Peran kedua orang tua dalam pengasuhan
Berbicara tentang anak-anak selalu menjadi perbincangan yang menarik bagiku beberapa waktu ini. Tepat satu tahun Allah berikan kesempatan untuk berkiprah di bidang pendidikan dimana ada anak-anak yang mengisi keseharian. Berinteraksi dengan mereka memberikan sebuah modal pembelajaran yang berharga ketika akan menjadi orang tua. Dari mereka banyak belajar bahwa kita tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang mana, tetapi kita bisa menentukan menjadi orang tua seperti apa nantinya kelak.
Setiap anak pastinya memiliki latar belakang yang berbeda-beda terutama dalam peran orang tua dan pola asuhnya. Keterlibatan kedua orang tua dan cara pola asuhnya ternyata sangat berpengaruh kepada psikis maupun mental anak.
Teringat perkataan psikolog sekolah ketika menerima hasil konsultasi salah seorang murid. Katanya “Tidak ada pola asuh yang dominan, ayah dan ibu harus sama-sama punya peran yang seimbang terhadap anaknya. “ Dengan kata lain suami dan istri punya andil yang sama untuk membimbing anak, tidak istri saja dan juga tidak suami saja.
Banyak buku yang mengatakan bahwa yang paling berperan dalam proses perkembangan anak adalah seorang ibu, tentu ini membuat seorang ayah menjadi sosok yang terlupakan dalam proses perkembangan anak.Dan Jika melihat lingkungan saat inipun justru yang banyak kita temui adalah istri yang berperan dalam mengasuh anak. Sementara peran suami untuk mencari nafkah kepada anak dan istri. Peran suami dalam pergasuhan anak seolah hilang karena tanggung jawab ayah untuk mencari rezeki .
Jadi idealnya ayah dan ibu harus sama-sama mempunyai peran dalam pengasuhan anak dengan saling melengkapi satu sama lain sebagai pelengkap bagi anak-anaknya dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana dalam Alquran ada beberapa tokoh dimana seorang ayah tidak melupakan perannya dalam pengasuhan anak. Seperti halnya Nabi Ibrahim sebagai ayah Nabi Ismail, disamping Siti Hajar mengasuh anaknya, nabi Ibrahimpun sama mengambil peran dalam pengasuhannya.
Jadi Mas nantituh harus bareng-bareng yhaaaa..whehehe
Rabbi hab lii min ladunka dzurriyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa