Happy Sunday all! Minggu pagi, kami sudah siap2 pindah kontrakan. Kenapa kami memutuskan pindah? Air. Itu alasan utama kami, di tempat yang lama kami kesulitan sekali dalam hal penggunaan air, karena air di sana begitu terbatas akhirnya kami galau untuk mencuci karena merasa tidak enak dengan yang lain dan sebagainya, jadi daripada menimbulkan konflik nantinya akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat baru yang airnya lancar dan harganya juga lebih murah karena memang tempat kami yang lama ini bisa dibilang sangat mahal, Rp. 18jt per tahun dengan fasilitas 2 kamar tidur, 1 tempat kumpul, 1 kamar mandi, 1 dapur, dan air yang terbatas.
Sebelum pindah tentu kami melakukan survey terlebih dahulu, sampai akhirnya kami dapat rumah yang kami impikan, hahaha *berlebihan. Rumah yang kami dapatkan ini seharga Rp. 17jt/tahun, lebih murah sejuta dari rumah yang sebelumnya tapi fasilitas yang berkali lipat lebih baik. Di rumah 2 lantai ini kami punya 6 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 tempat kumpul, 1 ruang tamu, 1 dapur, 1 unit mesin cuci, 1 unit televisi, 1 set sofa, 2 buah spring bed, dan yang terpenting adalah air lancar, oiya biaya listrik dan air pun kami sudah tidak perlu bayar lagi. Wow, kami membuat kontrakan ini seperti rumah kami sendiri, karenanya kami buat senyaman mungkin, sebagai tempat refreshing dari kampung dan tempat melepaskan rindu dengan teman2 yang lain.
Tidak semua kamar kami gunakan, kami hanya menggunakan 3 kamar di lantai atas sebagai kamar tidur, 1 kamar tidur kami sulap sebagai ruang kerja, 1 kamar di bawah kami jadikan tempat sholat, dan 1 kamar lagi sebagai tempat meletakkan barang inventaris jangka panjang. Setelah menurunkan semua barang dari angkot, kami pun membagi tim kedalam dua kelompok, 1 kelompok bertugas ke pasar untuk belajar segala kebutuhan untuk rumah baru ini, sedangkan 1 kelompok lagi bertugas untuk membereskan barang2 pindahan dari rumah yang lama. Aku, wiwik, deasi, dan mikedapat tugas untuk belanja ke pasar. Nah di pasar aku pun ketemu dengan kepala sekolahku, ibu Suhemi. Ngobrol sebentar masalah sekolah, dan kami berpisah.
Belanja barang kebutuhan ternyata lama juga, dan perlu seni menawar tentunya. Pulang belanja kami bersantai sejenak di rumah baru kami. Kami sudah berencana untuk mendekorasinya agar rumah ini bisa menyemangati kami berjuang selama setahun di sini, dan aku tidak sabar menunggu rumah ini jadi sepenuhnya, tak sabar juga mengalami segala dinamika selama setahun ini. Oh Allah, please guide us to do our best, amen.
Malamnya kami bersilaturahmi ke tetangga sekitar, memperkenalkan diri dan sedikit bercengkerama dengan warga sekitar. Pulang silaturahmi kami makan malam bersama, hasil masakan mitha dan wiwik. Betapa beruntungnya aku teman2ku ini dengan ikhlas mau membersihkan rumah, terkadang mencucikan baju, dan memasak untuk kami, jadi pengeluaran kami lebih hemat. Kami bertujuh memang berbeda, sangat berbeda karakter, tapi ternyata perbedaan itu memang indah kawan, selama kita bisa menghargainya, dan yak, memang keahliah orang2 itu berbeda dan banyak sekali. Beruntunglah aku punya teman wiwik yang dikala galau malah jadi produktif ingin membersihkan rumah, ada juga deasi yang hobinya mencuci dan menstrika baju, lalu ada mitha yang senang sekali ketika tau di rumah ini ada dapur karena ia memang suka memasak, lalu ada corry yang inisiatif serta toleransinya tinggi, jadi dia bisa bantu apapun dan siapapun.
Hari ini juga aku telpon2an dengan mas arif, kakak pertamaku di tarak, dan teman2 di Sangihe. Senang sekali rasanya ketika bisa menelepon teman yang juga sedang berjuang di tempat lain. Setiap kali diri ini merasa lelah, diri ini secara otomatis mengingat bahwa aku tidak sendiri, masih ada 73 temanku yang lain yang juga merasakan hal yang sama, merasakan kelelahan yang sama, masalah yang sama, drama yang sama, juga kesenangan yang sama, pelajaran yang sama, dan momen yang penuh makna tentunya.
Fakfak, 30 Juni 2013, 22:44 WIT