Hujan malam ini, dan Mas Bagong pun berpuisi.

seen from Germany
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from United Arab Emirates
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
Hujan malam ini, dan Mas Bagong pun berpuisi.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
@arialkarwa untuk Pundak Lutut Kaki Lutut Kaki Zine.
Surat Untuk Bapak Jokowi
Kim-Sow-Tong seharian ini mengunci diri di dalam kamar. Ia hanya keluar kamar saat ingin buang air dan jam makan donatnya. Sontak hal ini buat Mas Bagong bingung. Dirinya membatin di depan pintu kamar Kim, “ngape die nih? Aneh sekali hari ini. Keluar kamarpun ndak maok. Coli keh ape? Tapi masa’ lama betol?”. Lalu berjalan ia ke dapur, tapi tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.
Kim keluar menuju toilet. Namun, setelah langkah ke tiga pria Korea itu dihadang orang Jawa berbibir hitam yang tak lain adalah Mas Bagong. “Kau ngape, boi?”, Tanya Mas Bagong. Menghembuskan nafas lewat mulut, Kim bilang, “aku lagi nulis surat buat Bapak Jokowi, Gong. Aku mau mengeluh, memohon, sekaligus menantang beliau soal fenomena tahunan kite disini. Kabut asap”.
Mas Bagong cekikikan. Ia pikir orang ini bercanda. Baginya menulis surat ke Presiden tidak ada gunanya. Wong orang teriak-teriak setiap kamis di depan istana Negara saja tidak pernah digubris, apalagi lewat surat. Tidak masuk akal.
Tapi siapa sangka hari itu Kim serius dengan ucapannya. Total 12 jam dihabiskan untuk menulis sepucuk surat. Begini isi surat itu
Yang terhormat, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo Di tempat
Dengan hormat Perkenalkan nama saya Kim-Sow-Tong. Saya lahir di Korea Utara tapi telah menjadi warga negara Indonesia yang sah.Sebelumnya saya ucapkan terima kasih sudah berkenan membaca surat ini. Surat ini merupakan suara hati saya, Bapak. Dan mungkin bisa mewakili suara-suara rakyat Indonesia yang lain.
Bapak Jokowi, kita semua tahu tentang fenomena tahunan yang terjadi di tanah air kita. Tak lain tak bukan adalah kabut asap. Saya mengeluh, Bapak. Indonesia mengeluh. Bahkan negara tetangga mengeluh.
Bagong, teman serumah saya, batuk tak karuan. Anaknya Marni, si Rapael, juga pilek dan demam.Yang paling parah Kak Yun, yang punya warung di depan. Ia tidak kuat berjualan karena asma nya akhir-akhir ini sering kambuh karena asap. Ini masalah serius buat saya. Kesehatan kami terancam.
Lewat surat ini saya memohon sekaligus menantang Bapak Jokowi, pemimpin yang saya percayai, untuk menyelesaikan masalah ini. Mari kita kembalikan udara yang bebas asap bersama-sama. Supaya tidak ada lagi orang yang sakit.
Akhir kata, jika ada kata yang tidak berkenan dihati Bapak saya mohon maaf sekali. Terima kasih banyak.
Salam
Setelah selesai, surat itu dimasukkan dalam amplop kecil berwarna hijau daun. Tak lupa ia menulis di bagian depan amplop. Namun bukannya menulis alamat, Kim malah menulis sesuatu yang aneh.
Kepada Agus, teman sekaligus Pak Pos terbaikku, tolong sampaikan ini ke Istana Negara ya. Saya ndak tahu alamatnya. Makasih, Gus.
Kim.
*Cerita ini juga dapat dinikmati di versi cetak Pundak Lutut Kaki Lutut Kaki Zine Cawu III
The Venopian Solitude, Imam Rozali, Mondo Gascaro, Aubrey Fanani rrrecfest in the valley 2017 Tanakita, Sukabumi
Kemaren digelaran rrrecfest in the valley 2017. Telat upload. Biasalah orang pe'ak. Namanya juga pe'ak. Sungguh acara yg seru sekali! Dan kembali, ikutan nimbrung bareng @tutbek . Terimakasih tutbek! We love you :*

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Frau rrrecfest in the valley 2017 Tanakita Camping Ground, Sukabumi
[INTERVIEW] Psychedelic, Men Of The Hocus-Pocus, MOTH
Trio psychedelic rock asal Sidney-Pontianak, MOTH, pada 10 Juli kemarin mengadakan launching E.P bertajuk Men Of The Hocus Pocus di Mahkota Hotel Parking Area, Pontianak, Kalimantan Barat. MOTH dengan musik yang mereka usung seakan membawa suasana baru untuk khatulistiwa, yang sebelumnya tak banyak dihuni oleh musisi beraliran serupa.
Materi yang menohok dengan performa yang powerfull membuat mereka tidak bisa dianggap remeh. Bertolak belakang dengan judul E.P nya hocus pocus yang berarti hoax atau kebohongan, MOTH membuktikan bahwa mereka bukan omong kosong belaka.
PLKLK membicarakan banyak hal bersama Kikin (bass, vocal), Fian (gitar), dan Julio (drum) selepas pertunjukan.
K= Kikin F= Fian J= Julio
Apa yang dirasakan setelah acara launching ini?
F: Rasanya kayak fresh, jadi semangat sekali gitu K: Kalo saya merasa mereka (crowd) pada support. Impian dari semua artis saya rasa adalah bagaimana karyanya diterima oleh semua orang. Orang-orang antusias dan mereka masuk dengan musik kami. Sebenarnya musik MOTH ini kami pengen kenalin ke Pontianak. Mungkin belum pernah ada band yang membawakan musik seperti MOTH, mungkin ya saya juga kurang tahu.
