Surat untuk ibumu
Saya membayangkan berada pada saat itu, saat kamu membawaku menemui ibumu. Untuk berbicara berdua saja. Empat mata. Di suatu ruang di rumahmu.
Aku memandang lekat ke arah ibumu, kemudian menggenggam tangannya. Keriputan mata yg menerangkan bahwa kantong mata beliau bukan karena lelah bekerja, tetapi karena seringnya air mata.
Kemudian aku menarik nafas, mulai berbicara.
“Bu, beri kesempatan untuk mas mukit membahagiakanmu.
Beri kesempatan kepadanya untuk membuktikan bahwa perempuan pilihannya adalah benar yg terbaik untuknya.
Beri kesempatan untuk dia untuk membuktikan bahwa kekhawatiran kekhawatiran ibu itu tidaklah benar.
Beri kesempatan untuk ia bahwa sekarang telah ada perempuan yg baik, yg akan menjaganya, mengingatkan untuk makan, supaya mas mukit tidak kurus lagi, mengingatkan untuk tidak banyak merokok, mengingatkan untuk tidak minum minuman bersoda sebelum makan nasi.
Berikan kesempatan kepada perempuan itu yg siapa entah namanya, untuk merawat anak kesayangan mu itu bu.
Berikan kesempatan untuk dia menyemangati ketika mas mukit lelah. Menjadi penopang ketika mas mukit butuh dukungan.
Berikan kesempatan itu bu... aku mohon, ijinkan mas mukit untuk mengenalkan perempuan itu kepada ibu.
Perempuan yg membuat anakmu merasakan cintanya.
Saya yakin bu, sampai detik ini mas mukit itu orangnya baik. Dia anak patuh dan penurut yg sangat sayang sama ibunya. Saya yakin, dia tidak akan mengecewakan ibu dg menghadirkan perempuan yg tidak baik. Kalau toh perempuan itu belum sesuai dg kriteria ibu, sbg pimpinan keluarga nanti, saya yakin mas mukit mampu membimbingnya menjadi istri yg baik yg tidak membuat suaminya menjadi durhaka kepada ibunya.
Berikan kepercayaan mu itu ibu, bahwa apa yg dipilih oleh anakmu itulah yg terbaik baginya, bagi ibu juga”
Aku menatap kedua mata ibumu lalu berkaca kaca. Tak kuasa menahan, lalu malah membenamkan diri. Dan ibumu merangkulku. Aku menangis sesenggukan disana. Betapa mulianya aku. Merelakan bahkan memberi jalan untuk orang yg aku kasihi bersama dg kekasihnya. Aku menangis sesegukan, karena fakta, bahwa cinta membuatku menjadi lebih puitis. Bagaimana aku bisa mengucapkan kata kata itu, yg setiap jengkalnya menggores kekecewaan lagi dan lagi.
Sebenarnya ibuku melarang aku untuk datang dan terlibat lebih banyak tentang kehidupanmu. Karena banyaknya ketulusanku kamu tidak akan mampu melihatnya. Tapi biarkan aku sedikit membantu. Semua ini ulahku, jadi biarkan aku mengakhirinya dg akhir bahagia.
Ini adalah satu hal terakhir yg bisa aku lakukan untuk membantumu. Aku tahu, kamu tidak akan pernah bisa menerima kebaikanku. Karena sejak awal hatimu tidak memilihku. Walaupun ibumu mendesak. Aku tahu, kamu tetap akan menolak.
Biarkan aku membantu. Terlalu banyak kata kata kau tidak percaya kepadaku. Sekarang aku bertindak. Aku akan menjadi perempuan baik, yg memohon kepada ibumu, untuk mengijinkanmu mencintai perempuan lain, yg memang sebenarnya kau ingini. Biar. Luluh semua air mata. Aku ikhlas. Dg perasaan tergilas.
Selamanya perempuan itu adalah ibuku juga, dengan kebaikannya kepadaku. Setidaknya aku menganggapnya begitu, meski kamu tidak mengijinkan. Tak apa.
Aku tahu, aku telah mengambil banyak perhatiannya, dan membuat ibumu sepenuhnya berpihak kepadaku.
Tapi aku menolak, dan memilih mundur. Bukan karena aku tidak menyukai ibumu. Tapi untuk membahagiakan kamu. Supaya kamu tidak membenci ibumu. Supaya kamu tidak merasa tersakiti dg kebaikanku.
Dalam mencintai, tidak ada yg boleh dipaksa. Daripada kamu yg dibenci oleh ibumu, karena tidak memilihku. Maka biarkan aku selamanya undur diri. Maaf, sudah merepotkan dg sifat kekonyolanku. Terimakasih, telah menghadirkan sosok ibu lain yg baik dalam hidupku. Aku selalu mendoakan kebaikan untukmu, juga kebahagiaan ibumu, semoga beliau sehat selalu.













