikmati makan malam sendiri alih-alih bersama keluarga terdekat di meja makan. Kini, semuanya terasa terbalik. Lucu juga.
Lagu Castle on The Hill milik Ed Sheeran menjadi on repeat rutin saya dalam seminggu terakhir. Liriknya seakan memperingatkan saya untuk segera pulang ke tempat yang saya rindukan. Namun pulang ataupun pergi, tentunya ada sesuatu yang kita tinggalkan dalam prosesnya. Sebahagia apapun, pasti akan ada rasa pahit yang tersisa saat mengenang hal-hal yang kita tinggalkan.
Selalu seperti itu. Over and over again.
I still remember these old country lanes
When we did not know the answers
And I miss the way you make me feel
We watched the sunset over the castle on the hill
Untuk sekarang saya memilih untuk banyak bersyukur karena dapat merasakan kerasnya hidup di Jakarta dan diberi kesempatan untuk pulang, sebuah nikmat yang telah lama dinanti. Sampai jumpa, ibukota. Kita akan bertemu kembali di saat yang lebih baik.
I can’t wait to go home