Pesta launching E.P di Pontianak ini sendiri apakah sudah direncanakan jauh-jauh hari? Yang kayak “kita punya E.P nih, mau bikin pesta di Pontianak ah”.
F: Dari awal MOTH lahir, tiga tahun yang lalu, memang kita pengennya yang seperti acara malam ini. K: Tapi ya itu, kita punya rencana cuma memang jarak dan waktunya selalu nggak pas. Kayak tahun kemarin harusnya udah keluarin E.P, eh malah tahun ini jadinya. J: Banyak rencana yang tertunda. Karena kita jauh. Beda Negara hahaha. F: Mungkin band-band bisa ngejam bareng segala macem, kalo kita malah nggak pernah. J: Kita ngejam via email. K: Via email kalo nggak telepon hahaha.
Terus bagaimana kalian menyatukan pikiran? Satu visi satu misi, sementara personil MOTH dipisahkan oleh benua yang berbeda, jarang latihan bareng yang benar-benar ketemu secara langsung, tatap menatap satu sama lain. F: Background musik sih, yang kurang lebih sama. Jadi nyambung kita. Mau bikin lagu yang seperti apa, feel nya kayak gimana. J: Tapi susah sih buat nyatuin tiga kepala hahaha. K: Bener! Saya sama Fian kadang berdua aja susah nyatuin apalagi tambah Julio kan. Tapi dari situ kita jadi lebih kreatif.
Oke, pertanyaan selanjutnya. Misalkan ada nih penikmat musik yang baru pertama kali dengerin MOTH bilang gini “ini Tame Impala banget musiknya”, bagaimana respon kalian?
F,K,J: Memang gitu sih. K: Memang influence kita salah satunya dari Tame Impala. Tapi sebenarnya kalau dibilang Tame Impala banget ya nggak juga. Saya sama Fian kan di Aussie nih, karena kami senang musik otomatis ngikutin scene disana juga kan, scene di Sidney. Jadi, memang scene di Sidney ini kurang lebih kayak Tame Impala. Tame Impala istilahnya tuh yang paling terkenal disana. Padahal banyak sekali band-band keren disana yang kurang lebih seperti mereka. Mungkin karena Tame Impala yang paling dikenal, jadi orang-orang bilang MOTH itu Tame Impala banget. F: Sebenarnya kalau kita dengarkan lagi Tame Impala jaman awal-awal, mereka juga ngikutin band psychedelic pendahulu. Jamannya Cream, Eric Clapton itu ada di album pertama mereka.
Berarti kalian ngulik sound juga ke jaman-jaman dulu ya?
F: Ya. Nyari vintage sound.
Beralih ke E.P nih. Materi-materi di E.P udah dikumpulin lama atau gimana?
K: Materi sebenarnya kita banyak sekali. Mungkin kalau dihitung itu ada 13 lagu. Cuma karena masalah jarak tadi. Saya sama Fian pas balik ke Pontianak misal sebulan, nah dalam sebulan itu cuma sempat ngerekam satu lagu. Kayak-kayak gitu. Kita juga mikir, buat makan sama biaya sekolah di Aussie aja lumayan mahal gimana mau rekaman disana. Jadi, mendingan rekam disini aja gitu.
Dan E.P ini pun kalian keluarin tanpa label ya. Apa alasannya?
F: Belum ada label yang mau ngambil soalnya hahahaha. J: Kita mau d.i.y hahaha. Mungkin one day ada label yang mau ngambil, ya tidak menutup kemungkinan. K: Kita juga nggak mau terima mentah istilahnya. Kalau label suruh gini gitu, ya dilihat dulu lah hahahaha.
MOTH di Pontianak udah pernah dapat panggung berapa kali?
J: Baru dua kali kita dengan formasi lengkap. F: Pertama kali kita manggung disini bertiga itu di acara Kosong-Kosong. J: Yang kedua itu di Sound Of Tree. F: Cuma saya sama Kikin belum bisa balik pas acara itu. Jadinya Julio dibantu sama kawan-kawan disini. Yang ketiga di acara launching ini.
Terus bagaimana perbandingan atmosfer skena di Aussie dengan yang terjadi malam ini?
K: Kalau yang saya lihat, di Aussie juga skenanya beragam ya. Dari pop ada, metal juga ada, punk pun ada. Mereka semua selalu antusias. Misalnya ada satu bar disana yang tiap malam minggu selalu bikin acara musik, ada beberapa band yang semuanya beda aliran. Mereka selalu antusias, yang loncat-loncat, joget. Mungkin memang beberapa dari penonton pada nggak tahu lagunya tapi tetap support. Itu yang dibutuhkan sebenarnya buat band-band lokal. F: Kayak tadi abang-abang dan kakak-kakak pas lagu pertama kayak masih bingung, tapi pas lagu kedua, ketiga, keempat udah mulai ngikutin. Udah mulai jingkrak-jingkrak segala macam, udah mulai masuk.
Pertanyaan terakhir. Rencana paling dekat?
F: Kita mau ngerekam satu single lagi judulnya “Lucid dream”, sama video clip juga sekalian. K: Mungkin dalam waktu dekat insyaallah. J: Mumpung masih disini soalnya hahaha. F: Semoga album juga bisa dikebut. Karena malam inikan semangat kita udah kebakar nih. Semoga nggak kendor lagi. Semoga.
Menemukan ini disalah satu sudut kedai kopi baru tapi sudah terkenal di Jogja. Karyanya Farid Stevy. Keren!