Sejatinya manusia itu rapuh, butuh penopang vertikal (Penciptanya) dan horizontal (manusia dengan manusia lainnya). -HI-
seen from United States
seen from Germany

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Maldives
seen from Maldives
seen from Germany

seen from United States

seen from United States
seen from Ukraine
seen from United States
seen from Switzerland
seen from Austria
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
Sejatinya manusia itu rapuh, butuh penopang vertikal (Penciptanya) dan horizontal (manusia dengan manusia lainnya). -HI-

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dalam hidup ini, setiap orang membutuhkan sahabat yang seperti di gambar ini. Ketika kamu susah, maka aku akan menjadi penopang; ketika aku susah, dia akan menjadi penopang; ketika dia susah, kamu akan menjadi penopang. Kalau kamu memiliki sahabat seperti ini, hidup tidak aka nada penyesalan! #repost #sahabat #susah #penopang #senang #kebersamaan
Tangan Kecil Tuhan
Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya merasakan tangan Tuhan bekerja untukku..
Hari ini Jumat, 7 Maret 2014. Aku menjalani hari seperti biasa. Walaupun hari ini tidak ada jadwal kuliah, tapi tuntutan organisasi membuatku harus tetap ke kampus di hari jumat ini.
Jam sembilan pagi aku sudah berada di sekre HMJM untuk pergi ke Purbalingga. Aku dan Rofi memasukkan proposal visit company dan juga menyerahkan surat pengantar dari fakultas untuk kegiatan tersebut ke dua perusahaan bulu mata, yaitu Royal Korindah dan Sung Chang.
Tidak seperti biasanya, aku yang suka datang 5-10 menit lebih dari jam yang ditentukan, hari ini aku bisa datang bahkan sebelum jamnya. Padahal aku berangkat dari rumah sudah mendekati jam yang ditentukan. Tapi entah bagaimana caranya, dalam perjalanan ke kampus tidak mengalami halangan yang berarti, seperti berhenti karena lampu merah ataupun kondisi jalan yang memang sedang ramai. Perjalananku ke kampus cukup lancar dan itu membuatku datang lebih cepat dari jam yang ditentukan.
Setelah bertemu Rofi dan mengadakan sedikit briefing, kami langsung bergegas menuju Purbalingga. Kami ke Royal Korindah terlebih dahulu. Disana kami disambut dengan ramah oleh managernya, Pak Wawan. Beliau menerima surat pengantar dan proposal yang kami berikan. Bahkan, beliau akan memberikan konfirmasi pada hari Senin atau Selasa. Sungguh tidak terduga olehku sebelumnya, akan sangat lancar seperti ini.
Tapi tidak untuk perusahaan Sung Chang. Pada saat saya membuka pintu gerbangnya dan menyuruh Rofi untuk memasukkan motornya juga, tiba-tiba ada seorang satpam yang menegur kami dengan keras dan menyuruh Rofi untuk mengeluarkan motornya karena tidak sesuai dengan peraturan perusahaan tersebut. Aku heran dengan perlakuan satpam itu, begitu galaknya dia. Aku jadi tidak enak dengan Rofi yang terkena omelannya juga.
Aku lebih bingung lagi, ketika aku sedang berpikir saat ini, kenapa di saat aku dimarahi oleh satpam itu, aku tidak mengeluarkan mimik muka yang tidak suka ataupun bibir yang mencibir. Aku masih ingat di saat tadi aku dimarahi, aku malah tersenyum dan tidak mengeluarkan kata-kata dari mulutku. Kemudian aku mengikuti satpam itu untuk duduk di pos satpam.
Aku tidak lepas dari pertanyaan berasal darimana, ingin bertemu dengan siapa, dan keperluannya apa. Satpam itupun bertanya demikian. Aku menjawabnya dengan santai, tenang, dan tersenyum. Tidak ada raut marah ataupun sebel sama satpam itu karena sudah memarahi aku dan juga Rofi. Satpam itu pun sudah tidak segalak tadi saat kami masuk.
Aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya merasa Tuhan yang melakukannya..
Jam sudah menunjukkan di angka sepuluh. Waktunya aku pulang ke rumah setelah seharian ini berada di kampus. Sebelum sampai di rumah aku sempatkan sebentar untuk mengisi bensin.
Di dompet aku ada lima belas rupiah. Aku rasa itu cukup untuk isi penuh tanki motorku. Tapi ternyata ketika karyawan pengisi bensin sudah hampir selesai mengisikan bensin di motorku, dia mengatakan padaku kalau harganya dua puluh ribu.
Aku langsung mencari uang lima ribu lagi untuk membayar bensin. Tapi ternyata aku tidak menemukan uang lima ribu itu. Akhirnya aku mengambil uang di bank. Di pom bensin itu tidak ada BNI, dan hanya ada BRI dan juga Mandiri.
Sebelum saya masuk ke salah satu ATM, saya cukup takut dan bingung, apakah mesin ATM itu bisa digunakan sebagai ATM bersama. Tapi akhirnya aku beranikan diri untuk masuk BRI. Dan ternyata, aku bisa ambil uang lima puluh ribu untuk membayar bensin.
Aku tidak tahu bagaimana Tuhan mengirimkan bantuan-bantuannya untukku. Tapi yang aku yakini, Tangan Tuhan selalu menopangku. Terima kasih Tuhan :)