Memahami Epistaksis (Mimisan): Penyebab, Penanganan, dan Pencegahan
Pendahuluan
Mimisan, atau dalam istilah medis disebut epistaksis, adalah keluarnya darah dari hidung akibat pecahnya pembuluh darah di dalam rongga hidung. Meski seringkali tampak menakutkan, terutama pada anak-anak, mimisan umumnya bukanlah kondisi berbahaya dan dapat ditangani dengan langkah sederhana di rumah.
Bayangkan hidung kita sebagai jaringan jalan raya pembuluh darah. Pembuluh darah…
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perdarahan pasca persalinan adalah resiko yang akan dialami setiap wanita setelah melahirkan. Perdarahan ini biasa diebut dengan nifas atau bisa disebut juga dengan lokhia. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun selanjutnya akan mengalami kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan.
Salah Pijat Sang Buah Hati Sebabkan Perdarahan Otak
Salah Pijat Sang Buah Hati Sebabkan Perdarahan Otak
Kabarmaya.com – Perlunya dilakukan pijat bayi adalah merangsang dan mengoptimalkan tumbuh kembang bayi. Namun tanpa teknik pemijatan yang benar, pijat bayi justru membahayakan, bahkan dapat menimbulkan kematian karena terjadinya perdarahan di otak bayi.
Setidaknya selama 5 tahun terakir 6 bayi telah meninggal dunia di RS Sardjito Yogyakarta karena perdarahan otak akibat kesalahan pijat bayi.…
Myoma adalah suatu tumor jinak yang berasal dari otot rahim, karena itu lengkapnya disebut myoma uteri untuk membedakannya dengan myoma dari jaringan otot yang lain.
Ada 3 macam Myoma dari tempat tumbunya
1. Myoma sub serosa, tumbuh keluar didinding rahim, bahkan bisa punya tangkai
2. Myoma intra mural, tumbuh di dalam dinding rahim
 Wabah virus Ebola yang kembali merebak di Afrika Barat telah menyebar di Sierra Leone, Libera dan Guinea. Dari 1200 kasus yang terkonfirmasi, 672 pasien diantaranya meninggal dunia yang berarti tingkat mortalitasnya 56%.
Memang sebagian besar kasus ditemukan bukan ditemukan di kota-kota besar (baca: buka destinasi wisata). Namun tidak ada salahnya lebih waspada bagi traveler Indonesia yang akan…
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Postpartum haemorrhage, atau yang lebih dikenal sebagai perdarahan pascapersalinan (PPP), masih menjadi penyebab utama kematian ibu. Penanganan yang sigap haruslah menjadi dasar untuk mengatasi kasus kegawatdaruratan obstetri.
WHO mendefinisikan PPP sebagai kehilangan darah sebanyak lebih dari atau sama dengan 500 ml dalam kurun waktu 24 jam setelah melahirkan. PPP dikatakan berat apabila darah yang hilang berjumlah lebih dari 1000 ml, meskipun ketentuan tersebut tidak selalu berlaku. Dalam keadaan khusus, misalnya pada ibu yang anemia, kehilangan darah sebesar 250 ml saja bisa menyebabkan efek yang fatal. Oleh karena itu, derajat keparahan PPP tidak lagi dibatasi oleh jumlah darah yang hilang, tetapi juga oleh perubahan kondisi vital ibu.
Penyebab utama terjadinya PPP adalah atonia uteri, yaitu kegagalan rahim untuk berkontraksi setelah melahirkan. Selain itu, trauma saluran genitalia, ruptur uterus, atau tertinggalnya plasenta juga bisa menyebabkan PPP. PPP penting untuk dicegah karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti anemia dan hipotensi ortostatik.
Prinsip pencegahan yang saat ini marak digunakan adalah manajemen aktif persalinan kala tiga. Sesuai namanya, metode itu dilakukan pada saat persalinan memasuki kala tiga, yaitu ketika dinding rahim mulai berkontraksi dan plasenta lepas. Fase tersebut merupakan periode yang sangat rentan terhadap perdarahan berat, khususnya bila rahim sukar berkontraksi sehingga menimbulkan gangguan pada pembuluh darah plasenta. Manajemen aktif kala tiga dapat membantu mencegah PPP melalui pencegahan atonia uteri. Selain itu, metode ini juga bisa mempercepat pelepasan plasenta sehingga kemungkinan retensi plasenta pun dapat diminimalisasi.
Manajemen aktif persalinan kala tiga merupakan metode yang berlawanan dengan manajemen menunggu, yang lazim disebut penegangan konservatif atau fisiologis. Dalam manajemen menunggu, tenaga medis tidak melakukan tindakan apapun untuk melepaskan plasenta dari rahim. Plasenta dibiarkan keluar secara spontan dari uterus. Dari perbedaan tersebut, terlihat bahwa manajemen aktif lebih efisien untuk mencegah PPP. Namun, pada manajemen aktif, keterampilan petugas kesehatan menjadi elemen yang sangat penting.
Manajemen aktif kala tiga mencakup empat tindakan medis:
Pemberian obat uterotonika
Obat uterotonika adalah obat-obatan yang digunakan untuk membuat rahim berkontraksi dan menghentikan perdarahan. Pemberian obat uterotonika dilakukan secara injeksi dalam waktu dua menit setelah proses kelahiran. Beberapa contoh obat uterotonika yang telah terbukti efektif mencegah PPP adalah oksitosin, ergometrine, syntometrine, prostaglandin, dan misoprostol. Sampai saat ini, oksitosin masih menjadi pilihan utama dalam mengurangi PPP, karena sifatnya yang lebih stabil serta efek sampingnya yang lebih ringan.
Penjepitan tali pusat secara dini
Upaya penjepitan dan pemotongan tali pusat segera setelah bayi lahir merupakan salah satu cara mencegah PPP. Selain itu, penjepitan tali pusat sedini mungkin bisa memberikan kemudahan dalam menjalankan tahap selanjutnya dalam manajemen aktif kala tiga. Akan tetapi, dalam melakukan proses ini kondisi bayi juga patut diperhatikan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa penjepitan tali pusat secara dini dapat meningkatkan kemungkinan gawat napas pada bayi.
Penegangan tali pusat
Penegangan tali pusat harus dilakukan secara terkendali dan berhati-hati, yaitu dengan menariknya ke bawah begitu rahim berkontraksi. Selama proses penegangan, rahim juga diberikan tekanan ke atas dengan cara mendorong perut mencapai pinggang. Hal tersebut dimaksudkan agar plasenta bisa keluar dengan mudah. Jika plasenta belum juga bisa keluar setelah diberikan perlakuan selama 30-40 detik, penegangan tali pusat harus dihentikan. Proses tersebut bisa kembali dilakukan jika kontraksi berikutnya telah muncul.
Pemijatan Uterus
Setelah plasenta keluar, pemijatan uterus dapat dilakukan untuk membuat rahim lebih cepat berkontraksi. Dengan berkontraksinya rahim, perdarahan berat pun bisa dihindari. cinthya.
-Rubrik MA Info. Desk Klinik. SKMA No. 04/XL/Juli-Agustus 2010-